Uncategorized

Selamat Tinggal, Bemo Tua..

JAKARTA — Panasnya sinar matahari yang menyengat tak menyurutkan semangat Leobeti untuk memotong-motong kendaraan di belakang Terminal Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat. Tak jauh dari tempatnya, enam unit bemo tua seakan antre menunggu giliran untuk dicacah menjadi kepingan besi-besi kotak. 

“Semuanya ada 30. Masih sisa enam,” ujar pria yang akrab dipanggil Titus itu ketika ditemui di lokasi, Kamis (3/8).

Titus dan seorang teman memulai pekerjaan itu Senin lalu. Ketika ia datang, ketiga puluh bemo itu sudah ada di lapangan. Per hari ia bisa memotong tiga buah bemo. 

Sehari-hari ia bekerja di lapak-lapak besi tua. Ia akrab dengan mesin las yang digunakan untuk memotong aluminium rongsokan. 

Menurut Titus, tak perlu cara khusus untuk memotong kendaraan renta tersebut. Ia hanya memotong-motong tiap bagian menjadi kotak berukuran sedang. Ia juga memisahkan besi yang tebal dan tipis. Pada prinsipnya, tiap bagian dipotong untuk memudahkan dibawa ke pabrik peleburan di Balaraja. 

“Yang penting jangan terlalu besar agar bisa ditumpuk. Nanti ada orang lagi yang bawa ke pabrik,” kata dia. 

Bemo-bemo yang dirajang-rajang Titus diproduksi pada 1961. Yang termuda dibuat pada 1980. Bagai remaja yang kini telah menua, bemo pernah sangat berjaya pada masa itu. Antara 1960-1990, bemo menjadi angkutan favorit masyarakat Jakarta. 

Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama bahkan mempunyai kenangan khusus dengan kendaraan ini. Melihat Jakarta yang makin maju, dalam kunjungannya ke Indonesia Juli lalu, ia mengenang rutinitas naik transportasi umum itu.  

“Dulu saya tinggal di Kampung Menteng Dalem, belum banyak mobil. Masih naik becak, naik bemo,” ungkap dia sembari tertawa saat Kongres Diaspora Indonesia ke-4 di Kota Kasablanka, Jakarta, Sabtu (1/7).

Bemo memiliki bentuk khas yang unik. Bagian mukanya yang berbentuk lancip terkadang dianggap lucu. Tak heran, di tahun 1960-an, bemo menjadi bahan olok-olokan fisik untuk orang yang bermulut monyong. 

Wahyu Sardono atau Dono Warkop adalah salah satu pelawak yang mendapat julukan itu. Teman satu grupnya, Kasino, menjuluki sebagai Dono Bemo. Dalam berbagai penampilan, grup lawak ini juga menggambarkan betapa menariknya bemo pada masa itu. 

Diambil dari singkatan “becak motor”, bemo hadir di Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, sekitar 1962. Kendaraan ini sengaja didatangkan dari Jepang untuk menyambut ajang olahraga akbar yang digadang-gadang akan menyaingi Olimpiade. Selain di Jakarta, bemo juga sempat menyebar di kota-kota di Pulau Jawa,  seperti Bogor, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan kota-kota besar lain. 

Di negara asalnya, bemo bukan dimaksudkan sebagai angkutan penumpang, melainkan barang. Akibatnya, ketika dipasangkan tempat duduk, ruang yang tersedia sangat sempit. 

Idealnya, satu bemo bisa mengangkut tujuh orang. Namun, para pengemudi terkadang memodifikasi atau memaksakan untuk mengangkut hingga sembilan orang. Enam di bagian belakang, tiga orang di depan, termasuk pengemudi. 

Bemo awalnya diproduksi oleh Daihatsu. Ketika pabriknya di Jepang, tidak lagi memproduksi suku cadang, bemo di Indonesia masih bertahan. Ternyata, banyak bengkel yang mampu membuat suku cadang tiruan.

Namun, lambat laun popularitas bemo kian turun. Saat ini banyak moda transportasi umum yang menjanjikan lebih banyak keuntungan bagi penumpang, baik dari sisi pelayanan maupun fasilitas. Kendaraan ramah lingkungan dengan kadar emisi lebih sedikit juga menjadi tuntutan di tengah polusi udara yang semakin meningkat. 

Pada 6 Juni, Dinas Perhubungan DKI Jakarta akhirnya memaksa bemo pensiun setelah dipacu bekerja selama 37-56 tahun, ditandai dengan Surat Edaran Dinas Perhubungan DKI Jakarta Nomor 84 Tahun 2017.

Sehari setelahnya, Suku Dinas Perhubungan Jakarta Barat melakukan operasi untuk menertibkan bemo-bemo tua yang masih beroperasi di sekitar Grogol, Olimo, dan wilayah Jakarta Barat lainnya.  

“Bemo udah nggak pantas di Jakarta. Yang tua sudah tahun 1961, 1962, ada yang 1968. Suratnya udah nggak jelas. STNK nggak jelas, KIR nggak ada, KPS nggak ada. Plat kadang nggak ada, depan belakang kadang beda,” kata Kepala Seksi Bina Angkutan Jalan Suku Dinas Perhubungan Jakarta Barat (Sudinhub Jakbar) Mohammad Hosen saat ditemui di kantornya, Kamis (3/8). 

Untuk menggantikan kendaraan ini, pemerintah menghadirkan kendaraan baru. Mobil kecil beroda empat ini dikenal dengan nama Qute Bajaj. Sebanyak 17 unit kini telah melantai di Stasiun Beos-Pademangan. 

Sudinhub Jakbar melaporkan ada sekitar 50 bemo yang beroperasi di wilayahnya. Dari 30 unit yang kini dihancurkan, enam di antaranya berasal dari operasi Sudinhub Jakarta Pusat. 

“Total 50 di wilayah Jakbar (24 dalam proses peleburan). Yang menyerahkan diri baru minggu depan. Mungkin scrapping-nya bulan depan. Kalau nanti ada 26 berarti udah semua,” kata Hosen.

Sri Handayani

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s