Tilang: Penertiban atau Jebakan

Saya berusaha tertib dalam berkendara di jalanan Jakarta. Selain tak ingin merogoh kocek karena kena tilang, saya juga berusaha mematuhi peraturan yang ada. Semacet apapun saya tidak masuk jalur busway. Kalaupun saya tidak sengaja masuk ke jalur tersebut, saya akan segera keluar.

Sudah berusaha berhati-hati rupanya saya tak terbebas dari yang namanya tilang. Ini kedua kalinya saya kena tilang di Jakarta. Dua-duanya saya merasa seperti jebakan. Sampai sekarang saya bingung, pengguna jalan yang salah atau polisi yang bebal dalam memasang rambu-rambu lalu lintas.

Pengalaman pertama saya kena tilang di kota ini terjadi di Jl. Letjen S. Parman, tepatnya di perempatan Tomang, dekat Taman Cattleya. Saya dan teman naik motor menuju Jakarta Barat untuk mencari kos-kosan. Kami baru pertama kali melewati ruas jalan tersebut.

Ada banyak jalan bercabang di situ, salah satunya masuk ke arah Toll Jakarta-Tangerang.  Memang di dekat itu ada petunjuk arah dengan banyak cabang, salah satunya bertuliskan “toll Jakarta-Tangerang”. Kami sempat ragu di cabang yang mana jalan toll tersebut.

Logika saya, umumnya pintu toll akan terlihat. Kalau tidak terlihat pintu toll, polisi biasanya memasang rambu dengan jelas bertuliskan “masuk toll”. Tapi di situ tidak ada tulisan, maka pikir saya, itu jalanan biasa (bukan toll).

Akhirnya kami berbelok ke kiri. Setelah terlanjur masuk, kami baru sadar bahwa itu jalan toll. Kami sempat bingung. Tak ada pilihan lain selain berbalik arah. Hebatnya sudah ada polisi yang menunggu kami. Di dekat situ kan memang ada kantor polisi.

Kami sudah berusaha menjelaskan bahwa kami baru pertama kali melewati jalur tersebut, tapi polisi itu berkata, “Kalau setiap orang baru lewat, trus nggak ditilang, kapan mau tertibnya?”

Ok, kami mematuhi prosedur yang ada dan menganggap itu kesalahan kami walau dengan hati dongkol.

Setelah itu, hampir setiap hari saya melewati lajur yang sama. Saya selalu was-was ketika sampai di perempatan Tomang. Jangan sampai masuk toll dua kali. Pernah suatu hari saya hampir masuk ke situ lagi, tapi segera sadar dan segera berbelok, lalu jalan lurus. 

Setelah berkali-kali, saya baru sadar bahwa permasalahan sebenarnya cukup sederhana. Tidak ada tulisan “masuk toll” yang umumnya terdapat di belokan-belokan jalan toll lain. Tulisan ini umumnya ada ketika pintu toll masih agak jauh dari ujung belokan, sehingga tak tampak. Ini lazim diberikan untuk memberikan peringatan kepada para pengguna jalan, “Jangan masuk atau berbelok di sini. Di depan sana ada pintu toll yang tidak kelihatan dari sini.”

Pengalaman ditilang yang kedua belum lama terjadi. Saya kena tilang ketika hendak pergi ke Kampus Yarsi di Cempaka Putih. Sampai di perempatan Senen, saya belok kanan. Saya juga baru pertama kali melewati jalur ini dengan motor.

Setelah belok kanan, ada dua plakat hijau dengan tanda anak panah ke kanan dan ke kiri. Keduanya menunjuk dengan jelas dua lajur yang berbeda. Tanda anak panah ke kiri menuju arah Bungur, sementara yang ke kanan menuju Cempaka Putih.

Saya merasa akan pergi ke Cempaka Putih, maka saya ambil lajur kanan. Asumsi saya, lajur kiri akan berbelok ke arah lain yang menuju Bungur.

Ajaibnya, saya memilih arah Cempaka Putih, lalu saya tiba-tiba saya sudah keluar di jalur khusus mobil. Ajaibnya lagi, sudah ada polisi menunggu di depan. Kena lagi dengan modus yang sama, batin saya. 

“Boleh lihat SIM-nya, Bu?”

Sembari mencari SIM, saya bertanya ke polisi yang bertugas menilang saya ketika itu. “Pak, saya tadi kan mengikuti arah panah ke Cempaka Putih. Kok bisa saya keluar di jalur mobil?”

“Nggak bisa, Ibu. Ibu nggak bisa lewat underpass. Semua sudah ada petunjuknya.”

Halah. Saya tidak banyak berdebat. Saya akhirnya ditilang dan segera berlalu.

Dalam dua kali tilang yang saya peroleh, sebenarnya, indikasinya sederhana. Saya tidak pernah ditilang sendiri. Di Tomang, ada tiga motor lain yang masuk jalur toll bareng dengan saya. Di Senen lebih banyak lagi, saya tidak menghitung. Kira-kira yan

Emosi yang Produktif

Saya seorang yang emosional dan “kadang” emosi yang keluar tidak produktif. Jadi sebenarnya saya agak malu juga menulis tentang ini. Tapi pengalaman liputan beberapa waktu yang lalu agak menarik untuk dikenang.

Malam itu saya mendapat kiriman agenda dari redaktur untuk meliput acara dukungan untuk Syam, di salah satu masjid besar milik instansi pemerintah. Saya berangkat pagi-pagi karena ingin menghindari macet. Suasana masih sepi. Di lantai bawah, dekat tempat wudhu, ternyata panitia telah menyediakan tempat untuk konferensi pers. Sepertinya acara ini akan ramai dan diliput banyak media. Tapi kursi yang disediakan sedikit.

“Ini banyak Mbak, biasanya juga aku kalau liputan kursinya nggak sampai segini,” ujar salah satu wartawan yang baru saya temui hari itu.

Banyak ya?

Saat konferensi pers tiba. Beberapa pembicara telah datang. Dimulailah konferensi pers sembari menunggu pembicara yang lain hadir. Ustadz pertama mulai berbicara dengan nada berapi-api. Keluar kata-kata kejam, keji, laknat, seorang wartawan di sebelah saya berkali-kali mengucapkan subhanallah, astaghfirullah…

Saya baru sadar, hanya ada dua wartawan dari media mainstream di situ. Sekitar 10 lainnya adalah wartawan dari media nonmainstream (nggak enak nyebut alirannya)? Hm, Beberapa nama baru saya dengar.

Suasana liputan berbeda sekali dengan yang umum saya hadapi. Umumnya, ketika pembicara telah berbicara, semua wartawan akan tenang, sibuk dengan catatan mereka masing-masing entah dengan pena, notebook, maupun handphone. Tidak begitu kejadiannya kali ini.

Tepat ketika narasumber mulai berbicara, hanya satu orang (dua dengan saya) yang menaruh rekaman. Tidak ada yang mencatat. Hampir semua sibuk memotret. Umumnya, wartawan atau fotografer yang ingin memotret tidak akan berdiri terlalu lama. Hanya beberapa detik saja untuk memberikan kesempatan yang lain ikut memotret. Kali ini tidak. Mereka berdiri begitu lama, hingga saya kehilangan mood untuk memotret. Sudah, minta panitia saja, batin saya. (Daripada tidak bisa memperhatikan konten pembicaraan karena menunggu untuk memotret)

Waktu ‘tabligh akbar’ telah dimulai. Dalam bayangan saya, tabligh akbar akan diisi dengan pengajian yang meneduhkan. Mungkin ditambah doa-doa untuk penduduk Suriah dan Palestina yang menyayat hati, orang-orang menangis sembari berdoa. Mungkin ditambah dengan penggalangan dana. Mungkin juga ada penjualan merchandise yang hasilnya akan didonasikan ke sana. Intinya semua program akan menuju ke sana dan semua dilakukan dalam suasana yang khusyu’.

Memang, semua kegiatan itu ada. Namun saya agak terganggu dengan isi ‘ceramah’ yang diberikan. Mereka menyebutnya orasi. Benar-benar orasi. Saya merasa masjid itu mendadak seperti Bundaran HI atau Monas ketika ada demo. Suara Ustadznya menggelegar memanaskan hati.

Sebagian orang di sebelah saya menangis. Ucapan Allahu Akbar terdengar berkali-kali diteriakkan dengan lantang. Saya juga pengin menangis, tapi lebih karena miris. Saya merasa tidak seharusnya masjid digunakan sebagai tempat membakar emosi seperti ini.

Saya juga tidak merasa ucapan Allahu Akbar yang diteriakkan lantang itu kemudian memberikan arti lebih. Apakah dengan teriakan itu kemudian mereka memahami kebesaran Tuhan? Kita ibarat sedang berdiri di atas kuda hendak berperang, tapi nyatanya kita terpekur di sebuah masjid. Mengapa kalimat itu tidak diresapkan dalam hati?

Saya menyebut ini kegiatan membakar emosi. Orasi yang diberikan lebih banyak muatan emosinya ketimbang pencerahan (menurut saya). Dipenuhi kutukan, kebencian, rasa dendam. Saya tidak tahan ingin pulang, jika tidak ingat saya sedang dalam tugas. Toh saya sudah mendapatkan press rilis. Saya merasa tidak perlu menuliskan panjang-panjang tentang acara ini karena hati saya tidak berada bersama mereka.  Tapi toh saya ikuti hingga selesai, demi tugas. Demi ingin melihat seperti apa kegiatan ini akan berlangsung.

Di antara empat sesi yang ada, hanya ada satu sesi yang menurut saya  menarik, disajikan oleh mantan artis Peggy Melati Sukma. Saya sebut namanya, karena menurut saya dia yang sejak konferensi pers mampu memberikan gambaran imbang dan mencerahkan. Ia memberikan foto-foto, menunjukkan apa yang telah ia lakukan di Gaza, memberikan pemahaman kepada mereka yang hadir tentang kondisi terbaru Gaza dan Suriah, serta bantuan apa yang mereka butuhkan. Dalam salah satu foto, ia menunjukkan gambar anak-anak Palestina yang menuliskan nama Peggy di pinggir pantai. Buat saya, tanpa banyak bicara gambar itu mampu menunjukkan betapa bahagianya mereka menerima uluran tangan atau sekadar doa dan support moral dari kita.

Seperti itulah yang seharusnya ditunjukkan. Tidak sekadar emosi, tapi gambaran tentang kondisi dan pemahaman tentang konflik yang terjadi. Emosi hanya membakar, membikin panas hati, menimbulkan kebencian, menumpulkan perasaan. Ketika ini bertumpuk-tumpuk, orang jadi malas berpikir karena sudah dilalap emosi.

Ketika sampai di kantor, saya mendiskusikan hal ini dengan redaktur ketika ia meminta saya membuat tulisan.

“Tadi tu acara apa yah? Aku nggak ngerti deh. Katanya tabligh akbar tapi pakai orasi gitu.”

*tersenyum, melihat selintas, lalu balik mantengin komputer. “Ya memang orasi.”

“Tapi kan itu masjid kenapa dibuat orasi kaya orang demo gitu? Kenapa nggak bikin acara kaya gitu di lapangan? Kaya kurang tepat dan cuma bikin emosi.”

“Lha tujuannya kan memang untuk membangkitkan emosi.”

“Iya.. Tapi emosinya menurutku nggak produktif. Cuma membakar emosi tok. Trus apa? Pada nangis memang, tapi aku nggak tahu mereka nangis karena apa. Sekadar benci, sekadar emosi, empati, atau mereka bener-bener tahu apa yang terjadi.”

“Ya udah nggak usah ditulis deh, kamu tulis ini aja.”

Kadang saya membaca tulisan yang seliweran di beranda fb, menuduh media mainstream tidak peduli pada berita-berita yang berbau Islam. Bukan, menurut saya ini bukan masalah Islam atau bukan, Timur Tengah atau bukan. Buatlah acara yang bagus, mencerahkan, mencerdaskan, bermanfaat, produktif.. tanpa diundang dan tanpa dibayar pun media akan datang. Tabik!

 

Pengalaman Pertama Naik Go-Jek

Ini hari pertama saya mencoba transportasi umum alternatif, Go-Jek. Saya dua kali naik Go-Jek dari Pedjaten Barat menuju Kantor PBNU di Kramat Sentiong, Jakarta, dan sebaliknya.  Walau sudah mendownload aplikasi Go-jek beberapa pekan lalu, baru hari ini saya benar-benar menggunakannya.

Pertama kali menggunakan aplikasi Go-Jek, saya agak bingung. Dalam kondisi belum log in, saya masukkan data tempat asal dan tempat tujuan. Setelah itu, saya diminta memasukkan data berupa nama, email, no. telpon, dan sebagainya. Saya harus menunggu kode verifikasi untuk log in terlebih dahulu. Nah, proses ini agak lama. Saya sempat mengira koneksi internet hp saya buruk, sehingga sempat mengulang proses dan memasukkan no. hp yang lain. Tetap tidak masuk kodenya, padahal saya sudah harus segera cuz ke tempat tujuan.

Akhirnya, saya ulangi proses pendaftaran untuk ketiga kalinya dan memutuskan untuk menunggu sampai kode masuk. Setelah kode masuk, saya pikir proses booking sudah selesai, karena tadi saya sudah memasukkan data tempat asal dan tempat tujuan.

Sesuatu yang lucu terjadi. Tak sampai satu menit, beberapa driver Go-Jek mondar-mandir di jalan dekat tempat saya menunggu. Yang lain lewat begitu saja, ada satu driver yang berhenti di sebuah gang dan tampak bingung mencari info. Saya pun mendekatinya.

“Pak, dari Go-Jek ya?” kata saya dengan ‘polosnya’.

Intinya saya mendekati driver Go-Jek yang salah karena bingung bagaimana saya bisa tahu, itu lo driver buat kamu. Nah, driver-driver ini bakal cuek, karena mereka sudah punya orang yang mau dijemput. Mereka tidak srobat-srobot. Geli kan, udik kan saya jadinya…hiks.

Saya kembali ke tempat awal menunggu, bolak-balik menjajal aplikasinya dan baru sadar order/booking saya yang tadi blm terproses. Yang terproses baru pendaftarannya. Saya akhirnya mengulang proses booking dan..tring! booking tercatat. Simpel sekali ternyata dan super cepat.

Tak sampai satu menit, ada sebuah notifikasi masuk, memberitahukan bahwa saya sudah mendapatkan driver. Si driver sedang menuju ke tempat saya. Namanya Abdul Syakur. Proses selanjutnya, sebuah notifikasi masuk lagi. Katanya driver sudah sampai di sekitar saya. Kalau saya kesulitan menemukannya, saya bisa menelpon. Saya mencoba telpon tapi tidak diangkat. Mungkin dia masih di jalan.

Tak sampai 5 menit datang seorang driver Go-Jek. Dia langsung tahu, dan saya langsung tahu. Kami bagaikan jodoh yang akhirnya bertemu (apasih). Dia memberikan sebuah masker dan pengatur rambut (mirip bandana), lalu menanyakan ke mana tujuan saya (mungkin konfirmasi ulang, soalnya saya sudah menuliskan di orderan saya). Driver itu memberikan helm, dan kami pun cuzzz menuju Kramat Sentiong.

Oh ya, jarak dari Pedjaten ke Kramat Sentiong lumayan jauh. Kalau naik taksi, saya perkirakan bisa mencapai..hmm.. mungkin Rp 50-75 ribu atau lebih. Nah selama Ramadhan (sebenarnya sudah sejak sebelum Ramadhan juga) ada promo Go-Jek ke mana-mana Rp 10 ribu. Murah banget ya? Rada nggak tega sih, jadi sempat kepikir buat ngasih lebih. Tapi, bukan soal ngasih nggak ngasih atau amal nggak amal. Saya jadi keinget sama gratifikasi, amplop, dan semacamnya. Kebiasaan sederhana, yang dari kita mungkin tujuannya baik, bisa jadi mengakar menjadi sistem, habit, kultur yang nggak baik. Kalaupun ingin mendorong kesejahteraan para driver Go-Jek dan sejenisnya, it must be started from the Go-Jek. Perusahaan yang harus ngasih sehingga para driver nggak ngobyek atau main belakang. Nggak cuma di Gojek sih, di perusahaan manapun kayanya baiknya begitu.

Nah, saya akhirnya sampai ke tempat tujuan dengan aman. Pak Abdul membonceng saya dengan lancar, tidak terburu-buru dan saya merasa nyaman. Setelah dia pergi, muncul notifikasi untuk memberikan penilaian kepada driver. Bentuknya bintang skala lima. Saya langsung memberi 5 bintang dan menuliskan komentar berupa ucapan terimakasih karena sudah mengantar sampai tujuan dengan selamat.

Nah, setelah acara di PBNUselesai, saya kembali menggunakan Go-Jek. Tak lama setelah order, saya mendapat telepon dari nomor asing. Ternyata ini driver Go-Jek yang mau menjemput saya. Sangat cepat responnya dan dia tidak segan menelpon saya duluan. Tak lama driver datang dan memberikan helm pada saya. “Maaf ya, Mbak maskernya habis,” kata dia.

Saya pun naik ke atas motor gede driver Go-Jek tadi tanpa ada pikiran apa-apa. sekitar 100 meter dari lokasi awal penjemputan, jalanan agak macet. Agak-macet, bukan macet-banget. Driver ini sepertinya tidak sabar, dia akhirnya melanggar pembatas jalan berupa corong oranye yang sengaja ditaruh di pinggir jalan (apa ya itu namanya). Saya masih tidak ada feeling apa-apa. Suasana memang sangat panas, apalagi ini bulan puasa. Mungkin dia ingin cepat sampai, atau dia sedang kejar setoran, pikir saya.

Saya mulai agak tidak nyaman ketika tanpa sengaja driver Go-Jek berperawakan besar ini ‘menyenggol’ bagian belakang motor lain. Ketidaknyamanan ini bertambah ketika dia masuk ke jalur busway. Saya nggak suka banget bagian ini, karena biasanya kalau saya berkendara sendiri, saya akan mencoba sebaik mungkin untuk tidak masuk jalur busway. Dua kali masuk jalur busway, bahkan sempat kami berada di antara dua busway, saya langsung terpikir tentang penilaian driver tadi. Go-Jek perlu tahu, dan perlu mereview kinerja driver mereka. Nilai yang terpikir pertama kali adalah 3, karena pelanggaran marka, nyenggol motor lain, dan 2 kali masuk jalur busway. Tak lama kemudian kami sampai ke perempatan. Driver ini melanggar lampu merah. Nilainya saya turunkan lagi menjadi dua. Tak sampai di situ, dia masih melanggar satu kali lagi. Yang bikin saya deg-degan juga, ketika kami melewati rel kereta api, dia tidak berhenti walau tanda kereta api akan lewat sudah berbunyi.

Beruntung saya masih bisa sampai dengan selamat. Setelah memastikan driver menjauh, saya memberikan penilaian satu bintang. “Terima kasih sudah mengantarkan saya dengan selamat. Tapi maaf baru bisa kasih penilaian satu bintang karena Pak Y sempat 2 kali masuk jalur busway, 2 kali melanggar lampu merah, dan sempat menyenggol bagian belakang motor lain. Safe ride ya, Pak J” tulis saya.

Sejauh ini, itu tadi dua pengalaman saya. Yang satu baik, dan satu buruk.

Buat saya pribadi, ide membentuk Go-Jek sangat bermanfaat buat orang-orang seperti saya. Seperti saya, yang dalam pekerjaan sehari-hari sering mobile ke sana-ke mari tapi tidak punya kemampuan tawar-menawar yang baik dengan para tukang ojek pangkalan.

Sebelum ada Go-Jek, bisa dipastikan saya selalu membayar lebih dari Rp 15 ribu tiap kali naik ojek. Rp 15 ribu itu jaraknya sama dengan dari Halte Polda ke Pacific Place. Seorang supir taksi pernah berseloroh ke saya, kalau naik ojek nggak pinter nawar, bisa dikibulin. Naik ojek jadi sama kaya naik taksi. Saya pernah mencoba membuktikan, dan taraaa…betul sekali. Dengan jarak yang sama, naik ojek ketika itu saya kena Rp 20 ribu, sementara ketika naik taksi kena Rp 22 ribu.

Nah, dengan sistem yang sudah baik ini, Go-Jek harusnya dapat melengkapi layanan dengan menyediakan driver yang baik pula. Minimal, yang taat aturan lalu lintas (mereka pake jaket berlogo Go-Jek  yang keliatan banget kan kalau masuk jalur busway lo). Selain menjaga penumpang, menjaga orang lain, itu juga menjaga keselamatan driver sendiri.

Saya cuma bisa berharap, dengan keberadaan driver Go-Jek yang sangat bermanfaat, mereka bisa mendapatkan fasilitas yang mendukung mereka jadi driver (atau rider) yang profesional, mendapatkan penghasilan dan pendidikan yang mencukupi untuk menjadi driver yang baik. Well,,, done! That’s all my review untuk pengalaman hari ini. Thanks to Go-Jek.

Pelecehan Tersembunyi

Beberapa tahun lalu, ketika jathilan masih ngetren di kampung-kampung, kasus pelecehan tersembunyi sebenarnya sudah sering terjadi. Lagi asik umpek-umpekan di sekitar pagar, tiba-tiba ada perempuan yang merasa digerayangi pahanya, pantatnya, merasa hampir dipeluk, dan sebagainya. Kasak-kusuk pun terjadi. Tak hanya satu orang yang mengalami pelecehan di satu tempat itu. Pelaku berpindah-pindah dari satu sudut ke sudut lain, dari paha satu wanita ke wanita lain. Tapi tak ada tindakan.

Sekadar bilang “Saya dilecehkan,” atau “Orang itu grepe-grepe saya,” atau semacamnya memang tidak mudah. Apalagi ketika kita sendiri tidak yakin sedang dilecehkan. Kita mungkin akan berpikir, mungkin pelaku tidak sengaja. Atau ketika kita yakin pun, kita membayangkan bagaimana si pelaku bakal ngeles dan akhirnya tidak jadi melapor.

Saya sendiri bukan contoh baik. Pernah suatu hari saya pulang liputan naik Transjakarta bersama seorang teman wartawan (laki-laki). Kondisi penuh sesak, namun teman saya itu mendapat tempat duduk. Ia lalu memberikan tempat duduknya pada saya.

Awalnya, teman ini sebut saja A berdiri tepat di depan saya. karena masuk penumpang baru, ia terpaksa bergeser agak menjauh. Yang berdiri di depan saya berganti seorang pria berumur sekitar belasan tahun. Beberapa menit dalam posisi seperti itu, lalu terjadi hal aneh yang tidak bisa saya ceritakan di sini (halah). Awalnya saya berpikir itu hanya ketidaksengajaan. Lama-lama, saya yakin itu bisa saja berlanjut jadi pelecehan. Saya mulai agak panik, hendak berdiri, namun kondisi yang penuh sesak menyulitkan saya. Saya memanggil A untuk menarik saya sehingga saya bisa berdiri. Saya pun berdiri dekat teman tersebut.

Mungkin merasa kondisi aneh, saya sudah duduk dan minta berdiri..atau karena melihat ekspresi wajah saya yang aneh (ya iyalah), A lalu bertanya “Kenapa, Nda?”

Saya bilang nggak papa. Tidak berapa lama, dia bertanya lagi kenapa saya tidak duduk saja.

Saya cuma bilang, “Nggak, nggak papa. Aku di sini aja,” lalu mengalihkan pembicaraan.

Yang saya rasakan waktu itu, malu, nggak yakin kalau itu pelecehan, tidak ingin ada keributan, dan berbagai hal campur aduk. Malu itu yang paling gede.

Peristiwa lain terjadi ketika saya liputan demo salah satu ormas Islam. Korbannya salah satu teman wartawati. Ini bukan soal ormas Islam atau bukan. ini tentang kasus pelecehan yang kebetulan terjadi ketika saya liputan demo ormas Islam.

Demo terjadi di Kebon Sirih, depan Gedung DPRD Jakarta, sudah berlangsung dari pagi hingga siang. Suasana panas terik. Massa agak memanas. Dari takbir dan tasbih, teriakan berubah menjadi makian-makian dan kata-kata kotor pun keluar. Di dalam gedung, beberapa habib sedang berdiskusi dengan anggota DPRD. Tak lama kemudian mereka keluar dan disambut oleh para demonstran.

Saya dalam posisi tidak menguntungkan karena berdiri agak jauh dari pintu keluar. Hal yang menyebalkan lagi, para jamaah ini senang sekali membersamai habibnya, sehingga ke manapun mereka pergi selalu dikuntit. Tidak hanya oleh orang-orang yang sudah ditunjuk sebagai petugas keamananan, tapi demonstran-demonstran umum juga senang menguntit mereka.

Dari kejauhan saya lihat teman-teman saya mulai berkerumun mengelilingi seorang habib. Saya pun merangsek mendekati mereka. Baru saja sampai, terdengar ada keributan. Saya pun bertanya-tanya ada apa.

“Bapak jangan bohong dong,” kata P, seorang teman wartawati sebuah media nasional terkemuka.

“Provokator ini,” kata salah seorang pria bersorban.

Polisi datang, kemudian semua bubar begitu saja.

Sejenak kami tak mempedulikan makian-makian yang terus berkumandang dari atas mobil, yang dilontarkan untuk Ahok. P, duduk dengan mata berkaca-kaca sembari bercerita. Di tengah kerumunan itu, ia merasakan sepasang  tangan melingkar di pinggangnya. Ketika menengok, ia melihat seorang habib yang namanya tak asing di telinga kami. Sekali lagi ini bukan soal ormas Islam atau soal Habib, ini soal pelecehan seksual yang bisa terjadi di mana saja, dengan korban dan pelaku siapa saja.

Tak seperti saya yang memilih diam karena malu, P langsung protes saat itu juga. Si habib bilang ia tidak berniat memeluk, hanya memegang pinggang karena ingin lewat.

Melihat ada keributan, para jamaah (demonstran) pun mendekat. Teman saya justru dituduh sebagai provokator yang ingin memanaskan suasana. “Saya dari *****! Orang itu mau melecehkan saya,” kata P sembari menahan tangis, menekankan nama media tempat ia bekerja, mungkin dengan harapan mereka tidak asal menuduh.

Polisi datang mendekat. Tak lama setelah mendengar penjelasan masing-masing pihak, polisi memilih jalan aman. Peristiwa itu dianggap hanya salah paham.

P meminta kami menulis berita tentang peristiwa tidak menyenangkan yang dialami. Bingung juga, saya sendiri merasa pecundang karena tidak ikut menulis dengan alasan (yang hanya saya katakana di hati) saya tidak tahu kejadian sebenarnya seperti apa.

Seorang teman dari media lokal mencoba menenangkan. Ia lalu bertanya, “P, saya tahu gimana perasaan kamu. Tapi saya mau memastikan, kamu yakin kalau itu tadi pelecehan? Soalnya kan kadang laki-laki tu sebenarnya nggak berniat melecehkan, tapi perempuan kan sensitif, jadi dikira melecehkan,” kata dia.

Mendengar itu, P tentu saja agak memanas, terlihat dari nada suaranya yang meninggi. “Nggak. Aku yakin, dia megang aku tu begini (sambil mempraktikkan tangan memeluk pinggangnya). Nggak mungkin kalau Cuma mau lewat. Terserah kalau kamu nggak percaya sama aku, ini pasti aku tulis, aku tahu pelakunya siapa,” kata dia.

See, sekadar untuk bilang bahwa saya dilecehkan itu tidak mudah. Perempuan-perempuan yang berani bilang pun menghadapi tantangan mulai dari pelaku yang ngeles, polisi yang cari aman, teman yang menyangsikan, dan sebagainya.

Dalam dua kasus ini saya bukan contoh yang baik. Tapi, membaca sebuah tulisan hari ini, saya berpikir kalau sampai terjadi lagi tak ada cara lain selain tidak tinggal diam.

Kita bisa melapor ke orang-orang sekitar, ke polisi, petugas keamanan, apapun yang bisa diupayakan. Tak memikirkan respon yang akan diterima, laporkan saja dulu, pastikan orang tahu apa yang terjadi. Minimal si pelaku tidak akan melanjutkan perbuatannya.

Kita, yang melihat orang lain dilecehkan dan tidak berani melapor juga perlu memberikan dukungan. Karena sekadar untuk berani bercerita saja tidak mudah. Petugas keamanan, polisi dan pihak yang berwenang juga perlu bergerak cepat. Seperti pada kasus di tempat jathilan atau di angkutan umum, pelaku biasanya berpindah-pindah dan mencari mangsa-mangsa baru.

So girls, and me, be aware and jangan tinggal diam!

What Happen to Parents and Adults Nowadays?

Saya baru selesai membaca berita tentang Angelina yang sudah beredar beberapa hari ini. Gadis kecil dari Bali ini dikabarkan hilang ketika bermain di halaman rumah ibu angkatnya. Keluarga membuat sebuah fanpage di Facebook, mengumumkan hilangnya bocah ini. Fanpage ini juga aktif mengabarkan keterlibatan berbagai pihak untuk mencari si gadis.

Belakangan diketahui Angelina ditemukan telah meninggal. Jasadnya terkubur di kandang ayam, di dalam rumah ibu angkatnya. Fanpage yang awalnya mendapat simpati banyak pihak berbalik menarik cibiran. Keluarga angkat ini dituduh membunuh Angelina dan menebarkan drama melalui media sosial.

What happen to parents nowadays?

Beberapa waktu lalu jagad berita dihebohkan oleh dosen universitas Islam di Bogor yang menyiksa anaknya. Ia dan istrinya diketahui mengonsumsi narkoba. Kegiatan ini, menurut seorang teman pengacara yang tinggal satu komplek dengannya, juga dilakukan di depan sang anak.

Dua kasus ini membawa saya kembali pada memori yang sudah-sudah. Yang semakin membuat pertanyaan saya terngiang di kepala.

Di awal-awal liputan, saya menemukan sebuah yayasan sosial secara tidak sengaja. Awalnya saya hanya berjalan mencari lokasi pemulung di sekitar kali Ciliwung. Informasi ini saya dapatkan setelah mengembangkan data sebelumnya tentang pkl, pasar, terminal…betapa kompleks masalah di satu tempat ini.

Saya menemui seorang lelaki muda di sana, sedang menata batu akik. Ketika itu batu akik belum booming, namun ia sudah memprediksi tidak lama lagi batu akik akan kembali digemari. Sebenarnya saya sudah agak desperate. Hari sudah hampir petang dan saya belum mendapatkan berita yang “nampol”. Saya tidak tahu kali Ciliwung yang dimaksud tepatnya di mana, namun kata orang masih jauh. Saya ngobrol di yayasan itu.

Ruangannya kecil, hanya terdiri dari tiga kotak. Saya diperkenalkan dengan Kiki, seorang anak berusia 14 tahun. Kiki sebatang kara, namun kini mendapatkan keluarga di tempat itu. Ia ditemukan oleh pengurus yayasan yang setiap malam selalu ‘berpatroli’ di sekitar stasiun, mencari gelandangan untuk diberi makan dan diajak datang ke yayasan. Di yayasan itu ia belajar membaca, mengaji, dan banyak lagi.

Di usianya yang keempat belas, masa hidupnya lebih kekinian dibanding saya. Namun ia tidak bisa membaca. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan jelas, seperti antara malu, takut, khawatir, merasa rendah diri..

Saya tidak tega mengajukan pertanyaan lebih lanjut, tapi saya harus bertanya sembari menahan ludah di leher yang seakan mencekik. Kiki nakal ketika kecil. Entah nakal, kreatif, atau apa istilahnya. Ia pergi dari rumah naik kereta hingga Surabaya dan tak tahu jalan kembali, yang kemudian membuatnya hidup di jalanan. Ketika dewasa, ia ke Jakarta. Ia pernah mencoba mencari orang tuanya. Berdasarkan informasi yang ia dapatkan entah dari mana, ia dulu tinggal di sekitar Pasar Minggu. Ia datangi rumahnya, namun keluarganya telah pindah entah ke mana. Ia hidup sebatang kara jadinya.

Kami kembali bercerita. Ucil, salah satu pengurus yayasan itu menceritakan seabrek kegiatan yang mereka lakukan. Di sela ceritanya, ia menyebut sebuah nama. Seorang anak yang nasibnya sama seperti Kiki, hidup sebatang kara. Bedanya, anak itu telah berpulang ke rumah Tuhan.

Disodomi kakek tua, kata Ucil. Saya lagi-lagi tercekat. Beberapa bulan sebelumnya saya hanya seorang pembaca berita yang mengklak-klik link tentang sodomi pada anak-anak gelandangan. Kini saya mendengarnya sendiri. Anak itu mati disodomi. Orang-orang bukan tidak tahu, namun tidak ada yang berani melapor.

Sepulang dari yayasan itu, saya tak bisa menahan air mata bahkan ketika masih di atas angkot. Saya merutuk-rutuk, meminta diri untuk lebih bersyukur. (Sampai di sini tiba-tiba saya tidak tahu harus menulis apa)

Sekitar setengah tahun lalu, saya kembali harus berhadapan dengan kasus anak. Ini pertama kalinya saya liputan pelecehan seksual pada anak langsung. Saya bertemu orang tua dan melihat anaknya.

Di sebuah gang kecil, di antara rumah yang berhimpit-himpit, 9 anak dicabuli oleh seorang tukang ojek. Kami datang atas informasi KPAI. Sementara KPAI melakukan mediasi, kami duduk di sebuah warung. Warung itu ternyata milik salah seorang ibu korban, sebut saja Bunga.

Kulitnya putih, rambutnya sepundak, ibu itu masih muda. Ia mengatakan anaknya masih kelas 1 SD. Tukang ojek itu tinggal di kontrakan yang sama dengan bunga. Sebelumnya, tersangka tinggal di kontrakan lain di kampung yang sama. Di tempat itu, ia sering membawa masuk ABG yang kemudian dipamerkan sebagai pacar. Di situ mereka bergumul. Setelah pindah, ia sering memanggil Mawar, anak Bunga ke kamar dan mengajak ‘nonton film’. Di sana Mawar dicabuli.

Bunga adalah satu dari dua ibu korban yang berani memvisumkan anaknya. Di mata saya ia sangat tegar. Ia menceritakan apa yang terjadi pada anaknya, masih dengan senyum, meski sesekali berkaca-kaca. Sebelum bercerita ia sempat menolak sembari berkata, “Nanti saya emosi trus nangis lagi,” kata dia.

Hasil visum mengatakan alat kelamin Mawar, yang masih berusia 7 tahun sudah rusak. Saya tidak tahu yang dimaksud rusak itu separah apa, tapi saya lagi-lagi tercekat. Bunga yang di mata saya sangat tegar mulai tampak berkaca-kaca. Sembari melayani pesanan kami, ia terus bercerita.

Setelah peristiwa itu, Bunga sempat memarahi anaknya. Ia kalap dan sempat memukuli Mawar. Ia memaksa Mawar mengakui apa saja yang sudah dilakukan tersangka.

Si tersangka sempat diadili oleh warga setelah ketahuan mencabuli tidak hanya satu anak. Ia diusir dari kampung dan dikabarkan lari ke Bogor.

Mawar, kata Bunga justru menjadi lebih rajin berangkat sekolah dan mengaji setelah peristiwa itu. Ia lebih bersemangat. Suatu hari Mawar pulang dan bercerita, “Mama, tadi di sekolah ibu-ibu pada ngomongin aku sama Mama,” kata dia.

Sejak itu emosi Mawar menjadi labil dan suka melawan.  Malu, begitu kata Bunga. Ibu-ibu membicarakan anak semata wayangnya yang tak lagi perawan. Ia sendiri dicemooh karena menceritakan ‘aib’ yang terjadi pada anaknya ke mana-mana, ke media. Bunga hanya pasrah. Malu, tapi mau bagaimana lagi? Hanya dengan bicara dan bukti visum pelaku yang telah menghancurkan sebagian masa depan anaknya bisa ditangkap dan diadili.

Melihat hasil visum kedua tetangganya, orang tua yang lain tidak berani melakukan hal serupa. “Kalau tahu begini mungkin saya juga tidak mau Mawar divisum. Lebih baik saya tidak tahu daripada saya harus mengetahui kenyataan seperti ini,” kata Bunga.

Busuknya lagi, mereka mengaku dimintai uang Rp 1,5 juta ketika melapor ke polisi. Seorang teman berbisik, polisi tidak semangat menangani kasus seperti ini karena tidak ada uangnya.

Ketika kami mengklarifikasi informasi ini kepada polisi, pejabat kepolisian yang ketika itu menjabat di dua satuan, reskrim dan PA mengatakan (tentu saja) itu tidak benar. Menurutnya, polisi hanya menginformasikan bahwa biasa visum itu Rp 1,5 juta. Polisi tidak bisa melakukan visum sendiri sehingga visum hanya dapat dilakukan di rumah sakit. Masuk akal sekali, saya pun memilih netral dan menulis sesuai pernyataan masing-masing pihak.

Kedongkolan mulai muncul ketika petinggi polisi yang biasanya melakukan konferensi pers tiba. Kami menanyakan perihal kasus tersebut, kemudian ia bertanya kepada bawahannya, siapa yang menangani? “Saya, Pak.” kata dia.

What? Laporan sudah masuk semua dari sembilan orang tua dan si pejabat belum memberikan laporan ke petinggi? Padahal biasanya ia rajin sekali melaporkan setiap progress, apalagi tahu hari itu akan ada rilis. Saya mau tidak mau membenarkan pernyataan teman saya, polisi dalam kasus itu terkesan tidak terlalu bersemangat (entah apa istilah yang tepat) menyelesaikan kasus ini. Terlepas dari perkara uang, kesibukan, atau hal lain saya tidak tahu. “Laporan sudah masuk. Segera akan kita tangani,” kata si petinggi setelah mendapat laporan saat itu.

Saya hampir pulang ketika melihat segerombolan tukang ojek di ujung gang. Dari obrolan dengan mereka, diketahui tersangka seringkali ‘main’ ke lokalisasi. Ia menyewa gadis-gadis ABG dan membawa ke kontrakan. Pembicaraanya di lokasi tak jauh-jauh dari hal cabul, sampai beberapa teman mengaku muak. Tak hanya pamer, seorang temannya mengaku pernah ‘ditraktir’.

Mereka umumnya tak menyangka tersangka tega ‘memperkosa’ anak-anak, sebab ia diketahui sudah punya tiga anak. Ah, sudah gila.

Beberapa pekan lalu, seorang teman membagikan video mesum anak-anak. Pelakunya masih berusia lima atau tujuh tahun (lupa). Video itu bukan satu-satunya yang beredar. Dilihat dari sudut pengambilan gambar dan suara di dalamnya, video itu jelas diambil oleh orang dewasa. Anak-anak itu diajari, diarahkan, direkam, dan mereka yang masih polos tertawa-tawa tanpa tahu apa yang mereka lakukan.

What happen to parents and adults nowadays? What will the kids be in the future? What can we do to stop this?

Suatu Siang bersama Lelaki Hidung Belang

Tulisan ini akan jadi perpaduan lengkap curahan hati dan cerita liputan. Peristiwa yang saya ceritakan di sini terjadi berbulan-bulan lalu. Ceritanya, saya ditempatkan di Jakarta Pusat. Ibarat orang jalan, saya masih tertatih-tatih karena tidak ada motor dan tidak tahu arah (utara, selatan, barat, timur). Tahu arah, buat saya yang sejak kecil tinggal di Yogyakarta sangat penting untuk mendapatkan gambaran “peta” lokasi di otak. But it’s not work in Jakarta.

Derita ini, nah mulai lebai kan, ditambah lagi dengan tidak ada kendaraan selain busway dan angkot-angkot untuk menjelajahi Jakarta Pusat ketika itu. Dari dalam busway, arah jalan hanya lurus dan belok. Ini semakin menyulitkan saya menghafal tempat. Alhasil, berbulan-bulan saya masih terus mencari-cari, masih bingung di lokasi ini.

Suatu hari, saya liputan ke Monumen Nasional a.k.a Monas. Siang bolong di Monas panasnya minta ampun. Belum lagi, saya harus berjalan kesana-kemari melihat-lihat lokasi, mencari orang untuk diwawancara. Capek dong? Iya capek.

Saya keluar dari parkiran IRTI Monas. Ini tempat relokasi para pedagang kaki lima di Monas. Ya, pedagang kaki lima di Monas memang masalah pelik di lokasi ini. Sekuriti yang tugasnya mengamankan lokasi justru takut dengan para pedagang yang mayoritas orang Madura. Bukan rasis, berdasarkan keterangan sekuriti, yang saya rasa-rasa, memang pengaruh ras ini yang membuat mereka bergidik. Mereka pernah diancam akan dihadang (dan tentu dicelakai) jika tak membiarkan para PKL masuk. Mereka masuk melalui pagar-pagar dengan cara merusak, bahkan mereka membuat kartu anggota sendiri. Ini keterangan pejabat berwenang di Monas.

Versi pedagang, tentu saja mereka hanya butuh hidup dari berjualan. Mereka orang-orang daerah yang datang ke ibukota tanpa keterampilan dan berharap bisa mengumpulkan pundi-pundi dari para wisatawan. Seorang teman pernah mewawancara pedagang kopi yang biasa berjualan dengan sepeda. Tahu omsetnya? Rp 20 juta per bulan. Ini informasi dari salah satu pelaku lo ya. Tentu ini tidak bisa menggambarkan kondisi seluruh pedagang kopi (dan minuman).

Nah, sudah saya bilang saya lelah (halah). Saking panasnya, dan tentu saja saya butuh mengistirahatkan kaki yang setiap hari berjalan hingga betis membengkak (membesar maksudnya), saya memutuskan duduk di salah kursi di pinggir jalan. Kalau saja, pikir saya dalam hati, ada seorang fotografer baik hati mau memotret saya, hasilnya pasti bagus (maksudnya secara fotografis ya). Ada kursi klasik di trotoar yang cukup lebar. Perencanaan tempat ini sebenarnya lumayan bagus. Cuma ya, perawatan, pemanfaatan sesuai fungsi seringkali jadi masalah fasilitas umum di mana-mana.

Di seberang jalan sana, agak ke pinggir, para anggota Front Pembela Islam (FPI) seperti biasa demo di depan balaikota DKI Jakarta. Mereka getol sekali demo setiap hari Jum’at untuk melengserkan Ahok. Ah ada cerita menarik juga soal demo ini. Saya ceritakan lain waktu. Tak lama kemudian, serombongan pasukan lain lewat. Mereka menuju kantor Kemenaker (kalau tidak salah ingat). Siapa mereka yang juga getol demo rutin? Yap… orang-orang dari serikat pekerja.

Saya jadi ingat kata salah satu pejabat kantor, Kang Maman. “Jakarta Pusat itu unik. Ada lebih dari 400 demo setiap bulan,” kata dia.

Iya. Kalau mau belajar tentang liputan demo, di sini tempatnya. Pusat segala gedung dan kantor penting.

Balik lagi ke pinggir jalan, ke sebuah kursi taman di trotoar pinggir parkiran IRTI Monas. Saya duduk di sana menikmati semilir angin di tengah suasana yang puanas, kalau kata orang Jawa panas ngenthang-enthang. Tak sampai lima menit, sebuah motor lewat. Bukan sebuah sebenarnya, banyak kendaraan lalu lalang di situ, tapi motor ini dan pengemudinya punya cerita.

Motor itu sudah hampir berlalu, namun pengemudinya mengerem tiba-tiba. Dia menengok ke arah saya. Saya bingung dong? Saya celingukan ke kanan, ke kiri. Tak ada orang lain di sekitar saya yang bisa dipandang. Baru saja sadar kalau orang tidak saya kenal ini melihat ke arah saya, si pengemudi memutar motor menaiki trotoar dan memarkir di dekat kursi yang saya duduki.  Mungkin mau nanya tempat, pikir saya.  Tapi kenapa pakai parkir motor di situ?

Tak sempat berpikir panjang, si lelaki yang saya perkirakan berumur 30-an tahun ini menyapa saya. Dia menanyakan saya sedang menunggu siapa. Saya bilang dong, saya nggak nunggu siapa-siapa. “Trus kenapa duduk sendirian di sini?” tanya dia.

Ngok! Feeling saya langsung bekerja. Ini kayanya cowok hidung belang. Trus? Kenapa dia nyapa saya? Saya dekil, nggak dandan, keringetan (ya iya abis jalan panas-panasan), tidak ada tampang-tampang (maaf) Pekerja Seks Komersial yang suka mangkal di pinggir jalan. Damn! Salah milih tempat duduk.

Tapi dasar saya iseng. Saya tengok kanan kiri. Beberapa meter di dekat saya, ada sebuah mobil dinas Satpol PP dan beberapa petugas duduk-duduk di sana. Saya (agak) aman, pikir saya. Kalau ni cowok macam-macam, saya tinggal langsung teriak atau dengan elegan mendekati Pol PP untuk cari aman. Ini alasan pertama saya tetap duduk di situ.

Kedua, saya merasa perempuan baik-baik. Kursi ini disediakan untuk orang-orang seperti saya yang kelelahan, bukan tempat PSK mangkal. So, saya sudah duduk di tempat yang benar. Kalau orang tidak mau duduk di situ karena takut disangka PSK, sama saja kita secara tidak langsung membiarkan hal yang tidak lazim menjadi umum dong?

Ketiga, saya penasaran bagaimana interaksi laki-laki hidung belang dan PSK. Saya pernah ditugasi ke suatu tempat untuk mencari PSK dan… damn, saya gagal. Saya belum pernah lihat wujud PSK di dunia nyata, jadi saya tidak yakin apakah yang saya lihat PSK atau bukan. Btw, sekarang saya sudah tahu. Hahaha..

Dengan most powerful thinking bahwa kursi itu hak orang-orang yang ingin duduk melepas lelah setelah berjalan jauh, bukan untuk transaksi esek-esek, saya keukeuh duduk. Si cowok hidung belang itu duduk di samping saya, bingung mencari bahan pembicaraan.

Dia tanya di mana saya tinggal. Saya asal sebut saja, Kebayoran. Dia tanya lagi, penasaran katanya, kenapa saya duduk di situ sendirian. Katanya aneh ada cewek duduk sendirian di tempat itu. Saya mulai kesal, “Apa yang aneh? Kursi ini kan memang untuk duduk. Saya baru aja jalan jauh, capek, trus saya duduk di sini. Nggak aneh kan?”

Dia lalu mulai mengurangi kegenitannya yang terlalu kelihatan. Dia tanya, saya mahasiswa ya? Iya kata saya. Dia tanya ini-itu yang saya jawab asal-asalan. Saya mulai tertarik ketika dia bercerita tentang pekerjaannya. Awalnya sih saya tanya kenapa dia nggak kerja, malah duduk membersamai saya sambil bicara ngelantur kesana-kemari.

Dia cerita, dia kerja di sebuah perusahaan, tapi sekarang sedang vakum karena bosnya terlibat masalah dan sedang menjalani proses hukum. Perusahaan apa, tanya saya.  Dia mendekatkan mukanya ke wajah saya dan bilang, “Perusahaan cintaku padamu.”

AAAARGH! Di kepala saya sudah ada adegan komik dimana saya adalah pemeran utama. Saya menampar cowok genit itu dan menghajarnya sampai babak belur. Sigh, tapi itu hanya bayangan. Dengan super jutek saya memalingkan wajah. Saya tanya, memang apa pekerjaannya sampai harus berurusan dengan polisi?

Kata dia, tugasnya “membantu” para nasabah yang tidak bisa membuka rekening bank karena terhambat domisili. Zaman dulu kayanya, karena sekarang kan asal pakai e-KTP bisa buka rekening di mana saja. Nah, tugas dia melengkapi segala persyaratan, menulis data palsu, sampai meloloskan si klien untuk dapat rekening, termasuk menerima telepon dari bank yang menanyakan apakah nomor yang dimaksud adalah kantor yang tertulis di data calon nasabah. Intinya, pekerjaannya membohongi petugas bank.

Saya tanya, memang tidak takut dipenjara, kan pekerjaan itu beresiko. Dia mulai bilang, ya jangan didoain seperti itu. Lha saya tidak mendoakan. Saya bertanya, apakah tidak ada kekhawatiran sementara dia tahu resiko pekerjaan itu. Pertanyaan lain (yang masih di otak) tentu saja, apakah dia tidak punya keterampilan lain, dan sebagainya.

Dua orang lelaki, sepertinya karyawan kantor dekat-dekat lokasi saya duduk lewat. Mereka melihat saya. Asem, hei pandangan itu! Saya bukan PSK! Saya cuma bisa menggerutu dalam hati sambil berusaha tetap tampil santai di depan patkay di samping saya.

Saya lihat petugas satpol PP masih ada. Saya juga masih mengamati rombongan demo di seberang sana. Diam-diam saya mengirimkan sms ke seorang teman saya yang cowok dan punya kendaraan. Kebetulan dia sedang tidak liputan. Saya pun minta dia datang menjemput saya, sekaligus nantinya mengantar saya ke tempat liputan di Menteng yang agak susah angkotnya. Tak lupa saya menceritakan kondisi saya yang dihampiri cowok hidung belang. Mencak-mencak di sms, lol.

Sambil menunggu Edy datang, si cowok itu terus ngoceh. Saya masih melayani dengan cuek dan jutek, tapi si doi tak juga jengah dan menyerah. Dia minta nomor saya, tentu tidak saya beri. Dia tanya saya pulang naik apa? Sebelum dia menawarkan diri untuk mengantar (haha kegeeran banget), saya sedang menunggu teman saya datang.

Tak lama, sebuah mobil sempat berhenti sebentar di dekat kami. Dia tanya, itu temannya? Saya bilang bukan. Saya langsung kebayang dia membayangkan di dalam mobil itu ada cowok yang sudah “janjian” dengan saya. Asem.

Seperti minyak kayu putih di tengah rasa mual, teman saya datang me-nye-la-mat-kan saya dari obrolan tidak penting dengan lelaki hidung belang. Saya cepat-cepat menghampirinya dan langsung pergi. Bye-bye …

Saya pun lanjut ke posisi selanjutnya. Pulang dari liputan saya masih kesal. Bisa-bisanya saya dihampiri cowok hidung belang. But indeed, yang namanya prostitusi itu tidak mengenal profesi. Ada mahasiswi, PNS, artis bisa jadi PSK. Ada yang berjilbab atau menjadikan jilbab sebagai kedok. Intinya, di Jakarta dan di kota manapun seorang wanita perlu lebih waspada kalau pergi kemana-mana sendiri. Para pengumbar nafsu tidak peduli apakah kamu berjilbab atau tidak, berpakaian seksi atau tidak, tampak sangar atau tidak, nafsu itu nafsu. Anak-anak, bahkan nenek-nenek saja bisa diperkosa. Keep calm and be ware.

Untung atau Rugi?

Naik angkutan umum ke mana-mana memang seru. Banyak sekali pengalaman seru mengenai angkutan umum ketika saya di Jakarta. Salah satunya saya alami dua beberapa hari lalu. Ini tentang e-money, angkutan umum, keberuntungan, atau mungkin rugi bandar.

Jadi, saya seringkali ayem karena e-money di dompet saya. Hari itu saya punya dua buah e-money. Satu berisi sekitar Rp 30 ribu, satu lagi berisi Rp 200 ribu. Kurang ayem apa coba? Untuk pergi liputan, minimal saya punya e-money untuk membayar biaya Transjakarta. Untuk keperluan-keperluan lain juga bisa.

Hari itu saya mendapat tugas liputan yang agak mendadak. Sebenarnya masih ada waktu untuk mempersiapkan diri agak santai, namun pesan whatsapp (WA) dari redaktur agak mengganggu saya. Saya masih sibuk membalas WA ketika sudah di halte.

Untuk sampai di tempat liputan, daerah Cikini, Jakarta Pusat, saya hanya bisa naik angkutan umum Kopaja. Seingat saya, Kopaja P20 berhenti tepat di depan Taman Ismail Marzuki (TIM). Beberapa angkutan telah berlalu, akhirnya tiba juga Kopaja yang saya tunggu. Saya sempat ragu, sebab bus ini bernomor A20, bukan P20. Saya pun bertanya apakah bus itu lewat TIM?

“Iya ke TIM, ayo naik,” kata kernet.

Saya pun dengan sigap naik dan sempat hampir terjatuh di dada seorang penumpang lelaki karena pengemudi langsung saja tancap gas. Skip-skip lupakan dada lelaki. Lupakan juga soal Kopaja yang suka ngebut dan ngerem seenaknya.

Setelah pintu tertutup, saya segera mengambil dompet saya. Deg! Saya baru ingat uang cash terakhir saya sudah habis untuk belanja buah di pasar. Saya memang tidak terbiasa membawa uang cash dalam jumlah banyak. Selain tidak aman, saya membatasi membawa Rp 20 ribu – Rp 200 ribu saja agar tidak terlalu boros. Semakin banyak uang di dompet, wanita semakin gelap mata untuk mampir ke sana-kemari.

Saya agak was-was mengingat hal itu. Dan benar saja, setelah saya cek, tidak ada selembar uang pun di dalam dompet saya. “Pak, maaf ni. Uang cash saya ternyata habis,” kata saya. Malu sih, apalagi banyak penumpang lain. Tapi mau bagaimana lagi coba? Teledor ya, he-eh.

“Terus gimana?” kata kernet.

“Saya turun aja ya, Pak?” kata saya.

“Nggak usah, nggak papa,” kata kernet.

Oh…My God. Baik sekali kan bapak kernet ini? Dia melirihkan suaranya ketika mengatakan, “Nggak papa.” Mungkin ia takut terdengar pengemudi dan ia tidak sepakat. Penumpang di sebelah saya sempat melirik sinis. Ya, saya terima karena saya toh memang salah hari itu.

Di sepanjang jalan, saya tak henti-henti menahan haru. Jujur saja kadang saya negative thinking dengan supir Kopaja, sebab suka ugal-ugalan. Begitu juga kernetnya yang seringkali memaksakan penumpang demi mengejar setoran. Pernah sampai ada penumpang yang pingsan di dalam bus karena saking penuhnya.

Uang enam ribu bukan jumlah kecil bagi kernet, tapi dia merelakan. Saya berkali-kali berdoa dalam hati agar Tuhan memberikan rizki yang banyak dan membalas jasa kernet itu. Tak lupa saya doakan keluarganya sehat dan bahagia mendapati seorang kepala rumah tangga yang baik seperti ini.

Tak hanya menggratiskan biaya angkot saya, ia juga memberitahu saya ketika hendak turun. Mungkin ia tahu saya belum hafal letak persis TIM. Ketika turun, ia memberitahu agar saya menyeberang dan naik angkot lagi agar dapat berhenti tepat di depan TIM. Saya pun sadar A20 tidak langsung lewat tepat di depan TIM. Saya tetap harus naik P20.

Waktu menunjukkan pukul 19.30 WIB, sementara undangan pertunjukan ketoprak yang akan saya liput untuk pukul 18.45 WIB. Saya agak kalang kabut. Seseorang memberitahu saya letak TIM masih jauh kalau saya berjalan kaki. Angkot P20 sudah lewat ketika saya bertanya pada orang tadi.

Saya pun menyeberang jalan dan memilih untuk naik taksi. Sebelumnya saya mencari ATM dan mengambil uang Rp 100 ribu. Jadi, hanya selembar Rp 100 ribu saja yang saya punya di dompet ketika itu.

Tak butuh waktu lama, saya sudah sampai di depan Graha Bhakti Budaya TIM. Ketika hendak membayar, pengemudi meminta uang kecil pada saya. “Nggak ada, Pak. Cuma ada seratusan,” kata saya.

“Aduh saya nggak ada kembalian neng,” kata pengemudi taksi sembari mengeluarkan semua uang yang ada di sakunya. “Cuma ada Rp 78 ribu,” kata dia.

Saya tak punya waktu lama untuk menukar uang. Saya terlanjur terlambat, pikir saya. Akhirnya, saya ‘terpaksa dan akhirnya ikhlas’ menerima kembalian Rp 78 ribu dengan argo menunjukkan hanya Rp 7.500. “Maaf ya, Neng,” kata pengemudi.

Tidak apa, Pak. Mungkin sudah rizki Bapak. Tadi saya juga mendapat rizki bertemu kernet baik hati. Agak geli, Tuhan mengatur cerita hari itu begitu unik. Saya pun masuk ke tempat pertunjukkan sembari tersenyum-senyum simpul mengingat kejadian kebetulan hari itu. Beruntung, pertunjukkan baru saja dimulai. Saya belum terlambat.