jurnalistik · liputan · Uncategorized

Khidmat dan Seru Mengikuti Upacara Tingkat RW di Jakarta

JAKARTA — “Merdeka! Merdeka! Merdeka!” Ketua RW 008 Kelurahan Rawajati, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan, Alfin Alfian Lubis mengawali sambutan sebagai inspektur upacara, Kamis (17/8). Pekikan semangat kemerdekaan itu disambut Ketua RT 003, Doddy Hermana, yang bertugas sebagai komandan upacara. 

Para warga juga menyambut dengan teriakan yang sama sembari mengepalkan tangan. Kembali ke posisi bersiap siaga, sejumlah pengurus RT, LMK, PKK, Karang Taruna, FKDM, dan warga yang mengikuti upacara bendera di lapangan basket Ex-Projek Kaca Jendela, Rawajati Timur, Jakarta Selatan khidmat mendengarkan sambutan. 

Menurut Alfin, upacara peringatan kemerdekaan RI di tingkat RW ini baru pertama kali dilaksanakan dan perlu dilanjutkan. “(Upacara ini) berkesan sekali untuk memupuk kebersamaan. Karena tadinya kami sudah babak belur waktu Pilkada. Jadi sekarang bisa dirapatkan lagi,” kata dia kepada Republika, Kamis (17/8).

Ia mengaku perbedaan pilihan politik pada Pilkada Jakarta 2017 sempat membawa ketegangan di wilayahnya. Itu diharapkan telah selesai dengan terpilihnya gubernur baru dari pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno. 

Diawali dari hari kemerdekaan ke-72 RI ini, ia berharap para warga dapat merapikan barisan untuk menciptakan lingkungan yang lebih maju dan rukun. Upacara bendera hari itu juga menjadi wadah untuk menyampaikan sejumlah kegiatan di tingkat RW. 

Selanjutnya, Alfin membacakan amanah Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat. Dalam teks itu, Djarot mengisyaratkan pentingnya fungsi RT dan RW sebagai lembaga masyarakat tertua di negeri ini. 

“RT dan RW adalah lembaga masyarakat pertama di negeri ini. Di sini terlihat kebersamaan dalam wujud yang paling nyata, misalnya gotong royong bersama,” ujar Alfin membacakan amanah. 

Djarot juga mengingatkan bahwa RT dan RW merupakan garda terdepan untuk memelihara dan melestarikan nilai-nilai luhur dalam masyarakat Indonesia. Di tengah kemajuan zaman, RT dan RW memiliki peran penting untuk menangkal tantangan dan hambatan dengan warga. Keduanya juga menjadi tempat memupuk toleransi yang sangat penting untuk menguatkan persatuan dan kesatuan bangsa. 

Secara umum, upacara bendera RW 008 hari itu berjalan lancar. Tiga warga yang masih SMA bertugas mengibarkan bendera merah putih. Ada pula dua pemuda yang menjadi pembaca teks Pembukaan UUD 1945 dan pembawa teks Proklamasi Kemerdekaan RI. Seorang tokoh masyarakat bertugas membacakan doa. Semuanya merupakan bagian RW 008.

Bagi Doddy, tugas hari itu sebagai komandan upacara sangat membanggakan. Apalagi, ia melihat para warga begitu antusias mendukung dan mengikuti jalannya upacara. 

“Sebelumnya saya menjadi komandan upacara itu hanya waktu SMA. 32 tahun yang lalu,” kata dia. 

Ia mengaku hanya sekali menjalani latihan pada Ahad lalu. Latihan dilakukan pada pagi dan siang hari. Tak heran, ia sempat grogi ketika awal menjalankan tugas. 

“Nggak ada yang lupa. Tapi grogi dikit. Nervous. Tapi bangga dipercaya sama warga,” kata dia. 

Menurut Doddy, upacara seperti ini perlu dibudayakan. Selain menjadi ajang silaturahmi warga, peserta upacara dapat mengenang jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur untuk memperjuangkan kemerdekaan. 

“Tahun-tahun lalu kita hanya bisa menonton di televisi. Sekarang kita bangga bisa ngadain (upacata bendera) sendiri,” kata dia. 

Pendapat serupa juga disampaikan Ketua Karang Taruna, Yoga Winanda. Menurut pria berkaca mata ini, upacara di tingkat RW dapat mempersatukan warga sekaligus meningkatkan rasa nasionalisme. 

“Upacara itu kan sakral, penting. Untuk yang sudah lulus sekolah kita sudah nggak pernah lagi ada acara seperti ini. Jadi ini penting untuk mengingat kembali dan memupuk rasa nasionalisme kita,” kata dia. 

Sejak Juli, Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat memang telah mengeluarkan surat edaran untuk setiap lurah di wilayah DKI Jakarta.  Ia mengamanatkan agar setiap RW melaksanakan upacara 17 Agustus 2017 di kantor masing-masing.

“Tahun ini ada kekhususan karena seluruh kantor RW se-DKI ada 2.729 RW, itu mengadakan upacara 17 Agustus. Jadi Pak Gubernur bikin surat edaran ke lurah supaya lurah minta ke RW melaksanakan upacara bendera,” ujar Asisten Sekretaris Daerah bidang Pemerintahan DKI Jakarta Bambang Sugiono di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (14/7).

Menurut Bambang, ketua RW setempat bisa menjadi inspektur upacara. Kegiatan ini juga dilanjutkan dengan menggelar lomba-lomba khas 17 Agustus. Instruksi ini dilatarbelakangi banyaknya warga yang bingung mengikuti upacara di setiap hari kemerdekaan. 

“Karena banyak masyarakat yang bingung ikut upacara dimana ya? Ke kantor wali kota enggak enak, kantor gubernur apalagi. Makanya di kantor RW saja,” ujar Bambang.

Upacara bendera RW 008 hari ini hanya satu dari serangkaian kegiatan yang diselenggarakan. Mereka juga melakukan ritual tahunan untuk melengkapi kegiatan tersebut. 

Seperti tahun-tahun sebelumnya, di malam hari pada 16 Agustus, mereka menyelenggarakan pawai obor yang diikuti oleh anak-anak dan orang tua. Mereka berjalan mengelilingi kompleks RW 008 sembari membawa obor. 

Dalam acara tersebut juga ada sesi renungan untuk mengenang jasa para pahlawan. “Tadi malam yang ikut 165 anak, diiringi para orang tua. Jadi 165 itu belum termasuk orang tuanya,” kata Alfin. 

Sesuai dengan instruksi gubernur, hari ini juga dilakukan berbagai lomba, baik untuk anak-anak, remaja, maupun orang tua. Beberapa di antara lomba tersebut adalah lomba makan kerupuk, joget jeruk, pensil-botol, mengambil uang dalam melon, memindahkan karet, futsal, make-up untuk pasangan, dan balap karung dengan helm. 

“Persiapannya dari sekitar 2,5 bulan lalu,” kata Yoga mewakili karang taruna sebagai penyelenggara. 

Upacara yang khidmat itu hampir selesai. Namun, Alfin yang telah meninggalkan lapangan meminta komandan upacara memposisikan warga dalam kondisi ‘istirahat di tempat’.

Tak lama kemudian, suasana yang awalnya serius berubah ‘ger-geran’. Sejumlah anak yang telah berbaris sejak pagi dengan seragam taekwondo dan ikat kepala merah-putih maju ke tengah lapangan. Mereka ditemani para pelatih. Mereka membungkuk ke arah peserta upacara dan menunjukkan kebolehan beraksi. 

Anak-anak itu adalah warga yang mengikuti latihan taekwondo di RW 008. Olahraga asal Korea Selatan ini sengaja dipilih warga untuk memberikan kegiatan positif bagi anak usia empat tahun ke atas. 

Dengan sigap, anak-anak itu mengambil posisi kuda-kuda dan melambungkan kaki berkali-kali ke arah penangkis. Tak hanya itu, generasi belia ini juga melakukan atraksi mematahkan papan kayu. Badan mereka yang kecil tampak tangkas dan lincah, membuat gemas sejumlah warga dewasa yang hadir.

Gelak tawa tampak ketika anak-anak itu beraksi. Sebagai penutup, mantan ketua RW yang juga hadir di lokasi memberikan apresiasi berupa uang kepada anak-anak pemberani itu. 

“Perjuangan Anda akan berbuah untuk kita semua,” kata dia. 

Di akhir upacara bendera, para warga dari generasi tua hingga anak-anak berfoto bersama. 

Sri Handayani

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s