diari · fiksimini · liputan · sastra · Uncategorized

Bubur Sumsum di Pinggir Rel Kereta

Sebut saja dia Mawar, gadis cilik yang hanya bercelana dalam. Dia bermain di pinggir rel Stasiun Tanah Abang. Badannya berdebu. Dia berlarian di dekat rumahnya, sebidang tanah yang dinyatakan ilegal. Dindingnya kardus ditambal terpal atau sobekan karung yang menempel di tembok. Yang penting tidak kehujanan. Musik favoritnya bukan yang biasa didengar di radio, tivi, hape,… Continue reading Bubur Sumsum di Pinggir Rel Kereta

Advertisements
cerpen · diari · puisi · sastra · Uncategorized

Jelang Tutup Usia

ada seribu cara mengenang keindahan di ujung rambut hingga jemari kaki apa daya jika jasad tak meninggalkan satu kebaikan bolehkah aku duduk sebentar menghela nafas lalu mengambangkan pikiran dosa apa yang telah kuperbuat sakit apa yang sudah kuderakan begitu banyak! kebaikan demi kebaikan sebagian masih rencana selebihnya pamer, selebihnya dihinggapi riya lalu aku berbaring diam… Continue reading Jelang Tutup Usia

puisi · sastra · Uncategorized

Pertemuan Terakhir

Tubuh itu berjalan bungkuk Jari jemari menekuk meliuk Lalu duduk Tertunduk Jalanan demi jalanan telah selesai disapu Pepohonan rimbun rerumputan Lima jari mampir ke bahu lalu ke kepala Rupamu aneh Tapi garis bibirmu paling indah siang itu Habiskan makanku Sebab hujan tak membiarkan kita pulang Di balik palang kereta Petugas hampir menghardik Lalu kau tertawa,… Continue reading Pertemuan Terakhir