Hukuman Mesum

Sekitar tahun 2014, seorang teman bercerita padaku tentang sepasang remaja yang ketahuan berhubungan seksual di tempat umum. Malam hari, mereka asyik memuaskan hasrat di tengah semak-semak, di sebuah kawasan wisata. 

Apes, mereka ketahuan oleh  warga yang sedang ronda. Mereka diminta telanjang, berhubungan seksual, lalu direkam oleh orang-orang itu. 

Ekspresi pertama saya, kaget. Saya mungkin terlambat mengetahui cerita gila semacam ini. Masyarakat seperti apa yang ada di sekitar kita? Itu yang saya pikirkan selanjutnya. 

Iya, masyarakat seperti apa? Mereka menggerebek ‘pasangan tak resmi’ yang melakukan hubungan seksual. Tapi mereka melakukan pemerkosaan terhadap keduanya dengan memaksa mereka berhubungan dan menjadi tontonan. Mereka semakin gila dengan merekamnya. 

Sebagian masyarakat mungkin akan berpendapat itu konsekuensi, hukuman moral, cara membuat jera, dan sebagainya. Tidak, itu hanya bentuk kegilaan lain. 

Apakah karena seseorang bersalah, orang lain boleh melakukan kesalahan juga? Apakah karena kamu dipukul kamu harus memukul? Karena saudara kamu dibunuh, lalu kamu berhak membunuh? 

Jika ya, kapan rantai kekerasan, pencabulan, pembunuhan, dan berbagai kejahatan lain akan berhenti? 

Masih segar cerita ketika seorang remaja dihukum, diarak telanjang. Ia malu hingga mencoba bunuh diri. Ada juga pelaku kejahatan yang diminta membuka pakaian hingga tinggal celana dalam berbentuk segitiga, dipajang didepan orang, difoto, dan disebarkan. 

Sebagian masyarakat yang sangat moralis beranggapan bahwa pemenuhan kebutuhan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan standard mereka tidak bisa diterima. Jika ada yang melakukan zina, maka 40 rumah di samping kanan-kiri akan ikut menanggung dosanya. Karenanya, mereka merasa punya tanggung jawab sangat besar untuk menghilangkan praktik semacam ini. 

Pihak lain berpikir kebutuhan dan pemenuhan seksual adalah ranah pribadi. Karenanya masalah seksual tak seharusnya masuk ranah hukum. Misalnya, chat seks habib rizieq dan firza husein seharusnya tak dimasukkan ranah hukum, begitu pula kasus yang sudah lama antara ariel peterpan dan luna maya. 

Tentu ada pengecualian. Itu bisa dibawa ke ranah hukum ketika ada unsur pemaksaan atau pemerkosaan, kekerasan, hubungan seks dengan anak di bawah umur, dustribusi konten porno, dan sebagainya. 

Bagi saya, keduanya tidak menjadi masalah. Kaum moralis seharusnya memgetahui batasan mereka. Misalnya untuk tetap menerapkan praduga tak bersalah, menghormati hak asasi mereka, tetap memperlakukan sebagai manusia, melakukan cara-cara yang baik, melakukan pembinaan, dan sebagainya. Kelompok lainnya seharusnya pun mempertimbangkan dampak dari aktivitas ranah pribadi ini terhadap masyarakat luas. 

Saya rasa cukup susah kita menyuburkan ironi yang selama ini terjadi. Tak ada ruang bagi kaum moralis, jika dengannya mereka merasa boleh melakukan tindakan atau hukuman amoralis kepada kelompok yang mereka anggap amoralis. 

Saya lagi-lagi teringat nasihat Pramoedya Ananta Toer. Sepertinya, kalimat ini sangat ampuh dalam banyak hal. “Adillah sejak dalam pikiran, apabila perbuatan.”

Advertisements

Author: handataulan

I am a journalist and a former teacher. I do love reading, writing, and sharing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s