artikel · fasilitas umum · jurnalistik

​Mencoba Qute, Si Bajaj Roda Empat

JAKARTA — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus melakukan perbaikan sistem dan moda transportasi publik. Baru-baru ini, Dinas Perhubungan DKI Jakarta bekerja sama dengan Organda DKI  melakukan uji coba bajaj roda empat atau dikenal dengan nama Qute. 

Wakadishub Sigit Widjatmoko mengatakan qute merupakan angkutan pengganti bemo (APB). Kendaraan ini dikeluarkan sebagai tindak lanjut edaran per 6 Juli 2017 yang menyatakan bemo tidak boleh lagi beredar di Jakarta. 
“Kita kan harus memfasilitasi mereka (pengemudi) untuk tetap berusaha. Waktu sosialisasi memang sudah ada dua jenis kendaraan, yaitu jenis roda tiga yang sudah menggunakan bahan bakar gas dan bajaj roda empat,” kata Sigit kepada wartawan di Jakarta, Senin (24/7). 
Pada 19 Juli lalu, Dishub DKI Jakarta mengeluarkan izin uji coba bajaj roda empat. Sebanyak 17 kendaraan bermerek Qute dioperasikan untuk memenuhi kebutuhan penumpang dari Stasiun Jakarta Kota (Terminal Beos) ke King Pademangan. 
“Termasuk bagaimana kita peduli terhadap masalah aspek lingkungan. Kita minta semua angkutan pakai BBG,” kata Sigit.  
Sigit berharap di masa mendatang kehadiran qute dapat mengganti keberadaan bajaj roda tiga. Namun, ia menegaskan bahwa angkutan ini hanya sebagai pengganti bemo. 
Bicara soal harga dan spesifikasi, ia menegaskan harga angkutan ini sangat kompetitif, namun memiliki dimensi lebih menarik. Kendaraan ini berwarna biru seperti umumnya bajaj beroda tiga dengan bahan bakar BBG. Dalam sertifikasi uji, tipe ini maksimum dapat mengangkut empat orang, termasuk pengemudi. 
Berdasarkan penelusuran Republika, Bajaj Qute (RE60) besutan Autobajaj dari India diperjualbelikan oleh PT Mega Lestari Mobilindo. Kendaraan ini menggunakan mesin 216,6 cc yang tersedia dalam varian CNG dan LPG. 
Bajaj Qute berdimensi panjang 2.752 mm, lebar 1.312 mm, dan tinggi 1.652 mm. Wheelbasenya 1.925 mm. 
Dengan harga normal yang miring, sekitar Rp 65 jutaan, mobil ini minim fasilitas. Tak ada AC, power steering, power window, maupun audio system. Namun, setiap qute yang beroperasi di Beos-Pademangan telah dimodifikasi dengan penambahan sound system. 
Bajaj Qute menggunakan mesin 0.2 liter Digital Tri-Spark ignition empat katup dengan sistem pendingin air. Mesin ini dikawinkan dengan gearbox lima percepatan dan dapat memuntahkan tenaga 13,2 PS dan torsi 19,6 Nm.
Untuk perpindahan gigi, mobil ini juga hanya perlu menggerakkan shifter tanpa kopling. Sedangkan untuk konsumsi bahan bakarnya mencapai 36 km per liter.
Tertarik dengan angkutan baru ini, Republika mencoba pengalaman mengendarai qute, Selasa (25/7). Di Stasiun Beos telah berkumpul beberapa pengemudi dengan qute yang berjajar. Seperti operasi kendaraan umum lain, setiap kendaraan berbaris, kemudian maju satu per satu menunggu penumpang. Para pengemudi tak perlu saling berebut. 
Seorang pengemudi, Jejen mengaku sudah sebulan menjalankan qute. Dulu ia terkena razia waktu membawa bajaj tua. Oleh pemerintah, ia ditawari solusi untuk melakukan peremajaan kendaraan.
“Ada solusinya, peremajaan. Saya langsung mengajukan. Jadi narik juga tenang,” kata dia.
Ia mengaku kendaraan baru yang dimilikinya memang lebih enak dipakai. Bemo tua ia gunakan sebelumnya sudah tidak layak. Dengan qute birunya, penggunaan bahan bakar jauh lebih irit. Penumpang juga merasa lebih nyaman. 
“Lebih irit, nyaman bawa penumpang. Kalau bahan bakar paling sehari bisa Rp 50 ribu. Kalau pakai bemo bisa Rp 90 ribu,” kata dia. 
Kapasitas qute memang jauh lebih kecil daripada bemo. Dengan bemo, ia bisa membawa sembilan penumpang sekali tarik. Qute baru hanya muat ditumpangi empat orang, termasuk pengemudi. 
Walau begitu, ia mengaku pendapatannya tak menurun. Sebab, biaya perawatan lebih sedikit. Ia tak perlu lagi repot dengan rem putus atau as patah ketika sedang membawa penumpang. 
Qute juga lebih diminati daripada bemo. Para penumpang umumnya merupakan warga Pademangan yang ingin melakukan aktivitas, mulai dari pelajar, pekerja, ibu rumah tangga, staf kantor, hingga staf kecamatan. 
Untuk perjalanan dari Stasiun Beos ke King Pademangan, para pengemudi menerapkan tarif Rp 5.000 atau Rp 4.000 jika berhenti di ITC Mangga Dua.
“Mereka nggak keberatan ongkos dinaikin seribu. Katanya enak, nyaman,” kata Jejen. 
Sejak memiliki kendaraan baru, bemo lama warisan orang tuanya ditarik oleh Dishub DKI Jakarta. Kendaraan itu dihargai Rp 5 juta. Ia harus membayar uang muka sebesar Rp 8 juta. Kini, ia harus mencicil biaya pelunasan sebesar Rp 278 ribu per bulan selama tiga tahun. 
“Alhamdulillah ketutup kalau kita rajin narik mah,” kata dia. 
Jejen berusaha menaati peraturan yang diberlakukan Organda DKI Jakarta. Ia mengaku telah memiliki SIM dan selalu membawa surat izin operasi. Selain itu, ia juga mengenakan seragam Organda dan melakukan KIR kendaraan enam bulan sekali. 
“Kemarin KIR, habis empat bulan kalau nggak salah. Biayanya sudah sekalian sama uang muka. Nanti harus KIR lagi. Belum tahu biayanya bagaimana,” kata dia. 
Ia biasa bekerja mulai jam 06.00 WIB hingga 21.00 WIB. Memasuki kawasan Pademangan, dua perempuan ikut naik bersama kami. Ketika hendak turun di King Pademangan, nenek yang saya perkirakan berumur 80 tahunan itu tampak ragu membuka pintu. Jejen pun harus mengarahkan dia. 
Secara fisik, penampakan qute dan bemo memang berbeda. Selain beroda empat, bentuk qute lebih mirip mobil kecil. Di bagian depan dan belakang tertulis Qute Bajaj dengan plat nomor berwarna kuning. Selain bodi yang masih halus, semua sisi berpintu dengan penutup dari terpal yang bisa digulung. 
Di sepanjang jalan, Jejen memutar musik rock dari sound system di bagian belakang. Ia menjalankan mobil itu dengan tenang hingga King Pademangan, kemudian memutar kembali ke Beos. 
Di tengah perjalanan, tiga orang pemuda menyetop qute itu dari pinggir jalan. Bajaj dengan kapasitas empat orang itu pun diisi lima awak. Jejen dan saya di bagian depan, sementara tiga pemuda lain tampak ceria di bagian belakang. 
Ternyata, qute tak hanya berwarna biru. Di tengah perjalanan, tepatnya di Jalan Budi Mulia, saya menemui qute putih bergambar Semar. Kabarnya ada pula qute berwarna oranye dan hitam. Saya pun berhenti untuk mencoba qute putih itu. 
Secara fisik, bentuk qute putih dan biru tak jauh berbeda. Qute putih yang saya tumpangi masih terlihat sangat baru. Plastik yang melapisi kursi-kursi belum dicopot oleh sang pemilik. 
Awalnya, saya berpikir qute ini juga melayani jalur yang sama dari King Pademangan menuju Terminal Beos. Saya menyetop kendaraan ini dalam kondisi terdapat seorang penumpang di bagian belakang. Pengemudi yang tak berseragam itu membukakan pintu dari dalam dan mempersilakan saya masuk. 
Ia menaiki qute dengan lebih cepat, //ngepot// ke kanan dan ke kiri. Di jalanan yang agak ramai, ia memasuki jalur Transjakarta dan melenggang dengan kecepatan 50 km/jam saat kendaraan lain merambat pelan. 
Rupanya, ia menerima pesanan khusus dari penumpang di belakang, sehingga tak sampai ke Beos. Saya pun diturunkan di ITC Mangga Dua dengan tidak ditarik bayaran. 
Menurut seorang pengemudi qute putih, Salam, umumnya para pengemudi qute tak berani mengambil pesanan khusus. Mereka hanya melayani rute Beos-Pademangan. Ini merupakan bentuk toleransi mereka terhadap para pengemudi bajaj roda tiga yang telah terlebih dulu beroperasi. 
“Kalau pesan khusus belum berani. Masih ada bajaj. Kami menghormati pengemudi bajaj. Nggak tahu nanti kalau sudah lama,” ujar Salam. 
Salam mengaku baru mengemudi qute selama sepekan. Senada dengan Jejen, kendaraan baru ini dianggap lebih nyaman dan tidak rewel. Walau kapasitas menurun, ia mengaku pendapatan tak turun signifikan, sebab perjalanan dengan qute jauh lebih cepat. Para penumpang juga tertarik sebab moda transportasi ini lebih bersih. 
“Peminatnya banyak yang ini,” kata dia. 
Walau belum banyak masalah, ia mengaku onderdil qute belum keluar sama sekali. Apabila ada kerusakan, ia tak tahu harus mencari di mana. Oleh karena itu, ia berharap produsen qute segera menyediakan onderdil baru. 
Hingga kini, jumlah qute di Terminal Beos telah bertambah hingga 20-an unit. Kendaraan itu berjajar dengan bajaj roda tiga dan Kopamilet.
Salah satu pengemudi bajaj roda tiga, Harul mengatakan tak masalah dengan adanya bajaj yang tak lagi beroda tiga. Menurut dia, ini merupakan perkembangan zaman yang tal bisa dihindari. Namun, ia mengaku khawatir jika pemerintah DKI Jakarta akan melarang operasi bajaj roda tiga, seperti halnya bemo.
“Ya biasa aja. Paling cuma nanti bajajnya hilang. Jadi kaya bajaj kuning. Lama-lama nggak boleh,” kata dia. 
Kehadiran qute tak hanya menarik perhatian para penumpang, namun juga pengguna jalan. Dua orang ibu yang menyeberang jalan tampak memperhatikan bajaj yang saya tumpangi. Di terminal, beberapa orang juga berhenti untuk memperhatikan bajaj unik ini. 
Salah satu penumpang, Cahyani, mengaku senang dengan kendaraan baru. Walau panas karena tak ada AC, qute menawarkan kenyamanan yang berbeda daripada bemo. 
“Enak ya. Murah, tapi tetap nyaman,” kata dia. 
Sri Handayani

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s