​Do we need to label a literary work as good or bad?

Mungkin salahku adalah, aku mendengar anak itu mengeluarkan begitu banyak judgement. Menilai karya ini begini begitu. Sebagian dengan penilaian bagus atau tidak. Sebagian menilai penulis A bagus atau tidak.

Yang pertama kutanyakan pada pakdhe hari itu, sebenarnya hanya untuk bahan pembicaraan ringan, mengapa kita perlu menjudge suatu karya itu bagus atau tidak? 
Sejak pertama kali berkenalan dengan karya sastra, aku tidak pernah mendengar senior-senior atau teman menghakimi suatu sastra bagus atau tidak. 
Kalaupun ada, itu hanya pendapat pribadi. Seniorku pernah bilang “49 Hari” karya Rabindranath Tagore itu bagus pakai banget, tapi ketika kubaca sampai akhir…aku kecewa sudah berekspektasi terlalu tinggi gara-gara kata-kata senior itu. Orang bilang Laskar Pelangi bagus, tapi aku mencoba membacanya beberapa kali dan tak pernah lewat dari Bab 1. Haruskah aku bilang buku itu bagus hanya karena orang-orang bilang buku itu bagus? Atau aku harus bilang buku itu jelek, padahal direkomendasikan di beberapa universitas? 
Jadi sebenarnya apa ukuran karya itu bagus dan tidak? Perlukah kita mengatakan suatu karya bagus, lalu semua orang harus membaca karya itu? Lalu kita bilang suatu karya jelek, lebih baik orang tidak membaca karya itu? 
Salah satu dosen kami pernah bilang, memang tidak ada benar dan salah dalam karya sastra. Tapi, kita bisa melihat nalar seseorang dari caranya menganalisa. Maka yang dipelajari adalah bagaimana kita mempertanggungjawabkan argumen kita. Jadi kritik sastra itu sering kali lebih menunjukkan kitanya, si pengkritik, bukan karyanya. Suatu karya kalau sudah dilepas ke publik, interpretasinya kembali ke publik. 
Karena itu kritik sastra jarang berakhir dengan judgment bagus atau tidaknya sebuah karya. Atau benar atau tidaknya. 
Pakdhe bilang, “itu karena ranahnya kritik sastra. Kita perlu memahami siapa yang dihadapi. Yang ini kan anak-anak yang tidak sedalam itu pemahamannya tentang sastra. Jadi perlu diberi petunjuk mana karya yang bagus dan yang tidak.”
Nooo… artinya kita sudah memosisikan diri sebagai yang lebih tahu dari ‘mereka’? Kritikus sastra tidak membicarakan soal bagus atau tidak, bukan karena mereka sudah paham mana yang bagus dan mana yang tidak. Tapi memang label bagus atau tidak bagus itu mungkin tidak perlu.
Dalam taraf belajar mencintai karya sastra, bahkan tidak perlu menunjuk karya sastra itu baik atau tidak, kecuali hanya sebagai opini. Pakdhe bilang karya Linda Christanty bagus, aku bilang tidak. Itu hanya pendapat pribadiku dari sisi bahasa (terutama karena Pakdhe menyandingkannya dengan SGA). Kita belum bicara soal tema, soal teknik menulis, dll.
Dan itu hanya dari satu karya yang Pakdhe tunjukkan. Karena itu aku berkali-kali bilang, jangan-jangan yang Pakdhe tunjukkan bukan karyanya yang ‘bagus’. 
Balik lagi dalam taraf belajar. Justru dalam taraf belajar dulu agak tabu untuk bicara bagus atau tidaknya karya. Kami hanya disuguhi beberapa cerpen, lalu kami diminta mengomparasikan karya yang satu dan yang lain. Kalau tidak salah, Hamsad Rangkuty dan Budi Dharma. 
Tanpa diskusi itu, mungkin aku hanya akan melihat “Maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu?” sebagai karya yang menceritakan perselingkuhan dosen dan mahasiswa. Yo wis itu saja. 
Apa menariknya dua orang yang berselingkuh, duduk berdua menikmati kelapa muda? 
Tapi kami belajar lagi tentang bagaimana Hamsad Rangkuty membuat judul. Orang percaya judul itu harus pendek. Tapi ia membuat judul yang panjang dengan kata berulang. Katanya judul panjang membuat orang cepat lupa, tapi judul cerpen Hamsad Rangkuty justru nempel di kepala. 
Lalu kami belajar tentang cerita dalam cerita. Sebagian teman awalnya menganggap cerita sisipan yang ia taruh di awal itu sebagai yang utama. Mereka lupa bahwa cerita itu sejatinya hanya bercerita tentang perselingkuhan. Dan kami sepakat bahwa cerita sisipan itu lebih hidup daripada cerita aslinya. 
Ok ini bukan teknik yang baru, tapi ia menggunakan teknik itu dengan tepat, sehingga cerita perselingkuhan yang biasa-biasa saja bisa diramu menjadi kisah yang lebih hidup. Kita tidak bilang teknik menulis ini bagus, tapi teknik ini digunakan pada saat yang pas, pada cerpen yang tepat. 
Kita belajar tentang deskripsi suasana yang kuat. Ia menggambarkan pergolakan batin perempuan yang ingin bunuh diri itu. Betapa ia ingin membuang semua hal dari laki-laki yang membuatnya ingin bunuh diri, tapi ia tidak mampu. Karenanya ia membuang segala yang melekat pada dirinya, hingga membuang dirinya sendiri. 
Nggak cuma Hamsad Rangkuty yang punya deskripsi kuat, tentu saja. Tapi dari karya itu ternyata kita bisa belajar banyak mulai dari judul, teknik, deskripsi, dll. 
Dari situ kita jadi penasaran. Tidak perlu bilang karya itu bagus atau tidak, kita bisa menilai sendiri. Kadang yang tampak buruk di satu sisi, ternyata di sisi lain sangat bagus. 
Trus zaman dulu ada karya anak SMA. Dia menerbitkan bukunya sendiri. Aku lupa judulnya. Novel berbahasa Inggris. Bahasa Inggrisnya nggak sempurna. Ceritanya biasa saja. Tapi aku nggak bisa bilang karya itu jelek. Di zaman itu tidak banyak penulis anak yang berani menulis novel berbahasa Inggris, lalu berani menerbitkannya. Entah di bawah penerbit ternama atau indie. I really appreciate that. Dan sangat tidak arif untuk membandingkannya dengan karya anak-anak yang berbahasa Indonesia. Atau karya berbahasa Inggris di luar negeri. Itu kaya membandingkan sesuatu yang bukan pada tempatnya dibandingkan.
Kalau aku pribadi merasa, sastra itu karya seni. Bagaimana menilai sebuah lukisan abstrak bagus? Kadang dia cuma coretan saja, tapi dibilang bagus. Kita bisa bilang bagus karena kita menafsirinya dengan indah-indah. Kadang karya sastra juga begitu. 
Apa bagusnya puisi “Tragedi Winka dan Sihka” kalau kita tidak paham cerita di belakangnya? Maka kalau menurutku, ketimbang memulai dengan bagus tidaknya, lebih nikmat memaknai karya itu. Bahkan setelah memaknai, kadang juga ndak perlu menyimpulkan bagus atau tidak. Kecuali hanya sebagai pendapat pribadi. Atau kita jadi juri, boleh lah. Tapi juri pun hanya memilih yang ‘lebih’ dibanding yang lain kan? 
Menilai suatu karya bagus atau tidak juga kurang arif karena karya seni itu kaya lautan yang dalam atau semesta yang luas. Kadang kita hanya menapakinya sepetak, yang berpetak-petak lagi tak tampak. Bagaimana kalau kita bilang karya itu jelek, sehingga orang nggak mau mengeksplor lagi? Padahal ketika dieksplor, mungkin dia bisa menyelami lebih dalam. Bukan berarti karena dia lebih muda, lebih belakangan masuk, lebih junior, kemampuannya menyelami karya tidak lebih bagus dari kita kan? 
Di sinilah sebuah karya seni tidak bisa dilihat seperti ilmu pasti. Setahuku, alat-alat yang ada, seperti berbagai pendekatan, bukan diciptakan untuk menilai karya sastra bagus atau tidak. Lebih untuk membantu kita memahaminya. 

Advertisements

Author: handataulan

I am a journalist and a former teacher. I do love reading, writing, and sharing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s