artikel · jurnalistik · kesehatan · liputan · sosial · Uncategorized

​Resep Sama Tangani Orang dengan Gangguan Jiwa

Ada sejumlah lembaga yang selama ini menangani orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Yogyakarta, antara lain rumah sakit, dinas sosial, dan pesantren. Ketiganya memiliki metode berbeda dalam menangani orang dengan gangguan jiwa. Namun, prinsip mendasar yang digunakan sama: bagaimana memperlakukan mereka secara manusiawi.

Regulasi mengamanatkan hal serupa. Pasal 2 Undang-undang No. 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa menyebutkan, upaya kesehatan jiwa harus berasaskan pada sejumlah prinsip, antara lain ber perikemanusiaan, perlindungan, dan nondiskriminasi. 

Di Yogyakarta, beberapa lembaga yang berperan dalam penanganan gangguan jiwa, misalnya Dinas Sosial (Dinsos) DIY, Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Grhasia, dan Pondok Pesantren (PP) al-Qodir, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Ketiganya punya pendekatan yang berbeda dalam menangani orang-orang yang mengalami gangguan jiwa ini.

Kepala Dinsos DIY Untung Sukaryadi menekankan pentingnya perlakuan manusiawi dan bermartabat untuk ODGJ. Artinya, ODGJ dianggap sebagai manusia yang memiliki kebutuhan dasar sama dengan manusia lainnya. Mereka tidak boleh mengalami diskriminasi dalam bentuk apapun. 

Pengertian bermartabat, kata Untung, mereka harus dibina untuk mengenal jati diri dan kewajiban dalam keluarga dan masyarakat secara konstruktif, misalnya untuk bisa mandiri, mengerti sopan santun, dan sebagainya. “Saya sebagai kepala dinas sosial sangat marah besar kalau mereka mendapatkan perlakuan tidak manusiawi, apalagi dibuang,” kata dia.

Untuk mengatasi ODGJ, Dinsos DIY berpedoman pada Perda DIY No. 1 Tahun 2014 tentang Penanganan Gelandangan dan Pengemis. Ada dua unit terpisah yang menangani ODGJ: Camp assessment dan Balai Rehabilitasi Sosial Bina Karya dan Laras (RSBKL).

Camp assessment menangani ODGJ yang baru masuk ke Dinsos DIY. Unit ini baru saja berpindah lokasi dari Sewon, Bantul ke Jalan Sisingamangaraja, Yogyakarta. Di sini ODGJ yang ditangani disebut sebagai gelandangan psikotik. 

Balai Rehabilitasi Sosial Bina Karya dan Laras (RSBKL) fokus menangani ODGJ dari camp assessment dan RSJ Grhasia.  Lokasi tempat ini juga dipindah dari Sidomulyo, Sleman, ke Komplek Pertamina, Purwomartani, Kalasan, Sleman. Di RSBKL,  mereka disebut sebagai gelandangan eks-psikotik. Ada juga istilah yang lebih umum, yaitu warga binaan.

PP al-Qodir memilih istilah yang umum dipakai masyarakat awam. Gangguan jiwa disebut dengan istilah ‘gila’. Santri yang mengalami gangguan jiwa umum dikatakan sebagai ‘santri gila’.  Namun para tenaga medis tak menyarankan pemakaian itu. 

“Sebaiknya tidak digunakan karena dapat memberikan stigma negatif kepada ODGJ,” kata dokter spesialis kejiwaan di Rumah Sakit Umum (RSU) Sardjito, Ronny Tri Wirasta.  

Ada sejumlah cara manusiawi untuk menangani ODGJ. Salah satunya adalah melalui penyediaan fasilitas perawatannya. Di RSJ Grhasia, terdapat ruang isolasi yang hanya berisi tempat tidur dan toilet. Toilet terletak di lantai tanpa pemisah. Petugas juga menyediakan tali untuk mengikat pasien yang mengamuk. Ruangan ini diperuntukkan bagi pasien yang berpotensi membahayakan diri sendiri, pasien lain, maupun petugas. 

Tempat tidur umumnya didesain dengan kasur busa berlapis perlak. Di ruangan tertentu tak ada sprei maupun selimut. Kain panjang berpotensi digunakan sebagai alat bunuh diri. Benda-benda tajam atau keras juga dijauhkan dari pasien. Kamar mandi didesain tanpa pintu dengan kran tanam untuk menghindari pasien bunuh diri dengan air. Untuk menghindari risiko terjatuh, tempat tidur bagi pasien gaduh-gelisah dibuat dengan penopang di bagian kanan dan kiri. Untuk lansia, desain dibuat lebih rendah. 

Direktur RSJ Grhasia Etty Kumolowati mengatakan, bunuh diri sering kali terkait dengan depresi maupun gangguan jiwa berat. Di DIY, setidaknya ada dua kabupaten yang pernah tercatat di urutan tertinggi nasional kasus bunuh diri, yaitu Bantul dan Gunungkidul. “Gunungkidul tertinggi. Angka nasional setengah dari 100 ribu. Tiap tahun rata-rata 30 (kasus). Tahun ini, Januari saja enam,” kata dia. 

Untung tak percaya ODGJ melakukan bunuh diri. Sebab, dalam keadaan seperti itu mereka tak mengerti cara untuk melakukannya. Menurut dia, hanya orang ‘waras’ yang melakukan bunuh diri. Jika seseorang mengetahui cara bunuh diri, baginya ia bukan lagi ODGJ. “Kalau ada yang bilang begitu (ODGJ bunuh diri), saya bantah itu,” ujarnya.

Masrur menceritakan, pernah ada santri dengan gangguan jiwa yang mengatakan ingin bunuh diri. Ia justru meminta tolong santri lain untuk memukulinya. Setelah dipukuli, santri itu datang dan memeluk Masrur dan melaporkan perlakuan teman-temannya. Ia pun urung bunuh diri. “Setelah itu kita bawa ke rumah sakit, hidungnya patah kita obati. Nggak mau bunuh diri lagi,” kata dia. 

Di RSBKL Dinsos DIY, secara umum cukup bersih. Namun beberapa ruang isolasinya tampak mengenaskan. Dua pasien terindikasi menderita diare. Mereka diisolasi dalam ruang kecil yang hanya cukup untuk tempat tidur semen dan toilet jongkok tanpa sekat. Di samping toilet terdapat ember berisi air dan sebuah gayung. 

Di salah satu ruangan, seorang pasien tampak tertidur beralaskan semen. Di ruang yang lain, pasien itu duduk tanpa celana dengan bagian kelamin dikerumuni lalat. Ruangan itu begitu lembab. Tak ada kasur bagi mereka. “Soalnya nanti kalau dikasih kasur takutnya basah, kan dia tiduran terus, takutnya nanti punggungnya luka atau gimana,” kata seorang petugas. 

Di pesantren, Masrur memilih tak menggunakan ruang isolasi sama sekali. Santri yang masih mengamuk disarankan dibawa ke rumah sakit jiwa. Santri yang bisa diobat itu ditempatkan di lantai dua. Di dekat mereka terdapat aula besar dengan pilar-pilar. Di dekatnya terdapat tumpukan bahan material yang belum terpakai, seperti kayu dan besi berkarat. 

Ada sejumlah laporan adanya kekerasan terhadap ODGJ. Psikolog yang bertugas di Camp Sssessment Dinsos DIY, Asmara mengatakan, mayoritas gelandangan psikotik perempuan pernah mengalami kekerasan. Tak sedikit dari mereka awalnya mengalami kekerasan dalam rumah tangga hingga mengalami gangguan jiwa. Ketika menggelandang, mereka kembali menjadi korban kekerasan, baik fisik maupun seksual. 

Laporan tentang perlakuan tak manusiawi di camp assessment datang dari komunitas Save Street Children (SSC). Ketua SSC Gandar Mahojwala mengatakan, ketika melakukan advokasi di camp assessment lama, ia melihat semua orang yang ditangkap Satpol PP dikumpulkan dalam satu ruangan besar. Mereka dicampur, baik laki-laki maupun perempuan, psikotik dan nonpsikotik. 

Menurut Gandar, kebanyakan klien yang pernah ia tangani mengalami trauma karena merasa diperlakukan seperti gelandangan psikotik. Gelandangan psikotik juga menjadi korban ejekan penghuni yang lain. Ia juga melihat para gelandangan psikotik diberi makan dari atas mobil bak terbuka. Para ODGJ itu berkerumun di sekitar mobil untuk mengambil jatah makannya. Beberapa rekan sesama aktivis juga melaporkan adanya kasus kekerasan serupa. Namun ia mengaku belum melihat fasilitas di camp yang baru dan belum bisa memberikan penilaian soal itu. 

Asmara menampik dugaan adanya kekerasan di camp assessment Dinas Sosial DIY. Menurut dia, dinas sosial melayani warga binaan dengan santun dan lemah lembut. Selain gelandangan psikotik, ada pula warga binaan yang mengalami conduct disorder. Gelandangan psikotik umumnya jujur, berbeda dengan orang dengan conduct disorder. Gelandangan yang disebut terakhir ini tak segan untuk menipu dan berbohong untuk mendapatkan apa yang diinginkan. “Berbohong itu sudah biasa, ada yang sudah dibimbing, tapi tetap berbohong karena memang standard norma mereka berbeda. Mereka biasa di jalan,” kata dia. 

Berdasarkan pengamatan ke lokasi, camp assessment yang baru, ruang penerimaan dibagi menjadi beberapa kamar. Masing-masing dihuni oleh 4-10 orang. Mereka tidur beralaskan kasur di atas lantai tanpa dipan. 

Mengenai makanan, ada ruang makan khusus di lokasi tersebut, berupa satu ruangan dengan meja dan kursi. Ada empat buat tempat cuci tangan di luar ruang tersebut. Dinsos menganggarkan Rp 20 ribu per hari untuk konsumsi setiap warga binaan. Dengan sistem tender, jatah itu hanya menjadi Rp 18 ribu untuk tiga kali makan. “Jadi satu kali makan hanya Rp 6 ribu. Tapi untuk 200-an orang sudah cukup sih itu,” kata Kepala RSBKL Rusdianto. 

Di PP al-Qodir ‘kekerasan’ dianggap sebagai cara ‘setengah wajib’ oleh pembimbing untuk menaklukan santri dengan gangguan jiwa. Penaklukan itu diawali dengan diciptakannya rasa takut, untuk menimbulkan kesan karismatik pembimbing di hadapan santrinya itu. Di waktu yang bersamaan, ia juga melakukan pendekatan persuasif. “Pahami karakternya. Dekati, ambil hatinya, ambil kesukaannya dia. Jadi dia merasa sudah mondok, memukul, menabok, itu setengah wajib. Tapi harus tepat timing-nya. Agar dia merasa antara pasien dan guru itu ada jarak,” kata dia. 

Walaupun tak memiliki latar belakang di bidang kesehatan jiwa, Masrur merasa terpanggil ketika melihat ODGJ telantar di jalan-jalan. “Selain itu kan masyarakat kalau ada apa-apa biasanya ke kiai. Kalau misal ada yang mau menitipkan di sini, masak saya tolak,” kata dia. 

Ketiga instansi di atas memberikan penekanan yang sama pada pentingnya peran keluarga dalam penyembuhan ODGJ. Keluarga hendaknya memahami akar permasalahannya. Kejadian sebelum muncul gejala gangguan jiwa, misalnya patah hati, tidak menyelesaikan studi, perceraian, dan lain-lain itu hanya pemicu (stressor). Permalahan utama biasanya telah muncul jauh sebelumnya, misalnya dari sikap orang tua yang terlalu memanjakan atau mengekang, kekerasan dalam rumah tangga berkepanjangan, dan sebagainya.  

Sayangnya, banyak keluarga justru abai terhadap kondisi ODGJ. Di RSJ Grhasia, sering kali keluarga pasien itu tidak mau menjemput, meski dinyatakan telah stabil dan boleh pulang. Kondisi yang sama juga terjadi di Dinsos. Beberapa orang tua bahkan rela membayar agar dapat menitipkan anaknya ke RSBKL. 

Kang Ibin, pengasuh di PPal-Qodir, mengatakan bahwa ODGJ jiwa yang dititipkan di pesantrennya umumnya sudah bertahun-tahun mengalami gangguan jiwa. Mereka dirawat di berbagai tempat terlebih dulu sebelum dikirim ke pesantren. Setelah di pesantren, keluarga kadang tidak peduli. Akhirnya, ada beberapa ODGJ yang kemudian kambuh setelah kembali ke keluarga karena tak mendapatkan dukungan keluarga dan perawatan yang baik. 

Peran keluarga untuk menyembuhkan orang dengan gangguan jiwa, kata Kang Ibin, sangat penting. “Yang perlu digarisbawahi, semua rehabilitasi, mau wujudnya rumah sakit, pesantren, atau lembaga amal, perannya hanya 30 persen. Yang 70 persen itu siapa? Keluarga dan si pasien. Jadi tidak logis kalau rehabilitasi kok menyembuhkan tanpa peran keluarga. Tidak mungkin,” kata dia. 

*Bagian ketiga (terakhir) dari indepth reporting oleh Sri Handayani

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s