Buku-buku, Hartaku

PC200002.JPG
buku-buku akhirnya gua taruh aja di lantai dan tetap ketje badai

Sebenarnya awal datang ke Jakarta saya berpikir tidak akan membeli buku. Saya berisiko besar dipindah tugas dan harus berpindah-pindah kos. Kepindahan pertama saya dari Jakarta Selatan ke Jakarta Barat waktu itu naik motor doang. Bhayaaangkan bolak-balik entah berapa kali dari Jakarta Selatan ke Jakarta Barat dan sebaliknya sambil boncengan barang yang seabrek-abrek.

Di tengah jalan, malahan tali rafia yang saya pakai untuk mengikat kardus sempat geser sehingga barang-barang yang saya bawa hampir jatuh. Beruntungnya, di Jakarta ini masih banyak orang baik. Mereka membantu saya mengikat dengan lebih kencang dan saya bisa sampai tujuan dengan selamat.

Lelah bolak-balik, akhirnya satu kardus tidak terbawa oleh saya. Kardus yang isinya buku-buku bawaan saya dari Jogja. Sebagian lagi buku yang dikasih sama narasumber dan koran-koran yang dulu saya kumpulkan. Sampai sekarang saya tidak enak hati mau mengambil kardus itu, sehingga saya ikhlaskan saja.

Saya pindah lagi ke Jakarta Selatan. Saya masih belum berminat beli buku atau barang-barang lain. Tapi, sudah cukup lama saya tidak dipindah tugas. Saya akhirnya membeli satu buku yang ternyata buagusss dan menjadi mood booster saya dalam membaca. Saya beli satu buku lagi. Selain itu, ada beberapa buku yang berasal dari tempat liputan. Yah, buku-buku profil pesantren atau sekolah dan buku-buku cetakan mereka. Saya tetap menyimpan semuanya.

Kemarin, saya akhirnya beli rak. Kalau memang harus pindah kos lagi ya sudah, rak ini mungkin akan dihibahkan. Awalnya saya menaruh semua buku saya. Tapi, rasanya kurang saja tempat untuk menaruh barang kecil-kecil saya, sebangsa kabel-kabel dari alat elektronik, kosmetik, alat tulis, dan sebagainya.

Saya akhirnya memutuskan, jarak kosong yang sempit di antara meja belajar dan rak menjadi rak baru bagi buku-buku saya. Iya, buku itu saya taruh lantai saya, menumpuk ke atas. Ketje badai juga ternyata.

Telling Islam to the World

PC180051.JPG
para founder gerakan Telling Islam to the World foto bareng dengan para donatur seusai jamuan makan malam dan penggalangan dana

 

Jum’at (8/12) lalu, sebuah gerakan bernama Telling Islam to the World diluncurkan di di Hotel Lumire, Senen, Jakarta Pusat. Ada tak kurang 88 tokoh Muslim hadir dalam acara tersebut.

Telling Islam to the World digagas oleh tiga lembaga, yaitu Dompet Dhuafa, Nusantara Foundation, dan Urban Syiar Project. Konon, kata para pendirinya, gerakan ini bertujuan mensyiarkan citra positif ajaran Islam ke mata dunia.

Kalau kata Direktur Utama Dompet Dhuafa, Pak Ahmad Juwaini, inspirasi untuk bikin gerakan ini muncul melihat kondisi di Amerika dan Eropa. Di negara-negara mayoritas nonMuslim lah. Di negara-negara tersebut, Islam diidentikkan sebagai agama dengan ajaran kekerasan dan terorisme.

Ya, walaupun nggak semua teroris itu orang Islam dan di Islam tidak ada ajaran untuk melakukan terorisme, pandangan Islam sebagai agama teroris itu berkembang. Mereka-mereka yang tidak pernah berinteraksi langsung dengan komunitas Muslim tentu gampang terpengaruh dan mempercayai stigma ini. Apalagi kalau melihat teror-teror yang pelakunya Muslim, korbannya adalah saudara-saudara mereka. Kedekatan secara spiritual, sosial, dan geografis ini memperkuat stigma yang ada.

Nah, para founder Telling Islam to the World ingin mengikis stigma tersebut. Sebagai kaunternya, mereka ingin menunjukkan Islam yang humanis, yang betul-betul menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Artinya, umat Islam yang ingin ditunjukkan oleh gerakan ini adalah umat yang memberikan bermanfaat bagi orang lain dan memberikan solusi atas permasalahan dunia saat ini.

Menurut Pak Ahmad, ini waktu yang pas untuk memperluas pandangan. Umat Islam seharusnya tak hanya memandang islam dari keperluan lokal Muslim saja, namun juga sebagai ajaran yang mampu memberikan solusi atas permasalahan-permasalahan dunia secara menyeluruh. Islam itu, kata dia, tidak hanya berisi perkara peribadatan dan fikih, namun juga lingkungan, kemanusiaan, dan lain-lain. Dan, sebagai agama yang rahmatan lil alamin, seluruh permasalahan seharusnya dapat diatasi dengan merujuk pada nilai-nilai Islam itu sendiri.

Dalam mensyiarkan nilai-nilai positif ajaran Islam ini, Pak Ahmad menilai perlu ada pembagian peran dalam mensyiarkan Islam secara menyeluruh. Perlu ada yang menjadi komunikator seperti tiga lembaga yang menaungi, ada penyandang dana, ada pula pewarta informasi. Yang tak kalah penting, setiap Muslim menjadi pelaku nyata untuk menunjukkan Islam yang rahmatan lil alamin.

Dalam gerakan ini ada pula founder Nusantara Foundation, Pak Shamsi Ali. Imam besar Masjid New York ini bilang gerakan ini tak hanya melawan stigma negatif di negara mayoritas nonMuslim. Ada juga upaya perlawanan terhadap pesimisme, kemarahan, dan frustasi umat Muslim secara internal, terutama di kalangan generasi muda Indonesia. Telling Islam to the World juga akan mengabarkan perkembangan Islam negara-negara lain seperti Rusia, Perancis, Jerman, Inggris, dan AS.

Salah satu kegiatan yang mereka pelopori adalah pendirian mualaf center di Amerika Serikat. Hingga terakhir diberitahukan ke saya waktu itu, sudah terkumpul dana senilai Rp 485 juta. Ini berasal dari sumbangan para tokoh yang hadir dalam peresmian gerakan Islam to the World aja.

Dalam jamuan tersebut, hadir Wakil Menteri Luar Negeri RI Abdurrahman Mohammad Fachir, istri Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia Madam Sofia Blake, Direktur Utama Dompet Dhuafa Ahmad Juwaini, Imam Besar Masjid New York Shamsi Ali, inisiator Urban Syiar Project Peggy Melati Sukma, para dai seperti Ustaz Erick Yusuf dan Ustazah Tutty Alawiyah, pendiri Yayasan Insan Cendekia Madani Tamsil Linrung, perwakilan wali kota Depok, perwakilan pimpinan cabang istimewa Muhammadiyah Libya, sejumlah pengusaha, motivator, dan para donatur.

Acara ini diramaikan dengan pembacaan ayat suci Alquran oleh mualaf asal Belanda Siti Malikah Feer, teater dari Sensyiar, nasyid Ebith Bit E, pembacaan syair oleh Peggy Melati Sukma, dan sejumlah lagu reliji yang dibawakan oleh Fadli Padi.

Begitu deh cerita foto dari salah satu liputan saya bulan Desember lalu. Semoga bermanfaat.

 

 

 

 

 

 

 

Tumis Kerang

  1. OLYMPUS DIGITAL CAMERA
    Tumis kerang ala Handa

    Bumbu:

    3 siung bawang putih iris tipis

    3 siung bawang merah iris tipis

    3 buah cabe merah kriting iris tipis

    gula secukupnya

    garam secukupnya

    Cara memasak:

    1. Bersihkan kerang dari cangkang dan kotoran
    2. Rebus kerang selama 15 menit, tiriskan.
    3. Siapkan minyak untuk menggoreng, goreng kerang hingga matang kering atau setengah matang, sesuai selera.
    4. Siapkan minyak untuk menumis.
    5. Masukkan cabe, bawang merah, dan bawang putih. Tumis hingga harum.
    6. Masukkan kerang yang telah digoreng, tumis sebentar.
    7. Masukkan air sedikit hingga bumbu meresap.
    8. Masukkan gula dan garam secukupnya.
    9. Tumis kerang dan bumbu hingga kering.
    10. Tumis kerang siap disajikan.