Tips Berbelanja ala Saya: Ojo Gumunan, Ojo Aleman, Ojo Sok-sokan

Di tulisan terakhir, saya telah menulis tentang strategi bisnis. Menurut saya wajar-wajar saja produsen menggunakan berbagai strategi bisnis untuk meraup keuntungan. Mereka perlu terus mengembangkan perusahaan. Tinggal kita sebagai konsumen pandai-pandai dalam menentukan pilihan.

Saya tidak sepakat kalau dibilang consumer is the leader of business. Produsen tetap punya kuasa untuk menentukan produk apa yang akan mereka buat dan tawarkan kepada masyarakat. Bahkan, saat ini produsen juga punya kuasa untuk menyetir selera masyarakat. Konsumen, hanya punya kuasa untuk memilih di antara berbagai produk yang ada. Jadi kekuasaannya terbatas, sebatas yang ditawarkan saja.

Menurut saya, disetir bukan masalah selama drivernya baik dan tidak merugikan. Contoh menyetir yang buruk bisa kita lihat di berbagai tayangan televisi. Misalnya, produsen memberikan borax pada makanan atau mengolah ulang makanan yang sudah kadaluwarsa atau basi.

Seperti yang saya katakan tadi, sebagai konsumen kita punya kuasa untuk memilih. Maka, pilihlah dengan bijak. Ini beberapa tips dari saya.

Pertama, tetap realistis. Sesuaikan dengan budget dan kebutuhan. Saya misalnya, ingin punya hp dengan internet cepat, kamera bagus, baterai tahan lama dan hardware mumpuni. Namun, sayang sekali budget saya minim untuk mendapatkan hp dengan spek seperti itu. Alih-alih mengundur keinginan saya membeli hp dan menabung dulu, saya memutuskan untuk membeli dengan realistis.

Satu, saya tentukan budget yang saya miliki. Dua, dengan budget yang ada, saya mulai membuat list produk-produk yang memungkinkan untuk saya beli. Tiga, mereview kembali kebutuhan saya. Ini sejumlah pertimbangan saya.

  1. Internet cepat itu dengan push email yang tak banyak bermasalah itu wajib untuk mendukung pekerjaan saya. Saya butuh internet cepat untuk bisa langsung browsing jika ada hal-hal yang tidak saya pahami selama liputan. Internet cepat juga menentukan komunikasi saya untuk berkoordinasi dengan redaktur selama bekerja di lapangan. Push email sendiri sangat penting karena banyak komunikasi dan informasi dikirim lewat email. Pengiriman berita juga melalui email. Pengalaman saya dengan hp android sebelumnya memaksa saya mematikan fungsi push email. Bayangkan, saya sudah mengetik berita dan tiba-tiba layar merefresh sendiri tepat ketika saya mengetik paragraph terakhir, dan itu terjadi berulang-ulang. Saya memang bisa mengatasinya dengan menulis berita di note dulu, baru disalin ke email. But it takes too many time. Akhirnya saya mempercayakan pengiriman berita dan mengetik cepat pada produk Blackberry.
  2. Kamera sebenarnya sangat penting. Sangat menyenangkan bisa mengabadikan momen-momen liputan. Akan lebih bagus lagi kalau saya bisa mengirimkannya ke redaksi. Kamera yang ok juga penting untuk memotret tulisan pada presentasi ketika saya liputan, atau dokumen-dokumen yang tidak boleh disalin. Namun, dari nilai kepentingan, ini masih kebutuhan nomor dua. Pekerjaan utama saya adalah menulis dan ada fotografer yang bertanggung jawab pada foto.

Dengan dua pertimbangan sederhana ini, melihat budget dan spek yang ada, saya akhirnya memutuskan membeli kamera dengan koneksi internet yang baik walaupun kameranya tidak bisa diandalkan. Ini contoh ketika budget mepet ya.. Pelan-pelan kebutuhan akan terpenuhi.

Kalau melihat tulisan saya sebelumnya, untuk urusan pengharum pakaian, saya memutuskan Downy is so much better than Molto. Dari sisi harga Downy sedikit lebih mahal. Hanya sedikit. Tapi, kalau dengan Molto hasil akhirnya tidak bau sama sekali untuk apa? Kalau membeli dua produk sekaligus, harga akhirnya Molto tetap lebih mahal. Nah, untuk eyeliner tidak ada pilihan lain harus beli terpisah.

Tips kedua adalah ojo gumunan. Gumunan, terpukau berlebihan dengan produk yang ada dan gila mata ingin membeli. Ingat strategi bisnis yang pertama. Sebagus-bagusnya spek yang ditawarkan, dalam waktu tidak begitu lama akan muncul kembali produk dengan spek yang lebih bagus dan produk Anda yang tadi akan menjadi biasa aja. Pengetahuan tentang produk (product knowledge) juga penting agar kita tahu konsekuensi ketika membeli barang. Aneh kan ketika budget kita minim, kita membeli hp yang hanya mensupport 2G dengan RAM 512 MB, lalu marah-marah karena koneksi lemot. Itu konsekuensi, sayang.

Tips ketiga, ojo aleman. Aleman, mementingkan gengsi dan ingin dipuji. Kalau Anda rela membeli barang-mahal hanya untuk mendapat pujian dari orang lain, sementara Anda sadar sebenarnya Anda tidak membutuhkan, artinya Anda masih dalam tahap aleman. Kalau Anda membeli suatu barang karena tidak mau ketinggalan atau kalah gengsi dengan orang, Anda masih Aleman. Utamakan kebutuhan dan fungsi barang yang Anda beli.

Oh ya, satu lagi. Jangan buta. Membeli barang-barang yang memuaskan mata Anda di toko dan merogoh kocek entah dalam atau tidak, kemudian memuseumkan barang itu di rumah adalah tindakan bodoh. Eh, kasar sekali, ceroboh deh.

Fine, itu tips dari saya. Kadang bobol sih, tapi itu manusiawi, yang penting tetap mencoba. Oh ya, ini hanya semacam studi kasus berdasarkan pengalaman saya ya. Be free to find the best way for your self 🙂

Strategi Bisnis yang Membuat Kita Ingin Terus Berbelanja

Baru-baru ini saya senang iseng-iseng melihat review produk atau jalan-jalan cuci mata di pusat perbelanjaan. Sebagai anak kos selama setahun terakhir, saya juga jadi sering berbelanja kebutuhan sehari-hari di toko-toko retail. Ada beberapa barang yang selama sebulan terakhir ini saya perhatikan, yaitu HP, eyeliner, dan terakhir pengharum dan pelembut pakaian.

Dua minggu yang lalu, saya membeli dua buah media gadget. Pertama Sinyal, tabloid yang namanya masih asing di telinga saya tapi ternyata terbitan Kompas Gramedia. Kedua, HP. Sebelumnya saya berselancar di berbagai situs, lari dari satu merk hp ke merk hp lain, dari satu tipe hp ke tipe hp lain. Di kedua tabloid itu saya melakukan hal yang sama. Berkali-kali saya membolak-balik lembarannya tapi tak menemukan hp yang saya inginkan.

Standard sih sebenarnya, saya pengin hp yang murah dengan koneksi internet cepat, camera yang bagus (bukan hanya pixelnya yang besar ya, tapi hasilnya yang bening dengan warna seimbang), fasilitas push email yang ok, baterai tahan lama, dan hardware yang nggak rapuh. Hahaha saya pikir itu impian semua orang juga.

Makin banyak berselancar semakin kita dibuat galau oleh pilihan produk yang begitu banyak. Speknya beda-beda tipis, harga beda-beda tipis. Tapi saya kemudian percaya, tidak ada produk yang benar-benar sempurna. Berdasarkan merk misalnya, Apple terkenal dengan hardware yang tangguh. internet dan kamera ok. Tapi siapa yang menyangkal kalau harga Apple itu selangit? Sebagian yang sudah mencoba juga beranggapan produk ini “gitu-gitu” aja.

Samsung, harganya juga masih tinggi, namun masih sedikit lebih manusiawi ketimbang Apple. Sayangnya, dengan harga segitu, spek yang diberikan Samsung kalah jauh dibanding produk merk lain. Lenovo, harganya pas dikantong (kantong saya). Tapi dari sisi camera Lenovo kalah jauh dibanding merk-merk lain. Semua ada kurang lebihnya. Bahkan, untuk produk dalam satu naungan brand dengan tipe berbeda saja, selalu ada yang kurang.

“Pabrik mah emang sengaja bikin produk yang nggak sempurna. Nanti beberapa bulan dia kembangkan lagi dikit, tapi masih nggak sempurna. Gitu-gitu terus. Jadi orang akan terus beli,” kata saya sotoy.

Ya memang begitu kan?

Berhenti pengembaraan saya mencari hp. Saya beralih ke produk kecantikan. Yap, akhir-akhir ini saya lagi pengin dandan. Mumpung liputan-liputan saya lagi santai. Saya sempat terbayang pengin beli alat make up yang lengkap dalam satu kotakan (apa tuh namanya?), tapi urung. Males karena saya tidak akan menghabiskan waktu begitu banyak untuk memoles wajah saya. Ben wae ayune biasa, sing penting atiku lumayan ayu (ngeles).

Saya sudah punya bedak (bayi), lotion (bayi), lipcare dan lipstick yang biasa nemplok-nemplok sepanjang saya liputan. Yang penting tidak berminyak dan tidak pucat saja. Sekarang, saya iseng pengin mencoba eyeliner. Saya pun mencoba memakai eyeliner. Seorang teman kebetulan punya eyeliner sekaligus mascara, produk two in one. Saya berniat mencari produk ini ke toko. Dengan merk yang sama, saya sudah tidak menemukan produk ini lagi. Saya juga tidak menemukan pada brand lain.  Saya pun iseng mencari informasi di internet.

Berdasarkan informasi di internet, konon, Wardah dulu mempunyai produk two in one semacam ini. Namun, strategi penjualan mereka pun berubah. Mereka tidak lagi menyediakan produk gabungan. Sekarang, produk Wardah yang ada di pasaran terpisah. Terjawab sudah pertanyaan saya.

Akhir-akhir ini, saya bosan dengan aroma parfum dan pelembut pakaian saya. Biasanya saya memakai Downy. Sebenarnya saya suka sekali yang bungkusnya warna hitam, tapi sayang sulit sekali menemukan produk ini. Akhirnya saya memakai yang berwarna merah.

Dalam kondisi basah, aroma Downy tidak terlalu enak di hidung saya. Saya sempat menyesal membeli produk ini. Namun, ketika sudah kering baunya segar dan bertahan cukup lama. Tapi, seperti saya katakana tadi, saya akhirnya bosan. Saya ingin pelembut dengan bau yang lebih enak.

Saya pun mencoba molto. Setahu saya, beberapa tahun lalu produk ini menjadi salah satu unggulan, sehingga orang mau membeli walau harganya sedikit lebih mahal. Saya pun memilih molto warna merah (atau pink). Baunya dalam kondisi basah cukup enak dan menyegarkan. Tapi, saya kecewa. Ketika kering, aromanya bisa dibilang hampir tidak ada. Sama sekali tidak berbau parfumnya. Lalu untuk apa ada pelembut dan pewangi kalau hasil akhirnya tidak wangi? Usut punya usut, terjawab sudah. Molto punya produk pewangi pakaian seperti halnya Kisspray. Kalau pelembutnya saja sudah wangi, bagaimana pewanginya mau laku? Jadi, logis kalau pelembutnya tidak berbau (mungkin) dengan harapan orang akan membeli produk pewanginya.

Begitulah strategi bisnis yang diambil beberapa perusahaan. Pertama, menjual barang dengan spek tidak sempurna agar masih banyak celah untuk dikembangkan. Kedua, adanya celah itu selain memberi kesempatan untuk terus berkembang, juga memberikan kesempatan untuk menciptakan produk-produk baru. jadi, banyak pilihan yang disediakan untuk pembeli. Mau produk yang nyaman di kantong tapi spek mumpuni (sesuai dengan harga) sekarang ada, mau yang spek rendah tapi hardware mumpuni juga ada. Jadi, tidak selalu negatif juga, strategi ini jadi bisa menjangkau segmen yang lebih luas. Ketiga, Sengaja tidak menjadikan produk dalam satu set, namun terpisah. Dengan semakin terpisah-pisah, semakin banyak laba yang bisa diraup.

Itu strategi bisnis. Menurut saya wajar-wajar saja menggunakan strategi semacam itu. Tinggal kita sebagai konsumen pandai-pandai dalam menentukan pilihan. Nah, di tulisan selanjutnya saya akan membahas sedikit soal tips berbelanja.