Berdebat Soal Kalimat Panjang

Ada dua hal yang kami bicarakan malam itu. Pertama, tentang kalimat yang panjang, yang kemudian dikaitkan dengan karya terjemahan. Kedua, tentang perlu atau tidaknya melabeli sebuah karya sastra bagus atau tidak.

 

Aku seperti dibawa dalam kenangan sepuluh tahun lalu ketika masih duduk di ruang diskusi, menguliti karya sastra satu per satu. Tak banyak karya sastra kubaca. Bahkan hari ini semakin sedikit. Dan di titik ini aku merasa, membaca karya sastra itu sesederhana menyelesaikannya hingga kalimat terakhir. Nggak perlu ndakik-ndakik membahas secara struktural, psikologis, dan lain-lain. Bisa menyelesaikannya saja Alhamdulillah. Hahaha…

 

Balik ke diskusi, kedua tema itu itu awalnya dimulai dariku. Kok yo aku harus mulai mempermasalahkan itu? Mbuh…haha

 

Awalnya Uda Gita datang, duduk bersama kami yang tak jadi ke pantai. Dia membawa beberapa lembar naskah calon buku. Aku nyelonong meminjam lalu membacanya. Lha aku penasaran kok.

 

Aku masih ingat, kalimat panjang itu adalah kalimat kedua. Sekitar tiga baris lebih beberapa kata. Kalau beberapa kata ini dihitung, kalimat itu terdiri dari lima baris.

 

Pakdhe men-skak aku dengan mengatakan aku terpengaruh gaya bahasa jurnalistik. Apa yang kubaca dan kutulis tiap hari adalah produk jurnalistik. Karenanya, aku merasa kalimat itu harus pendek. Sebab, kalimat jelas, singkat, dan padat merupakan bagian pakem dari aturan bahasa jurnalistik.

 

Tidak, Pakdhe. Aku segera meralat kata-kataku. Ini bukan soal panjang dan pendek. Bagiku ini soal rasa, selera, dan ‘aliran’ (flow) dalam membaca. Makanya ketika aku mengkritik kalimat-kalimat sangat panjang yang kutemukan di tulisan itu, lalu oleh beberapa orang dikatakan tidak apa-apa kalimat itu panjang, aku diam.

 

Diamku dalam hal ini pertanda, “It’s ok. Ya sudah. Ndak papa. Ndak masalah. It is only a choice.”

 

Bagiku, yang kuyakini selama ini, kalimat-kalimat pendek lebih mudah dipahami. Ia memberikan aliran tersendiri dalam ritme membaca. Ia memberikan jeda, sehingga membaca tidak terasa berat. Ia memberikan kesempatan bagi otak untuk memilah gagasan-gagasan yang ada dalam satu kalimat, sehingga tidak tumpang tindih, tidak mengaburkan satu sama lain.

 

Ketika Pakdhe berkata, “Memangnya kenapa dengan kalimat panjang? Aku tidak masalah dengan kalimat panjang.”

 

Aku tidak punya argument lain. Ibaratnya kalau harus menjawab, aku akan bilang, “Ya sudah kalau Pakdhe nyaman membaca kalimat panjang. Aku tidak nyaman dengan kalimat sepanjang itu.”

 

Aku tidak bisa mengatakan, “Kalimat panjang itu membuat orang berpikir lebih berat.” 

 

Kenyataannya Pakdhe tidak berpikir begitu kan? Kalau aku mau mengatakan kebanyakan orang akan berpikir lebih berat ketika membaca kalimat panjang, aku harus membuktikan itu dengan survei atau penelitian yang lain. Aku ndak punya.

 

Bahkan kalaupun ada yang bisa membuktikannya dengan survei, aku tidak bisa menafikan bahwa ada orang-orang yang menyukai hal di luar yang mainstream. Dan setiap penerbit punya warna sendiri yang ingin dibawa, pembaca yang menjadi target, dan idealisme yang ingin dipegang atau dipertahankan.

 

Di situ letak ‘ndak masalah’-nya.  

 

Dan di situlah menariknya ilmu bahasa, budaya, sastra. Kita tidak perlu beradu pandang untuk menemukan satu kesepakatan. Ya mungkin dalam hal tertentu ada, tapi dalam banyak hal kita tidak perlu sepakat.

 

Kupikir semua sudah selesai ditelan meja kotak, kartu uno, bau bangkai, dan rasa kantuk malam itu. Kami pindah di bagian depan, di pojok Kafe Semesta.

 

Lalu Pakdhe mengajukan tema itu lagi. Kenapa kalau kalimat panjang? Aduh, kan aku tidak bilang harus panjang. Tapi buatku, tidak sepanjang itu juga.

 

Ini pengalamanku membaca kalimat panjang itu. Aku menikmati kalimat pertama. Ringan, enak dibaca, dan mudah dipahami. Lalu aku bergerak pada kalimat kedua. Awalnya masih enak dibaca, lalu aku bertemu koma, masih bisa dibaca, bertemu koma lagi, mulai hilang konsentrasi, lalu di akhir kalimat aku berhenti dengan pikiran, “Aku nggak paham. Dan aku malas membacanya untuk kedua kali. It takes my time.”

 

Tapi lagi-lagi, itu pengalamanku. Kalau Pakdhe dan orang lain punya pengalaman berbeda, kalau para pembaca lain pun begitu, it’s ok. Aku akan memilih buku lain yang nyaman buatku. Atau kalau memang isi buku itu sangat menarik untuk diketahui, aku akan mengalahkan kesulitan itu untuk membacanya.  

 

Nah pandangan bahwa aku terpengaruh oleh sisi jurnalistik itu bisa dibilang sebagai adhominem. Aku tidak bisa berbohong bahwa jiwa jurnalistikku akan memengaruhi beberapa aspek kehidupan. Misalnya, aku akan lebih skeptis, lebih banyak bertanya, dan sebagainya. Tapi tidak dalam semua hal aku njuk kaya wartawan -,-

 

Begini, beberapa alasan di awal sudah kusampaikan. Kenapa kalimat pendek? Bagiku dan bagi beberapa orang yang setipe denganku, kalimat pendek lebih mudah dipahami, lebih efektif, tidak melelahkan. Kalau bisa satu kalimat itu dibaca satu napas.

 

Apakah ini kaidah jurnalistik? Tidak juga. Zaman dahulu, tidak hanya kaidah jurnalistik yang mengajarkan kalimat singkat, padat, dan jelas. Dalam pelajaran bahasa Indonesia pun diajarkan bahwa kalimat efektif adalah kalimat yang mudah dipahami, singkat, padat, dan jelas.

 

Bagaimana dengan kalimat jurnalistik di masa ini? Jurnalisme sudah berkembang begitu jauh. Kita mengenal jurnalisme sastrawi yang bahasanya terkadang mendayu-dayu. Ada jurnalisme data yang bermain dengan tabel-tabel, diagram, dan sebagainya. Ada jurnalisme warga, yang bentuknya terkadang sangat bebas. Banyak lagi lah, aku juga belum khatam memelajarinya. Jadi ini bukan soal jurnalisme.

 

Nah, karena ini soal keterbacaan, aku menyimpulkan kemampuanku membaca tidak secanggih orang lain yang mampu membaca kalimat panjang. Jadi kalau ada orang yang nyaman dengan kalimat-kalimat panjang, it’s ok.

 

Mari bergeser pada bahasan 1a, yaitu kalimat panjang dalam karya terjemahan. Orang punya alasan masing-masing dalam menerjemah. Ini terkadang menentukan hasil terjemahan. Dan berbeda itu tidak apa. Mungkin ini yang harus berkali-kali kuucapkan pada diri sendiri dan pada orang lain. Tidak ada aturan saklek, termasuk dalam menerjemah.

 

Untuk karya yang dipublikasi, jumlah buku yang terjual mungkin akan menunjukkan seberapa buku itu mampu menarik. Walaupun, promosi, sampul/perwajahan, jenis kertas, dan lain-lain juga akan berpengaruh. Selain itu, feedback dari pembaca juga menentukan.

  

Dalam karya terjemahan, tujuan utama menerjemahkan suatu tulisan adalah untuk menyampaikan ide dan gagasan penulis aslinya. Kalau sebuah karya terjemahan tidak mampu menyampaikan gagasan penulisnya, untuk apa diterjemahkan? Itu seperti yang Mas Ahmad bilang. ‘Minimal’ sebuah karya terjemahan itu bisa dipahami saja, kita harus sudah mengapresiasi. Kalau tidak ada yang mau menerjemahkan karya orang dari bangsa lain, pengetahuan kita hanya akan berkutat di sini-sini saja.

 

Ada banyak karya yang dalam bahasa aslinya memiliki kalimat sangat panjang. Banyak koma dan banyak penjelasan dalam tanda penghubung –kaya gini. Buat saya, tak ulang lagi, bukan panjang pendeknya yang utama. Tapi keterbacaannya. Kemampuannya dipahami. Kalau dalam kalimat super panjang, seperti aslinya, ia menjadi sulit dipahami, kurasa tak ada salahnya diperpendek. Secara teknik, melakukan parafrase atau memecah kalimat menjadi beberapa bagian itu ‘legal’ kok. Selama tidak mengubah arti.

 

Jika dengan cara itu kalimat jadi lebih enak dibaca, lebih mudah dipahami, maknanya lebih mudah tersampaikan, ‘flow’nya lebih dapet, kenapa tidak? Maksud saya, memendekkan kalimat bukan sesuatu yang ‘haram’ dalam ilmu menerjemah. Dan dalam beberapa kasus yang pernah kualami, suatu kalimat yang saangat panjang kadang memang perlu dipecah.

 

Berbeda lagi dengan karya sastra. Saya termasuk yang tidak berani menerjemahkan karya sastra. Karena itu ketika Mas Olih bilang ada beberapa cerpen, saya cepat bilang NO. Menerjemahkan karya sastra butuh perjuangan lebih. ‘rasa’ sastra, taste of the masterpiece itu sulit dituangkan dalam karya terjemahan. Pandangan bahwa “minimal” sebuah karya terjemahan itu mudah dipahami menjadi agak-perlu-dikesampingkan.

 

Kenapa? Karena bahasa tak bisa dipisahkan dari pola masing-masing bahasa. Aduh apa istilahnya ya? Struktur, tenses (untuk bahasa Inggris), gender, kosakata, latar belakang budaya, bahkan mungkin sejarah bahasa itu sendiri. Itu menjadikan setiap bahasa punya cirri khas dan rasa tersendiri.

 

Belum lagi bicara soal karya sastra. Ia pun kental dengan latar belakang si penulis, tempat, waktu, dan sebagainya. Bagaimana mempertahankan semua unsur itu dalam karya terjemahan? Menurut saya, yang bisa dilakukan hanya mendekati. Sebagus-bagusnya karya terjemahan hanya mampu mendekati rasa karya aslinya. Tapi ia tak akan pernah menggantikan atau menyamainya.

 

Saya tidak bisa menyalahkan jika ada orang lebih memilih membaca karya terjemahan yang mudah dipahami daripada karya aslinya yang sulit dimengerti. Tergantung tujuan membacanya. Kalau tujuannya memahami, ya mending membaca terjemahannya. Apalagi kalau kemampuan kita memahami bahasa asing terbatas. Saya ndak ngerti bahasa Arab. Maka ketika redaktur saya mampu menjelaskan isi buku berbahasa Arab, saya senang sekali. Tapi rasa skeptis saya naik 75%. “Memang begitu, atau dia memahaminya begitu?”

 

Nah, kalau kita menginginkan feelnya, ingin menyelami pemikiran si penulisnya secara lebih dekat, atau dalam taraf tertentu ingin memahami karakter asli si penulis, ya kudu baca aslinya. You will never got it except you read the real masterpieces. Satu-satunya ya dari buku aslinya.

 

Menurut saya, cara terbaik menikmati karya terjemahan adalah memperlakukannya sebagai karya terpisah dari yang asli. Nah ini jadi pertanyaan lagi. hahaha. Maksud saya bukan tidak mengaitkan sama sekali dengan karya asli. Ibarat menonton film yang kisahnya diambil dari novel deh. Biar nggak mencak-mencak, perlakukan film itu seperti film yang terinspirasi dari novel. Sementara novelnya adalah novel yang mampu menginspirasi orang untuk membuat film. Bukan novel yang film atau film yang novel. Ya gitu lah pokoknya. Hahahah

 

Buku terjemahan juga gitu. Buku asli dan buku terjemahan adalah dua karya yang berbeda. Karenanya, walaupun kita sudah membaca buku Noam Choamsky yang terjemahan, di daftar pustaka kita tidak boleh memasukkan karya Noam Choamsky asli seakan-akan kita sudah membacanya. Yang dimasukkan ya nama penerbit terjemahannya kan?

 

Nah, ketika ngomong soal pola bahasa itu. Saya bingung mencari istilah yang tepat sih. Mungkin lebih tepatnya ‘rasa/feel’ kali ya, yang di dalamnya ada struktur, kosakata, tenses, kultur, dll. Ketika sedang membahas itu, tiba-tiba Pakdhe menyebut soal kata tertentu yang tidak ada dalam bahasa lain. Misalnya benda, hewan, bunga tertentu. Pakdhe mencontohkan kata “spork” yang merupakan gabungan spoon dan fork.

 

Sebenarnya itu pembahasan yang berbeda dari yang kumaksud. Tidak sepenuhnya berbeda sih. Kosakata dan pilihan kata atau diksi adalah bagian kecil yang membentuk rasa. Setahu saya, ada beberapa cara untuk menerjemahkan yang seperti ini. Misalnya, pertama, mempertahankan istilah itu dalam bentuk aslinya. Saya termasuk yang tidak masalah kalau orang mempertahankan kata asli dalam bahasa asing dengan tanda kurung. Dengan catatan, tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkan makna aslinya. Atau dia tidak menemukan. Daripada dia mengganti dengan kata bahasa Indonesia yang asal-asalan, nggak pas, nggak papa pakai tanda kurung. Buat saya ini bukan “biar kelihatan pintar.” Kadang memang ada kata-kata yang tidak ada istilah tepatnya. Akan lebih indah lagi kalau si penerjemah berjuang mencari kata yang sepadan. Tapi ya, nggak bohong kadang penerjemah juga dikejar deadline tah?

 

Kedua, dicari padanan yang paling mendekati dalam bahasa Indonesia. tujuannya agar lebih mudah dipahami, lebih enak dirasa-rasa dengan cita rasa Indonesia. Ya di satu sisi bagus. tapi dalam pelaksanaannya kadang ndak bagus. Misal asuransi kesehatan njuk diterjemahkan jadi BPJS, kan nggak lucu. Atau wombat, binatang khas Australia trus disebut marsupial. Padahal marsupial khas Australia kan banyak, dan wombat cuma salah satunya. Ketika dipertahanankan, kadang, hanya dengan kata ‘wombat’ saja kita tahu seting cerita itu ada di Australia. Ya semacam itu lah.

 

Ketiga, bisa dijelaskan dengan deskripsi. Misal spork. Tidak ada kata yang tepat untuk menggantikan kata spork. Tapi bahasa Indonesia mengenal kata sendok dan garpu. Ya udah dijelasin aja kalau spork itu gabungan sendok dan garpu. Atau alat makan yang satu ujungnya sendok, ujung lainnya garpu. Atau kita bikin singkatan juga jadi serpu. Wkkwkwkw. Kata lain, misalnya kebelet. Kita nggak punya kata plek dalam bahasa Inggris yang artinya kebelet. Tapi “aku kebelet” bisa dijelaskan dengan “I wanted to pee,” “I need to pee,” “I neet to go to the bathroom,” dan lain-lain. kalau kebelet kawin? Lain lagi.

 

Nah, Uda Gita sempat bilang, kalau ada kalimat yang panjang, banyak koma, kalau perlu dipertahankan ya dipertahankan. Trus setiap bahasa punya kata yang mudah, sedang, berat, jangan karena kita ingin tulisan itu mudah dipahami lalu kita memakai kata yang mudah, padahal naskah aslinya kata itu berat.

 

Iya, itu soal feel tadi. Makanya aku koreksi di awal bahwa masalahnya bukan soal panjang pendeknya. Terkadang bentuk panjang itu perlu dipertahankan. Tapi ketika itu mengganggu flow atau proses pemahaman, memotong kalimat bukan suatu yang haram. Soal diksi juga sudah dibahas tadi. Kenapa banyak karya sastra kehilangan ‘rasa’, dan setelah ditelaah ternyata kata-kata canggihnya diterjemahkan menjadi kata tidak canggih? Kurasa itu bukan karena penerjemah ingin membuatnya mudah dipahami, tapi lebih pada kemampuan si penerjemah dalam menemukan kata yang sepadan.

 

Soal bagus atau tidak karya sastra kutulis lain waktu kalau ingat :p

 

Advertisements

Author: handataulan

I am a journalist and a former teacher. I do love reading, writing, and sharing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s