diari · fiksimini · liputan · sastra · Uncategorized

Bubur Sumsum di Pinggir Rel Kereta

Resep-Bubur-Sumsum-860x380.jpgSebut saja dia Mawar, gadis cilik yang hanya bercelana dalam. Dia bermain di pinggir rel Stasiun Tanah Abang. Badannya berdebu. Dia berlarian di dekat rumahnya, sebidang tanah yang dinyatakan ilegal. Dindingnya kardus ditambal terpal atau sobekan karung yang menempel di tembok. Yang penting tidak kehujanan. Musik favoritnya bukan yang biasa didengar di radio, tivi, hape, atau mobil-mobil. Bukan suara jangkrik, bukan gesekan daun padi dan percikan suara air. Musiknya adalah bunyi peluit, ting tang tong tanda peringatan palang kereta, dan suara roda beradu rel yang hanya berjarak beberapa langkah darinya. 

Hari itu, beberapa tahun lalu, seorang penjual bubur sumsum lewat di depannya. Kakaknya yang masih belia melarangnya membeli. Tanpa orang tua yang menjadi pemberi nafkah, makanan itu terkesan mahal dan mewah.
Penjual itu bilang, harganya Rp 2.000. Ketika akhirnya dia menerima bubur itu, mukanya berbinar sangat bahagia. Sangat tulus dan bahagia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s