Pengalaman Mengurus KTP-el Hilang dan Surat Keterangan Pengganti

Seperti diminta Mbak Desy Indriana di status Facebook saya, hari ini saya tulis prosedur mengurus KTP-el yang hilang dan surat keterangan (suket) pengganti. Semoga bermanfaat untuk teman-teman di wilayah Depok, Sleman. 

Seperti disebutkan di berbagai artikel media online, syarat mengurus KTP-el yang hilang dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) sangat sederhana. Hanya perlu surat kehilangan dari Polsek dan fotokopi KK. Keduanya dibawa ke Kantor Kecamatan, lalu kecamatan akan meneruskan ke Disdukcapil. 
Nah, blanko KTP-el yang habis ternyata memberi dampak pada banyak hal. Pencetakan KTP-el jadi lebih lambat dan pengurusannya cenderung lebih ribet. Selama KTP-el belum jadi, kita diberi surat pengganti KTP-el sementara yang berlaku untuk enam bulan. 
Begini praktiknya. Pertama, mintalah surat keterangan kehilangan KTP-el ke Polsek. Saya mengurus di Jakarta. Syaratnya, bawa saja kartu identitas lain, misalnya SIM. Prosesnya cepat (kalau lama karena antri). Gratis.
Kedua, Mintalah surat keterangan penggantian KTP-el dari Ketua RT. Surat ini harus ditandatangani oleh Ketua RT, Ketua RW, dan Kepala Pedukuhan. Gratis juga. Tapi kadang ada yang menyediakan kotak amal sukarela. Biasanya dialokasikan untuk kas kampung atau pembangunan masjid. 
Ketiga, Setelah tanda tangan lengkap, ambil blanko permohonan KTP-el di Kecamatan (Saya nggak tahu apakah tersedia di Kelurahan. Saya mendapatkan ini di kecamatan, karena sebelum ke kelurahan saya sudah bolak-balik ke kecamatan 2x). Isi blanko, lalu mintakan tanda tangan ke kelurahan. 
Di kelurahan, prosedurnya tidak ribet. Kumpulkan saja semua syarat, yaitu fotokopi KK, surat pengantar dari RT/RW/Dukuh, surat kehilangan dari polsek, dan blanko permohonan KTP-el (2 blanko dari kecamatan tadi). Surat permohonan KTP-el akan ditandatangani, sementara surat pengantar akan disimpan oleh kelurahan. Berkas yang lain dikembalikan.
Keempat, bawa semua berkas tadi ke kecamatan. Datang pagi-pagi biar nggak antri banyak (karena Anda perlu antri 2x hahaha). Ambil antrian, lalu serahkan semua berkas. Semua berkas tadi akan disimpan, kecuali lembar permohonan KTP-el. Itu akan dikembalikan ke kita sebagai bukti pengambilan. KTP-el saya dijadwalkan bisa diambil pada 12 Januari 2018. 
Nah, kalau mau mendapatkan surat keterangan pengganti KTP-el. Surat ini harus difotokopi beserta lampiran fotokopi KK dan 2 lembar foto ukuran 4×6. Inilah kenapa kita (atau saya) harus mengantri 2x, karena perlu memfotokopi surat permohonan KTP-el. 
Nah, setelah berkas yang kedua ini diserahkan, kita akan diberi selembar bukti pengambilan suket. Suket saya dijadwalkan bisa diambil dalam 7 hari (15 Mei 2018). 
Kenapa lama? Begini. Suket diterbitkan oleh kecamatan, lalu kecamatan akan memintakan ttd Kepala Disdukcapil, baru dibawa kembali ke kecamatan untuk diserahkan pada kita. 
Karena sudah mendesak, saya minta kecamatan untuk mencetak suket. Saya bawa sendiri ke disdukcapil. Di disdukcapil, berkas ini diterima, lalu saya diberi bukti pengambilan. Saya bisa mengambil surat ini di hari berikutnya (9 Mei 2018). Hari berikutnya, saya ambil. Selesai. 
Semua proses di kecamatan dan disdukcapil gratis. Di kecamatan kita hanya diminta memberi sumbangan PMI sebesar Rp 3.000. 
Not simple at all. Tapi paling tidak, kalau sudah tahu prosedur di atas, kita tidak bolak-balik tanpa kejelasan. Itu menguras tenaga, waktu, dan emosi. Banyak bersabar karena ini salah satu ujian dalam kehidupan. 😂
Jangan lupa dukung KPK mengungkap kasus korupsi KTP-el karena kita tahu segala keribetan ini sumbernya dari mana. 😉 

Target Membaca

Saya punya masalah dengan daya konsentrasi. Nggak tahu sejak kapan saya berubah menjadi seorang gadget freak (kayanya sudah lama sih), saya jadi sulit sekali membaca. Rasanya seperti mau mimisan kalau ingat ketika SMP saya membaca Harry Potter pertama hanya dalam sehari semalam (tapi yang lainnya nggak pernah baca lagi, cuma nonton filmnya). 

Nah, atas saran seorang teman, mulai hari ini saya akan menerapkan target membaca. Saya akan memilih satu buku yang akan saya selesaikan dalam waktu tertentu. Nggak usah ketat-ketat banget untuk diawal. Satu buku seminggu (dan tergantung tema, hahaha). 

Setiap selesai membaca, saya akan membuat rangkuman atau curhatan atau tulisan apa saja mengenai buku itu. 

Berhubung ini Senin (ingat ini hari Senin, 9 Januari 2016, artinya besok saya berusia 29 tahun. Keren. Tua. Eh), saya akan memulai target pada hari ini. 

Biar agak panjangan tulisan ini (iyuh), saya mau cerita dulu tentang buku yang saya pilih. Judulnya ‘Aksara Amananunna’karya Rio Johan. Buku terbitan KPG (googling sendiri kepanjangannya). 

Buku ini saya dapat dari malak Pakdhe Eko waktu pulang ke Jogja kemarin. Cuma becanda sih, tapi diseriusin. Asik. Hahaha… 

Aksara Amananunna merupakan kumpulan cerita pendek. Ada 12 cerpen di dalamnya. Seperti apa? Tunggu tulisan saya berikutnya. 

Dimulai dari Atas

Sebulan lalu, tepatnya 7 Maret 2016, saya diminta meliput acara peluncuran buku untuk berita advertorial. Buku biografi itu ditulis seorang profesor dari universitas ternama. Hari itu dia berulang tahun yang ke-60.

Sebelum mengikuti acara, saya tidak tahu siapa profesor ini. Ternyata dia pernah menjabat ketua program S2 di kampus tersebut.

Awalnya acara berlangsung biasa saja. Ada ucapan selamat ulang tahun dan alunan musik khas daerah asalnya. Pembahasan lalu perlahan beralih pada sosok sang profesor.

Buku yang akan diluncurkan sengaja ditulis sebagai refleksi diri di usia yang ke-60. Itu juga bisa menjadi motivasi, mengingat sang profesor datang dari kalangan masyarakat miskin. Konon (saya mendapat satu eksemplar buku tebal itu namun belum sempat baca), buku ini berisi perjuangannya dari yang bukan siapa-siapa, lalu perlahan mampu mewujudkan impian-impiannya dalam dunia pendidikan.

Sesi selanjutnya berisi sanjung puji. Orang-orang yang sempat berinteraksi dan mengenal dia bergiliran memberikan kesan tentangnya. Hampir semuanya bicara hal yang baik-baik. Dia sendiri mengharapkan kritik, tapi tak satupun kritik terlontar. Mungkin dia memang orang baik.

Komentar-komentar yang bisa saya tangkap ketika itu, antara lain bahwa sang profesor seorang yang berilmu tinggi. Iyalah sudah sewajarnya. Ia bukan seorang yang ‘serius’. Rasa humornya tinggi. Namun, tidak semua orang dapat memahami guyonannya.

Lelucon yang ia buat membuat orang berpikir dan menyelami pemikirannya lebih dalam. Dia juga seorang yang detail. Kampus yang ia pimpin seakan disulap menjadi asri, bersih, dan rapi.

Hingga acara hampir selesai, semua berjalan wajar saja. Acara banyak diisi dengan nostalgia dan tawa. Lalu sang profesor membuat pengumuman. Hari itu, semua yang hadir, selain mendapatkan makanan berupa nasi kotak, juga membawa pulang satu eksemplar buku biografi karya dia.

Satu lagi ‘kemurahan hati’ beliau yang membuat saya mendadak sedih adalah ia membagikan sebuah sertifikat. Isinya menyatakan semua yang hadir menjadi pembicara dalam acara hari itu. Acara hari itu sejatinya hanya acara haha-hihi. Acara tidak penting. Hanya perayaan ulang tahun. Tidak ada isu khusus yang dibahas. Tapi dalam sertifikat itu semuanya mendapat sertifikat sebagai pembicara diskusi bertema pendidikan. Oya, seorang mantan menteri yang sudah sepuh hadir di situ. Tabik, bapak. Duniamu diinjak-injak.

Sampai kos, saya menyimpan sertifikat itu. Tak lama kemudian sertifikat itu saya gunting untuk membuat pernik-pernik lucu ketika kamar kos terasa membosankan.

Di hari saya menerima sertifikat itu, saya tahu peristiwa hari itu tidak akan terlupa begitu saja. Bagaimana seorang profesor justru menjadi inisiator sertifikat fiktif? Ada dua ironi di sini. Pertama, tindakan itu membenarkan pandangan bahwa sertifikat seminar, diskusi, dan semacamnya sebenarnya tidak penting. Hanya formalitas. Jika memang dalam kacamata sang profesor, sertifikat itu hanya formalitas belaka, mengapa tak dihapus saja persyaratan sertifikat mengajukan skripsi, syarat pendadaran, mendaftarkan diri untuk wisuda, dan tetek bengek lain. Bohong belaka.

Kedua, lebih parahnya, tindakan itu seakan menabrak aturan mendasar dari dunia pendidikan. Pemalsuan. Selain plagiasi, pemalsuan ijazah menjadi borok besar pendidikan negeri ini. Lalu mengapa pemalsuan-pemalsuan kecil ini justru dimulai di kampus yang ‘punya nama’? Justru diinisiasi, dimotori oleh orang yang pernah menjadi pemimpin tertinggi.

Like father like son. Pimpinan sudah limbung, para pengikut jangan terhuyung-huyung.

Jakarta, 14 Juni 2016

Hal-hal Menakjubkan di Jakarta

Tulisan ini saya dedikasikan untuk kota Jakarta tercinta. Kota yang sudah menemani hidup saya selama dua tahun terakhir. Check this out!

 

Gimana rasanya meninggalkan kota asal?

Saya datang pertama kali ke Jakarta pada 19 Mei 2014. Saya menempuh perjalanan dengan bus antar kota pada malam hari. Sendu-sendu romantis lah untuk merenungkan betapa perjalanan hari itu adalah keputusan besar yang saya lakukan, setelah keputusan untuk kuliah.

Kenapa? Sebab, pada hari itu saya sudah lulus kuliah, lalu mendapatkan pekerjaan. Sejak hari itu saya resmi menjadi perempuan mandiri yang (semampu mungkin) tidak lagi ‘minta sama orang tua’, tapi sudah waktunya memberi. Untuk hal ini memang saya sudah melatih sejak masih SMA hingga kuliah. Tapi ya belum pernah sepenuhnya mandiri. Jadi sejak itu saya harus mandiri.

Kedua, saya memang jarang di rumah. Aktivitas saya seringkali di luar rumah. Kuliah, kerja, mengerjakan tugas, lalu pulang. Saya pernah mengalami masa pulang hanya untuk tidur, menyusun jadwal kegiatan, lalu pergi lagi keesokan harinya. Pernah juga tiga hari di rumah-tiga hari di kos teman. Tapi tetap saja, saya tidak pernah benar-benar lepas dari orang tua. Setelah tiga hari saya akan merindukan tidur di rumah. Nah ini, saya akan tinggal jauh dari orang tua, mungkin selama bertahun-tahun.

Ketiga, saya akan kehilangan beberapa tahap perkembangan keponakan-keponakan saya. Ini sangat menyedihkan lo. Saya selalu memperhatikan perkembangan keponakan-keponakan. Dari situ saya mengamati setiap perubahan sikap dan sifat mereka, termasuk efek dari sikap dan respon orang dewasa terhadap mereka.

Kalau dibilang orang dewasa belajar banyak dari anak-anak, itu bener banget. Memelihara anak-anak itu seperti memelihara hamster. Hahaha, perumpamaan yang keji banget ya? Not in all aspect, tapi ada beberapa kesamaan menurut saya. Misalnya, pertama, racikan makanan kita untuk hamster salah. Minyak ikan bagus untuk membuat bulu hamster lembut dan mengkilap. Tapi kalau kebanyakan, bulu hamster bisa rontok. Kedua, hamster punya daya penciuman yang bagus. Maka dia mengenali pemiliknya dari aroma tangan kita ketika menyentuhnya. Ketika kita jarang memegang dia, siap-siap saja digigit.

Memelihara, mendidik anak-anak juga sama. Ketika racikan kata-kata dan sikap kita salah, perilaku anak akan sejalan dengan itu. Anak terlalu dituruti akan menjadi manja, tidak pernah dituruti akan menjadi pendendam. Anak terbiasa diperdengarkan kata-kata kasar akan beradaptasi menjadi kasar. Kalau kita berbicara terlalu manja, dia akan menjadi lemah. Sama juga ketika anak jarang ditemui, dibelai, didengarkan, dia akan merasa asing dengan kita.

Wooo… meninggalkan Jakarta itu salah satu yang bikin galau ya ini. Hehe… Jadi malam itu, di dalam bus, nano-nano lah rasanya. Angkutan melaju kencang, kondisi gelap, cucuran air AC di luar tampak seperti hujan, suasana dingin, trus saya cuma melihat ke luar jendela sembari merenungkan hal-hal di atas. Syahdu kan? Hahaha…

 

Culture Shock Itu Bagaimana Rasanya?

Culture shock pertama saya terjadi ketika memasuki kawasan Jakarta Timur. Ceritanya, saya dan keluarga sudah berencana, kalau saya sampai di Jakarta, motor akan dikirim dari Jogja. Jadi saya akan beraktivitas dengan motor di ibu kota. Sampai di jalan arah Cimanggis itu, saya langsung SMS orang tua, “Bapak, kayanya nggak jadi kirim motor. Di sini orang naik motor yak-yakan. Kayanya aku nggak berani naik motor di sini. Nanti aku naik angkot aja.”

Saya tahu Jakarta itu rawan macet. Saya sudah mempersiapkan diri kalau harus menghadapi macet seperti yang sering saya lihat di gambar-gambar. Tapi saya tidak pernah membayangkan orang bermotor di Jakarta itu yak-yakan pake banget. Saya menyaksikan dari dalam bus betapa orang tidak khawatir kalau saunyuk lagi motornya srempetan. Hadeh…

Culture shock kedua adalah soal suhu udara.  Waktu itu teman saya mendapatkan tempat kos di dekat kantor. Kami cukup nyaman di sana karena induk semang cukup baik, tetangga ramah, tempat kos juga bersih. Tapi, pada akhirnya kami harus sering sekali mengeluh, “Ya Allah, Jakarta kok panas biaaangeeet ya? Kok bisa gini sih?”

Alhasil, kami jadi rajin mandi. Lalu kami akhirnya membeli kipas angin, padahal dari Jogja sudah punya prinsip untuk siap hidup sederhana. Saya waktu itu hanya ingin punya kos sederhana, yang penting bisa tidur, dan bersih. Sudah. Ndak bakal beli macem-macem. Tapi kipas angin di sini menjadi kebutuhan. Bahkan, saya bilang normal kalau orang-orang di sini mau bayar mahal untuk menyewa kamar ber-AC. Lha memang gerah bianget.

Gambaran gerahnya kamar kami waktu itu seperti ini. Kipas angin sudah menyala 24 jam, tapi suasana masih panas. Keringat kami sampai bercucuran, termasuk pada malam hari. Pernah suatu hari saya mandi jam 08.00 WIB, lalu hanya berselang beberapa menit, keringat sudah mengucur lagi. This is real ya, bukan dilebai-lebaikan.

Saking gerahnya, kami akhirnya memutuskan untuk memangkas rambut –hal yang sudah sangat lama tidak saya lakukan ketika itu.

Setelah tinggal lama, kami paham bahwa kondisi kos kami waktu itu memang di luar kewajaran. Kamar kami menghadap ke arah barat dan menggunakan kanopi hitam. So we absorb the heat, hahaha… Walaupun itu di luar kewajaran, tapi Jakarta memang relatif lebih panas daripada Jogja, tempat kelahiran saya. Nanti saya jelaskan soal ini.

Nah, another culture shock adalah soal harga. Secara saya dulunya tinggal di Jogja yang harga barang-barangnya super duper murah, lalu pindah ke Jakarta yang…you know lah. Saya masih ingat waktu itu mau beli buku tulis. Harga satu buku tulis biasa di Yogyakarta adalah Rp 1.500 hingga Rp 2.500. Di Jakarta, waktu itu, saya tidak menemukan tempat fotokopian yang menjual buku tulis (yang lazim kita temui di Jogja). Fotokopian ya hanya melayani jasa fotokopi. Kalaupun menjual alat tulis, sedikit sekali jenisnya, dan bukan buku tulis. Nah, buku tulis yang saya temui waktu itu harganya Rp 7.500. nah, tiga kali lipat!

Begitu juga makanan, minuman. Duh, pokoknya kalau memikirkan harga barang-barang penginnya nggak beli apa-apa deh. Penginnya jadi Jinny yang bisa ngilang ke Jogja, beli barang, lalu ngilang lagi balik ke Jakarta. Saya paling ingat, waktu itu kami beli makanan di sebuah warung makan Padang. Saya hanya mau beli balado telur, karena kami sudah memasak nasi di kos. Rp 10 ribu. Satu potong ikan tuna harganya Rp 30 ribu. Gilak. Sampai sekarang saya tidak tahu apakah uda-uda itu mengerjai atau memang harga di warung itu segitu. Hufh.

Culture shock yang cukup menonjol juga adalah soal arah mata angin. Orang di Jogja selalu menggunakan arah mata angin sesuai peta: utara, selatan, barat, timur. Selain itu, keberadaan Gunung Merapi di sebelah utara dan jajaran pegunungan di sebelah selatan juga dari petunjuk arah. Jadi hampir tidak mungkin bingung arah di sana.

Di Jakarta, orang terbiasa menggunakan kanan kiri. Saya sangat tidak terbiasa dengan ini, jadi butuh waktu lama untuk memahami. Akibatnya, sulit untuk membayangkan peta Jakarta di otak, sebab tidak tahu mana yang utara (di peta posisinya di atas) dan mana yang selatan. Akibatnya lagi, google map tidak bisa menjadi petunjuk buat saya. Akibat yang lain karena saya tidak tahu arah mata angin adalah saya tidak tahu kapan saya mendekati atau menjauhi suatu objek. Jadi saya bisa saja tiba-tiba tersesat begitu jauh karena merasa mengambil arah yang sudah benar.

Culture shock yang lain sebenarnya masih banyak, misalnya soal aksen dan nada suara yang berbeda, gaya bercanda dan selera humor, modernisasi yang membuat kita perlu beradaptasi dengan banyak hal (e-money, kartu krl, dan lain-lain), bencana (banjir dan kebakaran), banyak lah.

 

Sinkronisasi dan Hal-hal Menakjubkan

Hari ini, sudah hampir dua tahun saya di Jakarta. Sebenarnya sangat tidak fair membandingkan kehidupan di satu daerah dengan daerah lain. Tapi saya akui, saya memang belum sepenuhnya bisa move on dari Jogja. Saya masih sering membanding-bandingkan, kalau di Jogja begini, di sini begitu.

Jadi, sekarang saya bisa merindukan kedua-duanya. Kalau lama tidak pulang, saya rindu Jogja yang syahdu, kehidupan yang melambat, keluarganya yang hangat, ahh… Ketika pulang agak lama, saya juga merindukan Jakarta, yang serba simple, yang panas, yang tertata, yang macet, dan sebagainya.

Nah, hal apa saja yang menarik di Jakarta buat saya?

Pertama,  Jakarta itu dipenuhi oleh orang-orang perantauan. Banyak orang tidak tahu arah. Banyak orang tidak tahu tempat. Jadi, kota ini didesain untuk memudahkan orang mencari tempat-tempat itu. Di mana-mana, kita bisa menemukan plang hijau petunjuk wilayah. Jadi kalau kita belum pernah ke suatu daerah pun, petunjuk itu akan sangat membantu. Memang di daerah lain juga ada. Tapi jumlah petunjuk ini sangat banyak di Jakarta, hingga ke jalan-jalan kecil. Yang nggak ada kalau sudah masuk gang-gang kompleks atau kampung-kampung mungkin.

Sebagai contoh, ketika saya bertugas di Jakarta Barat, saya pernah ditugaskan ke Tangerang. Waktu itu saya belum tahu Tangerang sama sekali, padahal waktu sudah sangat mepet. Akhirnya, saya hanya mengandalkan plang-plang yang ada dan tanya orang, dan tara…setelah perjalanan 2,5 jam, sampailah saya ke Tangerang kota. Pokoknya untuk keperluan pekerjaan saya, plang-plang ini sangat membantu.

Nah, saya tidak bisa membaca peta di Jakarta karena kemampuan spasial saya memang kurang bagus dan saya tidak tahu arah mata angin. Setelah dua tahun bisa sih membaca secara global. Tapi kalau sudah mencari detail, saya nggak paham deh. Karena itu saya memilih tanya orang untuk membantu menemukan tempat-tempat di Jakarta.

Entah berapa ratus orang sudah pernah saya tanyai selama hampir dua tahun ini. Menakjubkannya, belum pernah ada –dan jangan pernah ada- yang memberikan informasi salah, menjerumuskan, atau mengerjai. As I said, Jakarta dipenuhi orang perantauan. Mereka umumnya terbiasa dengan orang yang tidak tahu jalan. Mereka sendiri mungkin pernah merasakan sulitnya mencari tempat ketika awal datang ke Jakarta. Jadi, mereka akan dengan senang hati membantu.

Kalau di Jogja, saya ingat sekali, unggah-ungguh penting banget. Orang kalau nanya harus turun dulu dari motor atau minimal mematikan mesin motor. Nah, di Jakarta yang serba cepat ini, orang tidak masalah ketika kita berhenti lalu bertanya tanpa mematikan motor. Bahkan mereka tidak segan mendatangi kita. Ini bermanfaat sekali buat saya, karena untuk mencari satu tempat kadang saya perlu bertanya kepada beberapa orang. Bayangkan di tengah sempitnya waktu, kita sudah butuh perjalanan lebih lama, lalu kita harus berhenti dan turun berkali-kali untuk bertanya, berapa waktu yang kita habiskan? Jadi mereka itu baik banget kaaaann….ih gemes deh, wkwkwk

Walaupun saya sempat membandingkan dengan Jogja, ini bukan berarti orang-orang di Jogja itu rempong dengan mementingkan tata krama di perjalanan lo ya. Seperti yang saya bilang, kehidupan di Jogja jauh lebih lambat. Walaupun jalanan juga macet, tapi tidak separah di Jakarta, jadi orang tidak selelah itu di perjalanan dibandingkan di ibu kota. So, kalau di Jogja ya tetap harus mengikuti tata cara di sana.

Dan, walaupun saya bilang saya sudah menanyai ratusan orang dan tidak ada yang menyesatkan, bukan berarti ini cara terbaik buat semua orang. Saya cocok dengan cara ini. Selain itu, sejak awal di Jakarta saya sudah memutuskan untuk tidak takut mati. Karena kematian sudah ditentukan jalannya. Kalau mau duduk mati, ya sudah duduk pun akan mati. Selain itu juga, saya punya beberapa tameng kalau orang mau nakal atau jahat ke saya. Intinya, saya pengin bilang di Jakarta ini masih buanyak orang baik dan tulus, dan suka membantu orang lain. Dan kita tetap harus waspada kepada yang sedikit, yang tidak baik.

Hal menakjubkan selanjutnya adalah suhu. Setelah saya pindah kos, saya menemukan bahwa suhu di Jakarta tidak separah di kos pertama saya. Memang panas, tapi tidak separah di kos itu. Kalau kita keluar siang hari tanpa perlindungan, ya kita akan gosong. Di Jogja pun sama seperti itu.  Enaknya, suhu malam di Jakarta tidak dingin. Di kota ini selimut saya hampir tidak pernah dipakai untuk tidur. Tanpa selimut saja kita bisa tidur dan tidak akan kedinginan. Saya juga bisa mandi di malam hari tanpa ‘truthuken’ (menggigil), karena suhu air relatif sama pada siang dan malam hari. Kadang saya kangen dengan udara dingin yang menyegarkan, tapi untuk dua urusan di atas, Jakarta menakjubkan.

Berikutnya, setelah lama tinggal di Jakarta, saya juga mulai terbiasa dengan harga barang-barang di sini. Soal harga memang bisa dibilang soal mindset. Kalau tinggal di Jakarta dengan mindset harga Jogja, kita akan sangat tersiksa. Karena itu, langkah awal yang saya lakukan adalah merelakan. Awalnya berat sih, tapi lama-lama bisa kok. Relakan bahwa Jakarta memang bukan Jogja, dan harga barang di sini tidak sama dengan di sana. Ukur dengan uang yang kita miliki, apa yang mampu kita beli. Barang apa yang akan kita pilih, kualitas mana yang kita butuhkan, dan sebagainya. Setelah itu, tinggal pembiasaan.

Setelah lama tinggal di Jakarta, kita juga akan tahu semakin banyak titik. Jadi kita akan tahu tempat-tempat yang murah (murah ukuran Jakarta ya), tempat-tempat yang kualitasnya bagus, dan lain-lain. Harga mahal di Jakarta diikuti dengan standar gaji yang lebih tinggi. Jadi kalau dengan gaji yang lebih tinggi kita tetap tidak bisa mencukupi kebutuhan kita di Jakarta, ada dua yang musti dievaluasi menurut saya. Pertama, gaya hidup. Kedua, besaran gaji dari perusahaan. Kalau sudah ngirit-ngirit kok tetap tidak cukup ya tinggalkan saja tempat itu, karena Anda bekerja bukan untuk dirugikan kan?

Nah, sebenarnya kalau dibilang semua barang lebih mahal, menurut saya nggak juga. Untuk barang-barang tertentu lebih murah kok. Logikanya gini (semoga logika saya nggak salah), harga kosmetik di Jogja dan Jakarta umumnya sama atau perbedaanya tidak terlalu jauh. Dengan standar gaji di Jakarta yang lebih tinggi, kosmetik jadi terasa lebih murah. Begitu juga dengan sepatu, tas, dll yang harganya hampir sama.

Selanjutnya, moda transportasi dan layanan keuangan lebih lengkap. Ini udah jelas lah ya. Semua fasilitas umum, umumnya diujicoba di Jakarta. Jadi orang Jakarta ngerasain duluan. Adanya Transjakarta membuat biaya transportasi lebih murah. Kalau naik ojek (dan nggak bisa nawar seperti saya), sekali jalan bisa Rp 20-50 ribu). Kalau naik angkot dengan beberapa kali ganti, bisa Rp 12-15 ribu. Dengan adanya Transjakarta, kita hanya bayar sekali Rp 3.500. Kalau naik KRL hanya Rp 4.000. Rute-rutenya pun bisa ditelusuri.

Apalagi setelah ada ojek online, perjalanan lebih enak lagi. Misal tempat jauh dan tidak tahu tempat, tidak punya kendaraan, kita bisa menggunakan jasa ini. Tidak butuh waktu lama karena drivernya banyak. Nggak perlu terlalu parno, yang diberitakan di media itu hanya kasus beberapa pesanan dari sekian ribu atau sekian puluh ribu transaksi yang berjalan normal. Media memang harus menyampaikan, agar ada penanganan dan perbaikan. Tapi itu bukan berarti kasus itu jadi ancaman.

Kalau dibilang Jakarta seperti ibu tiri, dalam dunia kerja mungkin iya. Kita bersaing dengan banyak orang yang punya kualitas bagus di ibu kota. Tuntutan profesionalisme di sini lebih tinggi. Kasus salah-pecat, atau dianjing-anjingin banyak lah. Orang stres karena tuntutan kerja juga banyak. Orang lari ke kehidupan malam atau kehidupan bebas karena tekanan hidup juga banyak. Tapi tekanan hidup itu terjadi di mana-mana di negara berkembang ini, iya nggak sih?

Orang Jakarta menghadapi penatnya kehidupan kota yang penuh tekanan, hingga bunuh diri. Di daerah lain, orang bunuh diri karena tidak punya kerjaan atau karena kemiskinan. Kita hanya sedang menghadapi tekanan yang berbeda.

Taraf hidup yang tinggi di Jakarta membuat orang tidak sayang mengeluarkan uang untuk barang-barang haram atau gaya hidup yang sebenernya nggak terlalu urgen banget untuk mereka. Tapi, tidak sedikit juga orang yang taraf hidupnya tinggi ini nggak segan-segan untuk menyumbangkan dana ke hal-hal yang berguna, semacam anak yatim dan orang-orang yang membutuhkan.

Masih banyak lagi hal-hal baik di Jakarta, tapi saya tidak ingin membuat tulisan ini lebih panjang lagi. sudah masuk halaman keenam, hehe. Yang pasti, banyak hal yang bisa dinikmati orang-orang Jakarta yang tidak bisa disentuh oleh orang-orang di daerah, bahkan di pinggiran. Tapi banyak juga kebaikan-kebaikan di daerah yang juga kita temukan di Jakarta. Dari Jakarta, semoga kita bisa menebarkan kebaikan-kebaikan ke berbagai penjuru Indonesia.

 

Jelang Tutup Usia

ada seribu cara mengenang keindahan
di ujung rambut hingga jemari kaki
apa daya jika jasad
tak meninggalkan satu kebaikan
bolehkah aku duduk sebentar
menghela nafas lalu mengambangkan pikiran
dosa apa yang telah kuperbuat
sakit apa yang sudah kuderakan
begitu banyak!
kebaikan demi kebaikan
sebagian masih rencana
selebihnya pamer, selebihnya dihinggapi riya
lalu aku berbaring diam
nafasku tinggal sebentar
aku masih berpikir ingin berbuat apa
hingga aku sudah tak mampu apa-apa
Jakarta, 17 april 2016

Berbagi Ruang dengan Makhluk Halus

Saya masih ingat, malam itu Ayah memarahi saya. Saya kecil sepertinya memang terlahir untuk menguji kesabaran orang tua. Saya tidak nakal lo, hanya mempunyai inisiatif yang lain dari keinginan orang tua saya.

Saya menangis meraung-raung mendengar suara Ayah saya yang menggelegar. Ibu, menggendong saya dan meminta diam, tapi saya tak dapat menghentikan isakan.

“Sudah, diam. Nanti kalau kamu menangis, ada yang dengar. Kamu lihat tidak, itu yang ada di sana. Di pohon itu,” kata ibu.

Kami memang tinggal di kampung. Di depan rumah saya ketika itu masih ada sepetak kebun dengan pohon-pohon besar. yang ditunjuk ibu adalah pohon paling tinggi dan paling besar. Sejak malam itu, saya percaya, setiap malam ada yang mengintip di balik pohon itu.

Masa kecil saya, dan mungkin juga masa kecil banyak orang, diliputi cerita yang membuat kita takut. Saya masih ingat, anak-anak yang pulang sekolah bersama seringkali berhamburan jika melihat truk. Kami disusupi pemikiran bahwa ada truk bertanda gunting yang suka menculik anak-anak SD yang pulang sekolah.

Suatu hari, di kelas empat SD, kakek saya sakit. Dia memang sudah lama sakit. Tangannya digigit ular kobra hingga membusuk. Berbagai pengobatan dijalani tapi tak berhasil. Akhirnya, ia hanya mampu berbaring di rumah dibantu nenek saya yang setia.

Mungkin merasa sendiri, kadang ia meminta kami datang. Permintaan ini tak kenal waktu, bahkan kadang seorang sepupu harus menjemput Bapak tengah malam.

Malam itu, sekitar pukul 01.00 WIB, pekerjaan di rumah baru selesai. Kami pergi ke rumah kakek berlima. Saya, ibu, dan ketiga kakak. Ayah di rumah.

Di kampung,  ada satu rumah yang saya takuti. Rumah itu kosong. Di siang hari pun saya selalu membayangkan ada orang di sana.

Malam itu, ibu dan kakak memilih lewat sana. Saya berjalan paling pinggir, paling dekat dengan rumah itu.

Rumah itu cukup besar untuk ukuran kampung. Halaman di depannya luas. Di belakangnya banyak pohon-pohon besar, sementara di depan rumah ada beberapa. Rumah itu berpagar menganga tanpa pintu.

Kami berjalan bersama, berjajar hampir memenuhi jalan. tak masalah, toh dini hari begini tidak ada orang lewat. Tepat ketika saya menginjakkan langkah pertama di samping pagar menganga itu, sebuah suara menggema dari atas sana. Dari arah yang sangat tinggi, sejajar dengan pohon-pohon besar di belakang rumah.

“hi hi hi hi hi…hi hi hi”

Suara perempuan itu nyaring sekali, terdengar beberapa detik. Keras sekali dan menggema. Suaranya saya perkirakan bisa terdengar di sepenjuru kampung. Saya beringsut memegang tangan kakak, namun ia merasa risih. Saya lalu berpindah ke tengah.

Ibu dan kakak berbincang-bincang seperti tak ada apa-apa. tak ada yang tampak kaget atau ketakutan. Keesokan harinya, ketika saya tanya, tak ada yang percaya dan tak ada yang mendengar suara itu.

Saya memang penakut ketika kecil. Makanya, Ayah saya selalu bilang. “Ngapain ngaji kalau takut setan? Sekarang itu setan sudah nggak berani muncul. Kalau dulu wajar masih banyak setan, karena orang dulu nggak bisa ngaji. Kalau sekarang banyak yang bisa baca Alquran. Setan itu takut sama orang ngaji.”

Ketika dewasa, saya mencoba membawa logika itu dalam kehidupan. Setan, makhluk halus, apapun itu, adalah ciptaan Tuhan. Jika saya percaya Tuhan menjaga dan melindungi, maka setan bukan tandingan bagi-Nya. Betul kan? sugesti itu menambah keberanian saya beberapa derajat. Tapi ya bukan berarti ga takut sama sekali, wkwk.

Tambah tua lagi, pemikiran semakin berkembang. Saya mulai memahami bahwa manusia mempunyai kekuatan untuk berhalusinasi. Juga kekuatan untuk menseting pikiran. Secara spiritual dan supranatural, rasa takut seseorang dapat menunjukkan kelemahan yang bisa dimanfaatkan setan untuk menakut-nakuti manusia. Secara psikologi, rasa takut itu memicu halusinasi yang kemudian mewujud dalam bentuk seperti yang ia bayangkan sendiri.

Saya mulai mempertanyakan pengalaman saya ketika kecil. Bisa ada banyak kemungkinan. Bisa jadi malam itu saya memang digoda neng kunti. Bisa juga saking takutnya, memori bawah sadar saya memunculkan suara-suara itu.

Ilmu tentang mensugesti diri dan mensetting pikiran rupanya banyak membantu saya menghilangkan rasa takut. Saya mulai berani tinggal di kamar sendiri, lalu tinggal di kamar yang terpisah dengan rumah utama.

Ketika SMA, saya juga seringkali merasakan tindihan. Konon, kalau tindihan, ada makhluk halus yang menindih badan kita. Badan tiba-tiba tidak bisa bergerak walau rasanya saya sudah bangun.

Dari mencari-cari tahu, tindihan (sleep paralyze) rupanya merupakan momen dimana kita terjebak pada dua alam. Alam bawah sadar, atau alam mimpi, dan alam ketika kita bangun. sleep paralyze bisa terjadi karena banyak hal. Salah satunya, stres. Saya amati, tindihan yang saya rasakan memang meningkat ketika kuliah, ketika beban hidup (tsahh) terasa sangat berat. Saya pun mempercayai teori ini.

Artinya, untuk menghilangkan tindihan, saya perlu membuat pikiran saya relaks sebelum tidur. Benar saya, seiring dengan berkurangnya beban, tindihan semakin berkurang. Bisa dibilang, saya tidak pernah tindihan lagi sekarang.

Poin selanjutnya adalah mensetting pikiran. Saya mempercayai teori tentang ketakutan yang memunculkan bayangan-bayangan. Ini sering saya lakukan ketika saya terpaksa, mau tidak mau, harus berhadapan dengan rasa takut. Awalnya, ketika saya lagi rajin ibadah malam. Tempat wudhu di rumah saya ada di luar, dekat dengan tanah kosong. Setiap kali wudhu, hawa dingin pagi dini hari sering berhembus di kuduk. Saya sering membayangkan tiba-tiba ada sesosok makhluk yang iseng menggoda.

Tapi saya mencoba melawan itu dengan keyakinan bahwa selama saya baik, mereka juga baik. Selama saya tidak mengganggu, mereka tidak mengganggu. Di luar dari itu, saya sedang melakukan tindakan baik untuk beribadah kepada Tuhan, jadi kalau dia mengganggu saya, ya Tuhan lebih kuat daripada dia kan? wkwk..

Cara ini cukup berhasil dan semakin menguat seiring pengalaman. Saya tidak pernah mendapatkan gangguan macam-macam selama keluar rumah pada dini hari.

Suatu malam, teman saya mengirimi sebuah pesan. Dia tahu saya sering tidur pagi, mengingat saya memang baru mengantuk di pagi hari. Waktu itu saya juga sedang asik mengejar penyelesaian skripsi.

Tepat tengah malam, jam 00.00, dia mengirim sebuah pesan. “Bajingan!” kata dia. Ups, sori kasar, memang begitu dialognya.

“Apaan?” kata saya.

“Barusan aku lihat jari.”

“Maksudnya?”

“Barusan aku ada jempol lewat di sela-sela pintu, berlumuran darah.”

Bulu kuduk saya sempat meremang. Saya juga sempat terbayang ada ‘sesosok’ jempol berlumuran darah lewat di pintu kamar.

“Jangan dilanjutin! Awas ya, aku nggak bakal baca.”

Tentu saja kata-kata itu tidak berguna. Ia masih saja mengirimkan pesan. Ia bilang jari itu tahu-tahu menghilang.

Saya mulai menguasai diri dan mengingat prinsip untuk menseting pikiran. Lalu saya bilang, “Aku tahu cara ngilanginnya.”

“Gimana?”

“Deketin kelingking kamu ke jempol itu.”

“Asssuuu…wakakakak” kata dia.

Di Jakarta, di tempat saya tinggal sekarang, ada sebuah tangga gelap menuju atap. Kami menyebutnya lantai III, tempat menjemur pakaian. Tangga itu gelap, cocok untuk syuting film-film horor. Di lantai III juga tidak ada lampu sama sekali.

Kujurnya, sejak masih di rumah, saya terbiasa mencuci di malam hari. Iya, saya terbiasa makan jam 00.00, mencuci dan merapikan kamar tengah malam. Im a nocturnal.

Awalnya saya menunggu hingga pagi baru menjemur pakaian. Tapi kadang saya harus bekerja di pagi hari, sehingga kegiatan ini terasa tidak efektif. Akhirnya, saya nekat ke atas tengah malam. Awalnya saya merinding mengingat lantai III sangat gelap. Bisa saja dari baju yang terhalang tiba-tiba muncul sesosok wajah pangeran tampan. Ehh. Apalagi, di sudut lain tempat itu, ada setumpuk barang-barang gudang tak tertata. Ada lagi, sebuah bath tub tak terpakai warna putih dalam kondisi terbalik yang bentuknya kalau malam seperti nisan. Suasananya pas. Wkwk.

Saya lagi-lagi berprinsip seting pikiran sangat penting. maka saya menseting bahwa tempat itu hanya tempat menjemur baju biasa. Sejauh ini, sudah hampir setahun, tidak pernah terjadi apa-apa, dan gak minta.

Suatu hari, salah satu teman kantor cerita, salah satu mantannya dulu pernah tinggal di situ. Ia mewanti-wanti saya dengan sangat serius. Kosan itu angker. Saya bilang dengan santai, “Ah, kamu dulu kebanyakan maksiat kali makanya digangguin. Aku lama di situ, naik-naik ke lantai atas nggak ada apa-apa.”

“Beneran? Berarti emang tergantung amal dan perbuatan.” kata dia cengengesan, “Tapi bener, Mbak Han, kosan itu angker. Percaya deh ama aku.”

Suatu hari, ibu kos kami cerita, anaknya tinggal sendirian di kos. tengah malam, ketika ia lapar, ia turun ke dapur. Dari tangga ia melihat dari belakang, kakak perempuannya sedang makan. Namun, ketika ia turun, tak ada siapa-siapa di sana. Ia mencari-cari tak ada seorang pun di rumah. Ternyata kakaknya sedang di rumahnya, di Depok. Hayoloh.

Hari ini, seorang teman menanyakan kamar kosong di kos. Ia dan seorang teman lain mau pindah ke sini. Setelah saya kirim foto dan penjelasan panjang lebar, ia tampaknya tertarik. “Nggak ada apa-apa kan di sana? Aman? Nggak ada neng kunti?”

Saya bilang saya selama di sana tidak pernah menemui hal-hal semacam itu. ia pun meminta alamat dan petunjuk ke arah kos. Tak sampai berselang 20 menit, ia kembali mengirim pesan via WA. “Waddooohhh. Hahaha. Kok di situ ada ‘sesuatu’ ya mbak?”

Saya baru ingat, kata teman-teman, eneng satu ini memang punya kemampuan untuk melihat yang halus-halus. Nah loh, habis diterawang. wkwkkw

“Apa tuh? Makhluk halus? Kalo ada biarin aja. Living together happily ever after,” kata saya.

Iya, biar kan saja. Tuhan kan memang menciptakan makhluk seperti saya, kamu, dan dia. Mari kita memainkan peran masing-masing, hidup bersama tanpa saling ganggu. Tanpa perlu saling sapa. Hihi..

Berhenti Mengejek Bangsa Sendiri

Yuk, bangun citra diri yang positif untuk bangsa kita sendiri. Jangan terlalu berlebihan dalam mengklaim buruk diri dan bangsa sendiri. Masih banyak orang baik, masih banyak nilai luhur, sisi positif, prestasi yang apik yang bisa kita banggakan.

Tentu saja ini tidak menutup diri dari kritik, namun jangan terlalu sering mendaku diri sebagai bangsa yang buruk, lemah, bodoh. Lama-lama label-label buruk itu akan menjadi citra diri. Jangan sampai, di ujungnya nanti, kita justru lupa untuk menghargai diri sendiri. Setiap pemikiran yang bagus dianggap buah dari meniru bangsa lain, setiap prestasi apik dianggap hasil kloning bangsa lain. Seakan kita sudah tidak punya ruang lagi untuk menjadi bangsa yang punya prestasi.

Jakarta, 16 Februari 2016