diari · opini · Uncategorized

​Orang Gila

Salah satu hal yang sering kali masih bikin saya gatel kalau membahas orang dengan gangguan jiwa adalah, sebagian orang masih menyebut mereka sebagai orang gila. 
Bahkan ketika liputan saya sudah menuliskan dengan gamblang bahwa sebutan itu tidak seharusnya digunakan karena menimbulkan stigma negatif, orang masih bertanya, “Kamu kemarin liputan tentang orang gila ya?” 
Sebelum liputan itu dirilis, ketika masih dalam proses meliput, beberapa teman juga bertanya, “Kalau tidak disebut gila lalu apa?” 
Gangguan jiwa itu macam-macam. Ada depresi, kecemasan, trauma (ptsd), bipolar, skizofrenia, dll. Satu sama lain terkadang tipis perbedaannya. Gila yang dimaksud itu mengacu pada gangguan yang mana? 
Pernah ada seseorang mencoba mendeskripsikan lbh gamblang apa yang dia maksud dengan gila. Gila artinya orang itu tidak bisa diobati, dia nggak pake baju, nggak bisa diajak berkomunikasi, terlantar di jalan, dan sebagainya. In fact semua gangguan jiwa bisa diobati. Hanya saja, tingkat gangguan yang dialami akan berpengaruh pada efek yang diterima dan lamanya waktu kepulihan. Pulih yang dimaksud di sini juga bukan berarti sembuh total, tapi kembali pada fungsi kehidupan sehari-hari saja kadang sudah lumayan. 
Kenapa seseorang bisa terlantar di jalan, tidak bisa diajak komunikasi, ngamuk atau berdiam diri? Ya karena tidak dirawat dan diobati. Jadi itu yang membuat ‘gila’. Kalau mereka dirawat, tidak ada yang gila. 
Kenapa kita jangan memakai istilah gila? Menurut saya, penggunaan istilah gila itu membuat kita malas. Kita bisa dengan spesifik menyebutkan penyakit fisik, misalnya “Dia demam.” “Dia demam berdarah.” “Dia kena radang tenggorok.” “Dia sakit kanker.” Dan sebagainya. Kita bisa membicarakan dengan baik bahwa orang sakit kanker butuh kemoterapi, orang demam butuh parasetamol, dll. Pengetahuan kita berpengaruh pada tindakan. 

Ketika ngomong soal orang gila, orang seakan lepas tanggung jawab untuk mencari tahu lebih lanjut, jenis gangguan yang dialami apa? Perawatan yang tepat seperti apa?, dll. Dengan kata lain, orang gila ya udah gila aja. Nggak bisa diobati. Kenapa gila? Karena ditinggal pacar. Lalu pembicaraan berakhir dengan mengasihani pasien atau bergosip tentang penyebab gangguan. 
Ketika teman saya tanya, “Kalau nggak disebut gila trus disebut apa?” Saya jawab, “Ya sebut aja gangguannya apa. Misal dia ada gangguan depresi.”

“Kita kan nggak tahu.”

Ya cari tahu dong. Justru dengan begitu lama-lama jadi familiar dan kita tidak aneh lagi menyebutkan macam-macam gangguan jiwa seperti kita mengobrolkan berbagai penyakit fisik. 😂

Ada yang tanya, “Gimana caranya kamu wawancara orang gila?”

Saya mewawancarai orang yang terkena gangguan jiwa dan sudah mendapatkan perawatan. Saya ngobrol seperti biasa dengan mereka. Beberapa hal harus dikroscek ulang untuk memastikan keterangan mereka fakta atau false believe, dll. Mereka yang sudah mendapatkan pengobatan dan menyadari bahwa mereka mengalami gangguan jiwa, sadar ketika mereka pernah berhalusinasi. Jadi ketika mereka ragu apakah itu bagian halusinasi atau bukan, mereka memberi tahu saya. Jadi jangan bayangkan orang dengan gangguan jiwa itu hanya yang ngamuk-ngamuk dan telanjang di jalan. Mereka ketika dirawat bisa berkomunikasi dengan baik. 

Ada yang kembali bekerja, menulis, menjadi desainer grafis, dan sebagainya. Mereka cenderung lebih sensitif, iya. Mereka berpikir lebih lambat, sebagian iya. Karena mereka masih dalam proses pemulihan dari hari ke hari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s