Uncategorized

​Mencari Jalan Pulih

Fermy Nurhidayat (44 tahun) telah 17 tahun hidup dengan gangguan afektif bipolar. Ahad (21/5), kami duduk berhadapan di sebuah beranda bekas kafe, di daerah Condong Catur, Yogyakarta. Usai pertemuan Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Yogyakarta, ia menceritakan kisah pahitnya mencari kepulihan kepada saya. 
Sejumlah pengobatan, dari yang medis hingga nonmedis, telah ia jalani. Puluhan juta telah dihabiskan dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain. Perlakuan tak manusiawi dia alami selama berbulan-bulan di sebuah panti rehabilitasi. Penyakit menular seksual dan hernia sempat bertandang ke tubuhnya dalam proses pencarian tersebut. 

Namun ia tak menyerah. Setelah berpindah dari satu pengobatan ke pengobatan lain, mengonsumsi beberapa butir obat setiap hari, ia kini harus berdamai dengan sang pengganggu. Ia menjadi akrab dengan fase manic dan hypo-manic yang terjadi. Ketika masuk fase manic, ia bisa begitu aktif. Ia menulis tanpa henti, bahkan tidak tidur. Namun, jika masuk fase hypo-manic, ia bisa ambruk begitu saya. Seperti karung beras, katanya. 

Belakangan saya tahu Fermy juga mengalami Post Traumatic Stress Disorder, suatu kondisi kesehatan mental yang dipicu oleh peristiwa mengerikan yang pernah ia alami. “Saya sekarang kalau cerita begini sudah biasa saja. Karena saya sudah sering cerita. Dulu saya rasanya ingin marah setiap mengingat kejadian-kejadian itu,” Fermy berkata sembari tersenyum. 

Perkenalan Fermy dengan gangguan jiwa berat berawal dari adu pendapat dengan seorang dosen di kampus. Ia dulu mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik UGM. Ia takut dikeluarkan dari kampus setelah insiden itu, lalu memilih mengurung diri di kamar. 

Setelah sepekan, Fermy mulai berhalusinasi.   Ia merasa ada orang yang ingin membunuh. Tak ingin mati konyol tanpa ketahuan oleh orang lain, ia berlari ke tempat yang ramai di kawasan Tugu Yogyakarta. Ia di situ selama beberapa hari. 

Peristiwa itu memaksa orang tua Fermy datang ke Yogyakarta. Ia dibawa ke Rumah Sakit (RS) Ludira Husada Tama Yogyakarta. Di sana ia didiagnosa skizofrenia. Fermy tak menjelaskan detail pengobatan yang diberikan, namun ia mengaku kondisinya membaik. Biaya yang dikeluarkan tak tanggung-tanggung, mencapai lebih dari Rp 10 juta. 

Setelah itu, ia kembali menjalani perkuliahan. Selepas pengobatan, ia mendatangi dosen dan berkata jujur tentang penyakit yang dialami. Ia meminta dosen itu untuk membimbingnya dengan sabar. Hingga kini, ia masih sering tak percaya bisa menamatkan pendidikan pada 2000. 

“Beliau memahami kondisi saya. Berkat kerjasama dengan dosen, saya bisa selesai,” kata Fermy. Perjuangan Fermy tak sampai di situ. Ia masih sering mendengarkan bisikan-bisikan di telinga. Ia memutuskan menjalani rukyah dengan inisiatif sendiri dan berharap suara-suara gaib itu akan pergi. Namun, rupanya itu tak berdampak apa-apa. 

Fermy juga sempat  dituduh lemah iman akibat gangguan jiwa yang ia alami. Oleh keluarga, dia dibawa ke sebuah panti rehabilitasi di Jombang, Jawa Timur. Di sinilah awal trauma yang ia alami. Ia mengaku diisolasi sekitar 10 hari tanpa fasilitas air minum yang memadai. Di tempat yang sama, ia dipasung dalam posisi terbaring dengan kaki dan tangan terikat sekitar 15 hari. 

“Saya dikasih makan, tapi cuma ditempelkan di samping kepala. Gimana mau makan wong saya diikat,” kata dia. 

Tak hanya itu, Fermy juga berjibaku dengan penyakit herpes di bagian kelamin karena menggunakan pakaian komunal. Ia pernah terkena hernia karena diminta mengangkat pokok kayu besar yang akan digunakan sebagai kayu bakar. 

Menurut Fermy, kekerasan menjadi makanan sehari-hari. Para ODGJ mendapat pukulan ketika tidak menuruti perintah pengasuh atau berebut makanan. Pengasuh panti juga tidak memiliki latar belakang keperawatan. 

“Dia itu dulunya buruh. Tapi lalu diminta membantu pengurus panti di situ,” kata dia. 

Di sini, orang tua Fermy membayar sekarung beras dan Rp 300 ribu setiap bulan. Ada juga ODGJ lain yang tidak membayar karena banyak bantuan datang ke panti tersebut. 

Sepulang dari sana, ia sempat mengalami relaps. Ia tak dapat menahan amarah atas perlakuan buruk yang dialami di panti dan keputusan pihak keluarga yang tak segera mengambil kembali. Dia dibawa ke RSJ Radjiman Wediodiningrat, Lawang. Di sana, ia dirawat inap selama dua pekan hingga herpes yang diderita sembuh. Namun, ia masih harus menjalani rawat jalan dengan biaya sekitar Rp 600 ribu per kunjungan.

Kini, Fermy rutin berobat ke RSJ Grhasia. Untuk memudahkan proses pembiayaan, ia memutuskan untuk memisahkan diri dari daftar kartu keluarga (KK) orang tuanya. Ia membuat KK yang hanya berisi namanya sendiri. Dengan itu, ia membayar BPJS Kesehatan kelas III sebesar Rp 25.500 per bulan.

“Kalau masih dengan keluarga kan sulit. Kan ada yang sibuk, nanti harus mengingatkan untuk membayar, padahal mereka di kota lain, belum kalau bayarnya terlambat atau gimana. Jadi saya lebih baik bikin KK sendiri, bayar sendiri. Saya berobat juga sendiri,” kata dia. 

Tantangan terbesar ialah dirinya sendiri. Ia berusaha bersahabat dengan gangguan yang dimiliki. “ Saya takut kalau dilihat sebagai orang pemalas. Nanti saya disuruh pergi. Di Yogyakarta, fasilitas kesehatan mentalnya bagus. Saya sudah kenal dengan dokter yang menangani saya bertahun-tahun,” kata dia.

Dalam proses mencari kesembuhan, ia menemukan terapi menulis ternyata bermanfaat bagi Fermy. Ia berhasil menyelesaikan dua buah novel. Salah satu yang berjudul ‘Genggamlah Tanganku’ meraih juara ketiga Lomba Sastra Aksara kategori novel 2016. Kini novel tersebut menjadi koleksi perpustakaan nasional Australia. 

Pengalaman berbeda dirasakan Eko Adi Saputro. Pria berusia 24 tahun ini pernah menimba ilmu di jurusan desain komunikasi visual Master School of Design (MSD). Hingga kini, ia merasa masih sulit bersosialisasi. Padahal, sejak awal keluar dari rumah sakit, ia sudah mencoba kembali bekerja.  

Ia pertama kali didiagnosa skizofrenia pada 2012 setelah menggunakan ganja secara berlebihan. Sebelumnya ia juga pernah mengonsumsi sabu dan mushroom. Sejak SMP, ia telah berkenalan dengan alkohol dan rokok. 

Suatu hari, seorang kawannya ditangkap polisi. Ia biasa mengonsumsi barang terlarang bersama Eko. Ia bersimpati, namun juga takut ditangkap karena keterangan temannya. Tekanan itu membuat ia mengurung diri selama hampir sepekan. 

Untuk menghilangkan stres, Eko membeli sepaket ganja seharga Rp 600 ribu. Ganja memiliki efek halusinogen, sehingga ia bisa membayangkan sesuatu. Setiap isapan membuat ia merasa bisa tertawa, relaks, mudah berpikir, dan lebih kreatif. Setiap kali efek yang dirasakan hilang, ia langsung mengisap yang baru. Tak terasa, itu terjadi dalam sepekan penuh. 

Dalam kondisi seperti ini, ia tak bisa mengendalikan diri. Ia mulai berhalusinasi, marah, dan mengamuk. Mengira Eko kesurupan, ia pernah dibawa ke pengobatan alternatif dan dukun-dukun. “Alasannya nggak tahu. Itu manut orang tua. Kayanya saran saudara,” kata dia. 

Di sana, ia diberi air minum berisi doa-doa. Namun, setelah mendatangi tiga dukun, ia tak kunjung sembuh. Eko akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sleman. Dari sini, kondisinya membaik. Pakai askes. 

Eko terpaksa tak menyelesaikan kuliah setelah mendapat surat pemberhentian dari kampus. Sembari menjalani rawat jalan, ia mengaku sering bingung, sebab tak memiliki aktivitas. Ia menjadi mudah bosan. 

Akhirnya, ia memutuskan merantau ke Jakarta dan bekerja menjadi desainer grafis. Konsekuensinya, rawat jalan harus dipindahkan ke Jakarta. Namun, jarak yang jauh justru membuat pengobatan terhenti selama hampir empat bulan. 

Eko pun kambuh. Ia kembali berhalusinasi dan mendengar suara-suara gaib. Ia dibawa oleh saudaranya kembali ke Yogyakarta. Di sana, ia sempat menjalani pengobatan alternatif lagi dan tak berhasil. Lalu, ia berobat ke RSJ Grhasia. 

Ia tak tahu berapa besar biaya yang dikeluarkan untuk setiap pengobatan. Ia menggunakan tanggunan asuransi kesehatan dari orang tua hingga usia 24 tahun. Setelah masa tertanggung selesai, ia mendaftarkan diri ke BPJS. 

Rawat jalan di RSJ Grhasia sempat memakan waktu. Ia harus datang sekitar pukul 09.00 WIB, menjalani mengantri berjam-jam sembari menjalani serangkaian pemeriksaan dan baru mendapat obat pukul 13.00 WIB. Ia akhirnya minta dirujuk ke Puskesmas agar lebih dekat dan tak perlu mengantri lama. 

Di Puskesmas, ia bisa datang lebih pagi, sekitar pukul 08.00 WIB. Hanya sekitar satu jam, ia sudah bisa membawa pulang obat yang dibutuhkan. Sayangnya, keterbatasan obat yang tersedia di Puskesmas membuatnya harus bolak-balik sepekan sekali. Ini, lagi-lagi, cukup merepotkan. 

“Akhirnya dirujuk lagi dan berobat ke Grhasia lagi,” kata dia. 

Eko berkeinginan kuat untuk terus bersosialisasi. Namun, hingga kini ia merasa masih sulit melakukan hal ini. Ia pernah mencari pekerjaan di sebuah tempat sablon di Yogyakarta. Baru seminggu, ia memilih untuk keluar. Ia mencari pekerjaan lain di sebuah penerbitan dan bisa bertahan hingga delapan bulan di tempat tersebut. Namun, ia mengaku tak nyaman berada dalam keramaian. Ketika gejala psikosisnya masih ada, ia seringkali merasa diawasi, diejek, dihina, bahkan difitnah oleh orang-orang di sekitarnya. 

“Nggak tahu, mungkin itu halusinasi atau apa. Televisi aja bisa ngatain kok,” kata dia. 

Setelah gejala psikosis berkurang, ia mendapatkan pengalaman buruk di masyarakat. “Pas aku keluar bermasyarakat, pada ngomongin orang stres, agak dikucilkan. Sampai sekarang. Sampai males kalau kumpul-kumpul.”

“Pernah aku ngobrol sama tetangga. Lalu ada yang nanya, ‘kamu ngomong sama dia nyambung nggak, dia kan orang stres’. Aku dengar itu,” kata dia. 

Eko tak mengharapkan perlakuan istimewa dari masyarakat sekitar. Ia hanya berharap dapat bersosialisasi secara wajar seperti dulu, sebelum ia mengalami gangguan jiwa.

Pengalaman Eko gagal bersosialisasi tak menjadikan ia patah semangat. Dikeluarkan dari kampus juga tak membuat ilmunya sia-sia. Sehari-hari, Eko meneruskan hobinya membuat desain grafis. Dari kamarnya, ia menjalankan studio yang diberi nama Frogmen. Karya-karyanya dipromosikan melalui akun Instagram @frogmenhomework. Ia juga rajin mengikuti kompetisi desain grafis di berbagai laman daring. 

Eko mengaku terkadang ia masih sulit mengendalikan perasaan. Ia merasa ingin marah tanpa sebab. Membuat desain menjadi terapi ketika temperamennya memburuk. Eko juga membuat desain kaus untuk melawan stigma terhadap ODGJ.

Proses mencari kepulihan tak hanya dirasakan oleh ODGJ, namun juga caregiver. 

Seorang karyawan BUMN di Yogyakarta, LS, belasan tahun menemani putranya, AR, menjalani proses pengobatan skizofrenia. Skizofrenia memengaruhi kemampuan motorik AR, sehingga tangannya tampak kaku. Ketika saya sapa di perkumpulan KPSI Simpul Yogyakarta, AR tampak memisahkan diri. 

“Takut ngotorin meja, soalnya makannya berantakan,” kata dia. 

Jumat (23/5), saya mendatangi rumah mereka di Condong Catur, Yogyakarta. Dengan tangan yang agak kaku, AR membuatkan dan menghidangkan teh manis kepada saya. Sesekali ia juga duduk bersama saya dan Ayahnya di ruangan itu. 

AR pertama kali menunjukkan gejala skizofrenia ketika ayahnya sedang bekerja di Papua pada 1997. LS mendapat panggilan telepon dari keluarga di Yogyakarta. Katanya AR mengamuk. Oleh ketua RT setempat, AR dibawa ke rumah saudaranya di Suryowijayan, Yogyakarta. Di sana, ia diajak berobat ke dokter. 

 Mendengar kabar itu, LS segera bertolak ke Yogyakarta. Ketika bertemu, AR sudah minum obat. Namun, efek halusinasi belum hilang. “Bapak, awas ada kelelawar. Ada kalong,” kata dia kepada sang Ayah, padahal tidak ada apa-apa. 

Sekian banyak fase dialami oleh keduanya, hingga LS harus sering kali mengingat-ingat urutan dan detail peristiwa. Ia menceritakan, AR lulus dari SMP 5 Yogyakarta. Memperhatikan bakat sang anak, LS menyarankan AR masuk ke STM. AR mengikuti tes di STM Negeri 2 Yogyakarta, Jetis. Ia dinyatakan lolos seleksi dengan cukup mulus. 

Belakangan, AR menyatakan keinginannya masuk SMA. LS sempat menegur, mengapa AR tak menyatakan keinginannya sejak awal. Ia akhirnya menyarankan sang anak mendaftar ke SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta. Lagi-lagi AR diterima dengan cukup mulus. 

Namun, AR menghadapi hambatan ketika hendak mengambil ijazah yang tertahan di STM. Walau sempat dimarahi, ijazah itu akhirnya diserahkan juga. Namun tampaknya keberuntungan belum berpihak kepadanya. Waktu pendaftaran ulang telah habis ketika ia menyerahkan ijazah tersebut. AR akhirnya bersekolah di STM. 

“AR gagal masuk SMA. Saya pikir, dia sudah berusaha. Mungkin itu sudah takdir baginya,” kata dia. 

Namun, AR tak semudah itu menerima kondisi. Seakan kurang berminat pada pendidikan yang ia jalani, AR mengalami kemajuan yang sangat lambat. Ketika kelas dua dan tiga, pembelajaran seakan tersendat. LS meminta pihak sekolah mengebut pelajaran AR. Ia naik kelas 3 dibantu para guru.  

Ketika itu, LS dipindahtugaskan ke Papua. Ia mengajak AR turut serta, tapi ia menolak. Akhirnya, AR tinggal sendiri dengan seorang asisten rumah tangga di Yogyakarta. LS membelikan motor baru untuk mempermudah mobilisasi AR. Ada TV 25 inch agar ia tak merasa bosan di rumah. ART juga mencuci pakaian dan menyiapkan makanan untuknya. LS melakukan segala upaya agar AR tetap merasa nyaman walau terpisah kota dengan ayahnya. 

Terpisah jarak ribuan kilometer membuat ia semakin sulit mengontrol kegiatan anaknya. AR sering didatangi oleh seorang teman yang putus sekolah. Ia mengajak AR menjalankan bisnis sablon. Sekolah AR terganggu, hingga ia dikeluarkan.

“Dia masuk ke STM Nasional di Tirtonirmolo. Di sana, ia kayanya sempat menyesal. Dia rajin minum kopi dan Kratingdaeng agar bisa banyak belajar. Saya baru tahu semua itu setelah pensiun,” kata LS.  

Ketika ujian, LS menemani AR di Yogyakarta hingga ia lulus. Ia memperhatikan kondisi AR sudah stabil. Ia meminum obat secara rutin. LS pun membiarkan AR minum obat sendiri. Namun, bagi AR minum obat dalam jangka panjang sangat membosankan. Ia tidak disiplin, hingga akhirnya kambuh lagi ketika tinggal di Surabaya. AR sempat menjalani dua pengobatan sekaligus. Secara medis, ia ditangani oleh tim dokter di RS Marsudi Ali. Setiap dua pekan sekali, ia juga datang ke sebuah pesantren di Jombang. 

“Kondisi AR membaik, entah karena pengobatan dari Marsudi atau dari alternatif,” kata LS. 

Mereka juga sempat pindah ke Balikpapan. AR lagi-lagi tidak disiplin minum obat. Ia pun sakit lagi. Di Balikpapan, ia berobat lagi. Ia sempat kuliah selama setahun di Akademi Bahasa Asing (ABA). Setelah pensiun, mereka kembali ke Yogyakarta. Pengobatan dilakukan ke PKU Muhammadiyah. AR sempat mengamuk pada 2008. Jika sedang mengamuk ia bisa mengonsumsi empat butir CPZ sekali makan. Setelah itu, ia langsung tertidur.  

Tahun 2007, LS mengantarkan AR ke sebuah pesantren cukup terkenal di Yogyakarta yang mau merawat ODGJ. Sayangnya, ia menemui beberapa pengalaman kurang menyenangkan. Selama di sana, AR terluka di bagian kening karena terjatuh dari tangga.  

“Saya nggak tahu kenapa tempat untuk santri ODGJ ditaruh di lantai atas. Seharusnya kan… Saya juga nggak tahu kenapa tangga itu bisa licin begitu,” kata dia. 

Ia juga pernah mendapati salah satu jari anaknya patah. Ketika ditanya, AR tak dapat mengingat apa yang terjadi. Setelah satu tahun lebih menitipkan anaknya dalam asuhan pengurus pesantren, ia terkejut ketika semua obat dari rumah sakit dikembalikan kepadanya. Ia curiga, pihak pesantren tidak memberikan obat itu kepada putranya. Setelah melihat kondisi anaknya tak jua membaik, ia akhirnya membawa AR ke RSJ Grhasia. 

Merawat ODGJ butuh kesabaran, begitu kata LS. Bicara soal biaya, tahun-tahun ia berpindah-pindah tugas sembari merawat AR adalah masa yang sangat pahit bagi LS. Biaya pengobatan AR bisa mencapai Rp 2 juta per bulan. Ia beruntung mendapatkan jaminan kesehatan dari kantor. Ketika ia pensiun, AR masih harus minum empat jenis obat setiap hari. Salah satu obat itu seharga Rp 9.000 per butir. Sebulan, ia bisa menghabiskan Rp 600 ribu untuk biaya rawat jalan. 

AR juga pernah menjalani rawat inap di RSJ Grhasia dan menghabiskan biaya Rp 5 jutaan. Pengobatan komplementer di salah satu pesantren di Jombang pada 1998 menghabiskan biaya Rp 50-75 ribu per sekali kunjungan. Ia juga membayar uang makan Rp 500 ribu per bulan ketika AR dirawat di pesantren lain di Yogyakarta. 

“Sejak 2014, saya akhirnya mendapat bantuan dari Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda),” kata dia. 

Seorang caregiver lain, FH, kini menemani adiknya, WR, mencari kepulihan dari bipolar yang disertai gejala psikotik. Dalam kondisi yatim piatu, ia dan kedua saudaranya membiayai pengobatan adiknya, WR. 

Dulu, pengobatan ditanggung oleh ibu mereka. Setiap bulan, biaya yang dikeluarkan bisa lebih dari Rp 1 juta. Kondisi ini membuat kondisi ekonomi keluarganya berubah drastis. Pada 2010, ibunda FH dan WR meninggal dunia. Sejak itu, ia dan saudara yang lain menjadi penanggung jawab biaya kesehatan WR. Biaya yang ditanggung sekitar Rp 800 ribu per bulan. Sebutir obat yang pernah dikonsumsi WR ada yang berharga Rp 13 ribu, ada pula yang Rp 42 ribu. 

Ia disarankan untuk membuat surat keterangan tidak mampu dari kelurahan. Pengurusan surat ini cukup melelahkan. Setiap hendak berobat, ia harus mendapatkan pengantar dan persetujuan dari pengurus desa setempat. Dengan prosedur yang baginya cukup ribet, ternyata ia hanya berhemat Rp 100 ribuan. 

“Yang ter-cover hanya biaya dokter Rp 75 ribu sama obat yang hanya printilan, cuma beberapa ribu. Tetap harus bayar Rp 600 ribuan,” kata dia. 

Awal gejala bipolar WR tampak ketika ia menjalani pendidikan di sebuah pondok pesantren. Keluarga mendapatkan kabar bahwa WR sakit agak parah. Gejala itu sudah muncul sepekan. Ia mengejar anak pondok, sehingga disangka nakal. Menurut keterangan pengasuh, WR sempat tidak mau makan. Ia mengunci kamar dari dalam. Oleh karena itu, keluarga pun dipanggil ke pondok. 

FH datang ke pondok, membujuk WR keluar. Ketika sampai di rumah, karena disangka kesurupan, FH sempat membawa WR ke tempat rukyah. Di pondok, ia juga sempat di rukyah. Di tempat rukyah, ustaz mengatakan WR harus dibawa ke dokter. Akhirnya, WR dibawa ke RSJ Magelang. 

“Waktu dibawa itu dia dalam kondisi sadar. Jadi dibilang sakit ya dia sehat, dibilang sehat, di sakit,” kata FH. 

FH sempat beberapa kali relaps. Ia tak merasa sakit, sehingga sangat sulit minum obat. Di Magelang, ia sempat relaps sebanyak dua kali. Di rumahnya, di Yogyakarta, ia relaps tiga kali. 

“Relaps yang kedua itu dia berusaha bunuh diri. Dia paranoidnya muncul. Dia merasa keluarga nggak boleh makan, makanan beracun. Dia mungkin merasa bersalah nggak bisa melindungi keluarganya. Jadi dia ingin bunuh diri,” kata FH. 

Akibat kejadian itu, WR harus mondok di rumah sakit. Ketika itulah, FH baru mengurus BPJS kesehatan. Seperti pasien dan caregiver lainnya, FH mengaku BPJS dan jaminan kesehatan lain sangat membantu meringankan beban mereka. 

WR telah berulang kali pergi dari rumah. Semakin sering, kepergian WR semakin lama. Dari tiga hari, lima hari, sepekan, yang terakhir ia pergi lebih dari 20 hari. Terakhir ketika bercerita kepada saya, FH mengatakan WR telah pergi 23 hari tanpa membawa obat. 

FH kini mengambil pendidikan di bidang keperawatan jiwa. Ia berharap masyarakat memanusiakan orang dengan gangguan jiwa, baik dalam hubungan keluarga, sosialisasi, maupun pengobatan. Masyarakat tak semestinya membuat mereka menjadi semakin rendah diri. ODGJ juga dapat merekam setiap perlakuan yang diterima dari orang-orang sekitar. 

“Dia tahu. Tapi masyarakat kita kadang membuat itu jadi bahan candaan,” kata dia.

FH juga berharap ODGJ mendapatkan porsi untuk bisa bekerja kembali. Walau tidak untuk menjadi profesional, ia berharap agar ODGJ tidak dipandang sebelah mata dalam dunia kerja

“Kita harus memaklumi orang dengan gangguan jiwa tidak bisa diharapkan terlalu lebih (produktivitasnya) dan jangan disamakan dengan orang lain,” kata dia.   

*bagian kedua dari sebuah indepth reporting oleh Sri Handayani

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s