artikel · fasilitas umum · jurnalistik · liputan · sosial · Uncategorized

Terlilit Tunggakan Sewa Rusun 

JAKARTA — Warga tampak bergerombol di beberapa sudut Rusunawa Jatinegara Barat, Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (10/8). Obrolan tentang sulitnya membayar tunggakan sewa rumah susun beberapa kali terdengar, diselingi keluhan tentang sulitnya mencukupi biaya hidup.

Kedatangan saya untuk melakukan wawancara tampak tak mengagetkan. Mereka seakan tahu, masalah tunggakan biaya sewa telah menjadi pemberitaan. 

Warga Blok A, Farida, mengaku sempat memiliki tunggakan hingga Rp 2 juta. Ia tak tahu rincian biaya yang dimaksud dalam tagihan.

Ia pindah ke Rusun Jatinegara Barat dua tahun lalu dalam kondisi sepi pendapatan. Tertekan karena proses relokasi dan suasana di lingkungan baru, ia dan suami belum dapat memikirkan pekerjaan. 

Uang simpanan pun perlahan habis. Dana yang sedianya akan dipakai membayar sewa rusun akhirnya terpakai untuk mencukupi kebutuhan bulanan. 

“Jadi (tunggakan) yang itu ngendep-ngendep. Ada bunga entah dari air atau rumah sebesar dua persen. Tahu-tahu jadi Rp 2.007.000,” kata dia kepada saya di Jakarta Timur, Kamis (10/8). 

Farida tinggal bersama suami dan tiga anaknya yang sudah bekerja. Sehari-hari, ia juga menjaga seorang cucu jika anaknya bekerja.

Salah satu putranya meminta dia menanyakan rincian tagihan ke pihak pengelola rusun. Menurut pengelola, ia sudah menunggak biaya sewa selama tiga bulan. Memasuki bulan keempat, tagihan terbesar muncul dari biaya pemakaian air. 

Farida masih beruntung. Anak perempuannya memiliki rezeki tambahan saat tagihan itu datang. Akhirnya, ia membayar lunas tagihan tersebut. 

“Kalau nggak ada anak perempuan ini mah nggak tahu deh. Anak laki mah cuek. Suami kerjanya serabutan,” kata dia. 

Bagi sebagian orang, tagihan bulanan yang harus dipenuhi Farida memang tidak banyak. Sebulan, ia hanya diminta membayar biaya sewa sebesar Rp 300 ribu. Biaya air rata-rata Rp 200 ribu dan listrik Rp 50 ribu per pekan. 

Namun, bagi Farida dan suaminya, biaya ini cukup berat. Suaminya bekerja di bagian tata usaha dengan sistem gaji harian Rp 50 ribu. Uang itulah yang harus dikelola Farida setiap hari. 

“Buat sarapan pagi aja tadi udah Rp 30 ribu. Sekarang Rp 50 ribu dapat apa?” ujar dia. 

Mengetahui kondisi sulit orang tuanya, kini kedua anak Farida ikut membantu membayar biaya sewa. Mereka masing-masing mengumpulkan Rp 200 ribu, sehingga terkumpul Rp 600 ribu per bulan. 

Biaya itulah yang dibayarkan kepada pengelola. Bulan ini tagihan yang muncul Rp 465 ribu. Sisanya dia jadikan deposit untuk membayar air atau sewa bulan berikutnya. 

Farida mengaku ini kali pertama ia menunggak. Sulitnya kondisi ekonomi menjadi alasan sebagian besar warga rusunawa menunggak biaya sewa. 

“Menurut saya lebih banyak ke ekonomi. Kan kebutuhan macam-macam. Gaya hidup juga,” kata dia. 

Warga Tower A lain, Ida, menunggak hingga Rp 5 juta. Ia mengaku memiliki anak yang menganggur dan belum bekerja. Oleh karena itu, biaya hidup dicurahkan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari terlebih dahulu. 

Ia mengaku sebulan bisa mengeluarkan uang hingga Rp 700 ribu. Itu belum termasuk biaya sekolah, transportasi, makan, dan sebagainya. 

“Kalau yang punya penghasilan bulanan nggak berat. Kalau yang nggak punya begini susah juga,” kata dia. 

Sayang perbincangan dengan Ida tak berlangsung lama. Ia harus segera menyiapkan keperluan anaknya yang baru pulang sekolah. 

Di lantai 14, Dina Sakinah hidup dengan lilitan tunggakan sewa Rp 4,9 juta. Tagihan itu mulai muncul ketika anaknya masuk SMK. Biaya sekolah tinggi, sementara pemasukan terbatas, memaksa dia memilih memprioritaskan pendidikan sang anak. 

“Memang ada KJP, tapi kan untuk buku doang sama alat sekolah. Kan ada pendaftaran, biaya-biaya lain, apa-apa sendiri,” kata dia. 

Seperti Farida, Dina mengelola nafkah harian dari suami. Sang suami bekerja sebagai penarik odong-odong. Setiap hari, ia bisa memperoleh uang hingga Rp 100 ribu. Namun, itu dikurangi uang setoran untuk pemilik odong-odong, biaya bensin untuk menjemput anak-anak sekolah, dan sebagainya. 

“Yah kalau ada rezeki (tunggakannya) dibayar sedikit-sedikit,” kata dia. 

Sediakan Lapangan Pekerjaan

Masalah tunggakan sewa tak hanya membelit warga Rusunawa Jatinegara Barat. Di Rusunawa Mutiara Pulogebang, Cakung, Jakarta Timur, sekumpulan lelaki paruh baya berkumpul di warung makan di pojok belakang rusun. 

Permasalahan tunggakan sewa lagi-lagi menjadi bahan perbincangan. Keluhan tentang sulitnya mengelola keuangan di tengah minimnya pendapatan seakan tiada selesai menjadi bahan obrolan. 

“Ada tawaran gaji bulanan, Rp 3,5 juta. Tapi kalau saya pikir-pikir, biaya anak sekolah saja sudah berapa? Biaya makan, transportasi,” keluh seorang pria di antara mereka. 

Di dalam kompleks rusun, di Blok B, Suratmi tampak mengasuh anak-anaknya. Kelima putranya yang masih kecil bermain di depan unit rusun. Perempuan berusia 38 tahun ini baru saja pulang mengamen. Tak jauh darinya, suaminya tertidur kelelahan sepulang bekerja. 

“Di sini kalau yang nunggak banyak. Bukan satu dua orang. Kan ada yang bilang di rusun lain malah sampai 82 persen,” kata dia. 

Suratmi juga memiliki tunggakan biaya sewa hingga Rp 7 juta. Ia membuat perjanjian dengan pengelola rusun untuk membayar semua kekurangan dalam kurun waktu setahun. 

Suratmi merupakan warga pindahan dari bantaran kali di Tanah Abang. Ia mengajukan sendiri kepindahan ke tempat itu sebab takut akhirnya akan digusur. 

Ketika itu, suami Suratmi tak bekerja. Ia juga tak memiliki ijazah untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Dalam kondisi seperti itu, mereka harus membayar biaya sewa Rp 300 ribu, biaya air sekitar Rp 100 ribu, dan biaya token listrik rata-rata 80 ribu. 

Uang hasil mengamen Suratmi digunakan untuk mencukupi kebutuhan makan kelima anaknya. Biaya sewa tak terpikirkan lagi. 

Setelah resmi tinggal di rusun, suami Suratmi akhirnya berkenalan dengan seorang staf gubernur. Dari dialah, para warga yang menganggur didata dan dicarikan pekerjaan. Suami Suratmi diminta bekerja di sebuah perusahaan penggilingan. 

“Kerjanya nyapu-nyapu,” kata dia. 

Tak mudah baginya mendapatkan pekerjaan. Ia harus mengikuti pendidikan terlebih dahulu untuk mendapatkan ijazah paket B. Kelas dilakukan pada malam hari. 

Namun, perjuangan itu tak sia-sia. Suami Suratmi kini memiliki penghasilan bulanan dengan gaji sesuai standar UMR. Uang itulah yang ia gunakan untuk mencicil tunggakan sewa yang menumpuk. 

“Yang bulanan untuk keperluan bayar-bayar rusun. Kalau yang dari ngamen untuk sehari-hari,” kata dia. 

Walau dibelit hutang, ia mengaku bisa bernapas lebih lega setelah suaminya bekerja. Ia mengenang masa-masa awal kepindahan, sekitar 2,5 tahun lalu, yang begitu pahit. 

“Pertama pindah sini susah. Untuk mondar mandir-mandir saya nggak ada ongkos. Anak masih sekolah di Tanah Abang. Saya juga yang gotong-gotong barang. Saya nggak ada kendaraan, kemana-mana pakai commuter line,” kata dia. 

Menyadari tak semua warga seberuntung dirinya, ia berharap para penghuni rusun yang memiliki tunggakan bisa mendapatkan kemudahan. Ia ingin ada pemutihan, sehingga para warga terbebas dari jeratan hutang. 

“Biar dibebasin dulu. Selanjutnya bisa seperti semula. Biar ada yang nunggak ditutup dulu. Tapi asalkan jangan nunggak-nunggak lagi,” kata Suratmi. 

Antrian Penghuni Baru

Kasubag Tata Usaha Rusunawa Jatinegara Barat Sarkib Sukarya mengatakan ada total 2.160 penghuni rusun tersebut. Mereka menempati lahan seluas 7.600 meter persegi. 

Pembayaran sewa seharusnya dilakukan secara autodebet melalui rekening Bank DKI, mulai tanggal 1-20 setiap bulan. Dari total 518 unit bangunan dengan luas di Tower A dan B, 482 di antaranya menunggak. Total tunggakan melebihi Rp 1 miliar. “Ada yang menunggak 12 bulan. Rata-rata Rp 3,5 juta. Ada yang cuma dua bulan, lima bulan,” kata dia.

Dalam sebulan, rata-rata penghuni harus membayar Rp 370 ribu, terdiri dari biaya sewa Rp 300 ribu dan biaya air rata-rata Rp 70 ribu. Mereka juga dikenai denda sebesar dua persen dari total tunggakan. 

Menurut Sarkib, pengelola berupaya melakukan pendekatan dengan memberikan surat panggilan kepada warga agar dapat menyelesaikan kewajiban mereka.  Cara ini dinilai cukup efektif.

 

“Sudah tiga hari kita lakukan, pertama 50 orang, kedua 50 orang, hari ini 100 orang. Mereka berbondong-bondong untuk membayar, walaupun mencicil,” kata dia. 

Dari sekitar 200 penyewa yang dipanggil, ada yang langsung membayar, ada yang meminta kebijakan untuk menyelesaikan dalam kurun waktu tertentu. Yang pasti, ada keinginan dari mereka untuk membayar tunggakan. 

Ditanya mengenai sanksi yang diberikan, Sarkib mengatakan belum terpikir untuk melakukan pengusiran. Kini, pengelola rusun sedang berupaya meminta pelunasan dari para penghuni. Setelah lunas, akan ada tekanan agar pembayaran dilakukan tepat waktu. 

“Saya rencana ke depan belum tahu. Paling tidak setelah dipanggil niat baik mereka untuk bayar ada. Kalau solusi terakhirnya mungkin pengusiran juga. Kalau tidak ada cara lain,” kata dia. 

Ditemui di tempat berbeda, Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengatakan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat kini sedang mendata penyebab tingginya angka penunggakan.  Ia mengatakan, di samping warga yang menunggak ada 11 ribu warga lain yang mengantri mendapatkan fasilitas itu.  

“Setiap hari saya terima mereka untuk minta rusun dan mereka bersedia membayar iuran. Hidup di Jakarta memang harus kerja keras tahan banting,” kata dia. 

Ia mengatakan, akan ada kebijakan khusus untuk warga yang direlokasi. Namun, bagi penghuni umum yang tidak mau membayar, bukan tak mungkin akan dilakukan pengusiran. 

“Saya mintalah kita bersyukur dan kerja keras, peraturannya emang begitu yah,” kata dia. 

Sri Handayani

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s