Objektivitas Sumber Bacaan dan Trial by the Socmed

 

Kemudahan dalam mengakses internet saat ini menyebabkan setiap orang punya ruang untuk bersuara di sosial media. Tiap individu dapat langsung berinteraksi tanpa sekat dengan kapasitas argumentasi masing-masing. Orang-orang ini bahkan mempunyai ruang untuk saling menghakimi.

Melalui tulisan ini, saya ingin berbagi cerita sederhana yang mungkin dapat menggambarkan bagaimana penghakiman itu terjadi.

Saya adalah pengguna Facebook. Ada satu pola yang akhir-akhir ini saya amati di akun Facebook itu. Pertama, apa yang hari ini dibagikan oleh kawan-kawan saya, hari ini atau hari berikutnya akan ramai diungkap media online. Kedua, apa yang menjadi pembahasan di media online, di hari yang sama atau hari berikutnya akan muncul di berbagai postingan kawan-kawan.  Jadi, kalau kita rajin online, bisa dibilang kita dapat memprediksi apa yang akan menjadi bahan pembicaraan esok hari.

Dua hari yang lalu, salah satu akun di pertemanan saya membagikan tautan ‘berita’. Judulnya cukup bombastis, jika tidak mau disebut provokatif. “Memalukan! Wartawan Indonesia Kunjungi Israel Bertemu PM Netanyahu ‘Si Pembunuh’”. Di atas tautan tersebut, pemilik akun menambahkan komentar, “Pengkhianat bangsa Indonesia. Bangganya mereka bersanding dengan pembunuh.”

Sepintas saya tersenyum, tapi ada rasa miris yang muncul. Pertama, si pemilik akun memilih untuk menggunakan sumber dari media konservatif yang hingga kini tidak jelas akan dimintai pertanggungjawaban ke mana jika ada pemberitaan yang tidak benar. Kedua, komentar yang diberikan sangat tegas, keras, tapi sayang tidak berdasar (jangan panas dulu, saya akan memberikan penjelasannya di bawah). Ketiga, komentar itu dikeluarkan oleh admin akun masjid. Ini memang tidak mengherankan di zaman seperti sekarang, tapi bukan berarti kenyataan seperti ini perlu dianggap benar.

Pemisahan peran, atau penempatan yang sesuai, bagi saya sangat penting. Oleh karena itu, saya merasa perlu memberikan penekanan ketika seorang teman melontarkan gurauan, “Saya ini ustaz. Dari kecil mengaji, saya mondok selama enam tahun, kuliah di perguruan tinggi Islam. Jurusan yang saya ambil dapat lisensi langsung dari Cairo. Kalau saya lulus, saya akan dapat dua ijazah, salah satunya setara dengan lulusan al-Azhar. Saya biasa ngisi pengajian.”

“Cyin, kamu mau tahu pendapat saya? Saya tidak peduli. Di kantorku banyak ustaz (atau minimal ada beberapa). Tapi di kantor, kami hanya punya dua relasi: kami sama-sama karyawan perusahaan dan kami adalah teman,” jawab saya.

Hooh, setiap orang dilahirkan untuk memegang beberapa peran. Dia bisa menjadi pemilik akun pribadi, pemegang akun lembaga, ketua organisasi, pemilik yayasan, dan sebagainya. Peran ini kadang bisa dijalankan bersamaan, tapi perlu ada penerapan yang jelas. Perlu kesadaran untuk bisa memahami masing-masing peran, memisahkan, dan menempatkan diri sesuai dengan konteks situasi yang dihadapi.

Seorang pemilik akun pribadi bebas menyampaikan apapun di sosial media dengan risiko masing-masing. Namun, jika ia berperan sebagai admin akun lembaga, suaranya akan mencerminkan kelembagaan.

Kembali pada persoalan tautan ‘berita’. Saya menyebutnya dalam tanda kutip, sebab sebagian orang menganggap tulisan itu sebagai berita. Pada kenyataannya, anggapan itu hanya ilusi. Sebuah berita haruslah objektif. Unsur ini saja tidak terpenuhi.

Objektivitas memang sesuatu yang relatif. Ada yang menganggap objektivitas itu hanya ilusi, sebab setiap orang dilahirkan untuk punya stand point. Akhir-akhir ini, banyak media dianggap tidak lagi objektif sebab menunjukkan keberpihakan terhadap kalangan, kelompok, atau orang tertentu.

Snggapan ini bisa jadi benar, bisa juga hanya gambaran kegagalan orang dalam memandang kerja jurnalistik. Artinya, sebuah media bisa saja tidak objektif, sebab ia diperalat oleh banyak hal. Misalnya, ia dikekang oleh pemilik modal, ia diancam dan tidak berani melawan, ia disandera oleh pemasang iklan, dan sebagainya. Dalam lingkup yang lebih sempit, sebuah berita bisa menjadi tidak objektif sebab si penulis didikte oleh narasumber, didikte oleh perusahaan atau atasan, didikte oleh sekantung uang, dan sebagainya.

Namun, objektivitas sebuah tulisan dan media tidak menafikan bahwa ia harus memiliki sudut pandang. Seperti yang saya tuliskan sebelumnya, setiap orang dilahirkan untuk punya ide, gagasan, stand point, apapun kita mau menyebutnya. Ketika Tempo, misalnya, membela kaum LGBT, saya tidak melihat itu menyalahi prinsip objektivitas. Begitu pula ketika, sebaliknya, Republika mati-matian melawan LGBT. Keduanya akan menjadi tidak objektif apabila tidak mewadahi perspektif satu sama lain secara berimbang atau tidak mendasarkan sudut pandangnya pada argumentasi yang bisa dipertanggungjawabkan.

Sebuah berita dikatakan objektif jika ia selaras dengan kenyataan, tidak berat sebelah (ingat bahwa tidak berat sebelah sangat berbeda dengan tidak punya sudut pandang), dan bebas dari prasangka pribadi. Saya sendiri merasakan, menjaga objektivitas tulisan (dan perkataan serta pemikiran) bukan hal sederhana.

Mengapa tulisan “Memalukan! Wartawan Indonesia Kunjungi Israel Bertemu PM Netanyahu ‘Si Pembunuh’” tidak bisa disebut objektif? Kita belum mengurai sampai ke isi-isinya. Dari judulnya saja, subjektivitas penulis sangat bermain di dalamnya. Kata “malu” melibatkan perasaan yang sangat subjektif. Rasa malu seseorang tidak bisa dirasakan persis oleh orang lain. Karenanya, kata itu biasa digunakan untuk mengungkapkan perasaan yang sangat subjektif, misalnya “saya malu” atau “kami malu”.

Ketika digunakan untuk menggambarkan perasaan orang lain, kata malu hanya menjadi sebuah pertanyaan atau asumsi. Kalimat yang lazim berbunyi, “Kamu malu ya?” atau “Tidakkah kamu malu?” Artinya, si penanya tidak dapat menyatakan dengan pasti bahwa yang bersangkutan benar-benar malu. Bahkan, ketika dipaksakan menjadi sebuah pernyataan, kalimat “Kamu pasti malu.” atau “Saya tahu kamu malu.” hanya menggambarkan asumsi.

Ketidakobjektivan kedua ada pada penyebutan “Si Pembunuh”. Dalam hukum, dikenal asas praduga tak bersalah. Dalam dunia pers, dikenal istilah ‘trial by the press’. Trial by the press, atau pengadilan oleh pers, adalah praktik jurnalistik yang menyimpang, dimana jurnalis atau lembaga pers melalui tulisan atau produknya menjadi hakim.   Ini sangat berlawanan dengan prinsip asas praduga tak bersalah.

Tanpa adanya pengadilan, sebutan pembunuh menjadi sangat subjektif. Bagi kita, saya, kaum Muslim, pembela kemanusiaan, dan orang-orang Palestina, Netanyahu adalah seorang pembunuh karena ia memimpin sebuah negara untuk melakukan penyerangan terhadap negara lain yang kita anggap lebih lemah dan menimbulkan banyak sekali korban. Bagi orang Israel, Netanyahu adalah pahlawan.

Bagi seorang Muslim, seorang pejuang Palestina yang membunuh tentara Israel adalah pahlawan. Maka Muslim akan menyebutnya mati syahid. Kita meyakini orang seperti ini akan masuk surga. Bagi anak tentara Israel yang mati, ia adalah seorang pembunuh. Bagi dia, ayahnya adalah pahlawan bagi negaranya dan pembunuh itu akan masuk neraka. Nah kan?

Argumen ini mungkin akan disanggah dengan mengatakan, “Saya kan Muslim, berarti saya ada pada stand point bahwa dia adalah pembunuh. Biar saja orang Israel menganggap dia pahlawan.”

Masalahnya, seperti telah saya tuliskan di atas, sudut pandang seseorang tidak boleh dicampuradukkan dengan objektivitas. Ketika kita bicara tentang objektivitas, perlu diingat kembali dengan peran apa kita bersuara, dalam konteks apa suara itu disampaikan.

Dalam konteks menuliskan sebuah berita, menyatakan seseorang sebagai pembunuh artinya ada keputusan hukum yang menyatakan ia telah membunuh. Pembunuhan sebagai tindak pidana, harus disertai bukti dan proses yang jelas. Orang yang jelas-jelas membunuh saja tidak serta merta bisa disebut pembunuh (dalam berita). Ia harus melalui serangkaian proses dengan sejumlah sebutan, mulai dari terduga, tersangka, hingga terdakwa. Terkait tanggung jawab Netanyahu, kita juga tidak bisa menggunakan kacamata hukum Indonesia, tapi hukum internasional. Kejahatan perang. Kalau mau menyebut dia sebagai pembunuh dengan cara yang objektif, dalam sebuah berita, maka bawalah ia ke mata hukum internasional, buatlah ia terbukti melakukan kejahatan perang sampai divonis.

Tapi Neng, tulisan itu kan bukan berita, tapi ‘berita’? Dyar! Argumentasi putus. Ok siap, saya salah.

Lanjut. Ini masih hanya membahas tentang judul. Belum ke isi-isinya. Isi dan isunya akan saya bahas pada tulisan tersendiri. Yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini, ada kecenderungan untuk melakukan penghakiman yang didasari penarikan simpulan instan. Ini terjadi akibat kuatnya subjektivitas (dan sentimen), disebabkan kecenderungan memercayai media yang juga melakukan hal serupa.

Media ini tidak memproses fakta dengan benar, sehingga memunculkan asumsi. Ada banyak hal yang dibiarkan kosong dan tidak terjawab. Banyak ruang untuk menelurkan asumsi-asumsi baru. Entah karena malas, tidak punya kapasitas, tidak punya akses untuk menelaah lebih lanjut, atau karena alasan lain, asumsi ini ditarik begitu saja menjadi sebuah simpulan. Ini menyebabkan pernyataan yang keluar menjadi tidak lengkap dan mengandung banyak cacat. Tak heran, dari sebuah berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, seseorang bisa mengadili orang lain sebagai pengkhianat.

Ok, sudah jam 03.15 WIB. Di tulisan selanjutnya, saya akan membahas tentang cacat dalam penulisan ‘berita’ di atas, tentang pernyataan “mengkhianati bangsa” yang menunjukkan kegagalan penulisnya memahami kinerja jurnalistik, ada pula pembahasan tentang simpulan instan lainnya. Saya tutup lapak dulu sementara.

Kemana Larinya Produk Jurnalisme Islami?

Saya masih ingat, beberapa tahun lalu, pelatihan-pelatihan jurnalisme Islami sempat marak di kampus. Saya sendiri kurang memahami mengapa ada dikotomi Islami dan tidak Islami dalam jurnalisme. Padahal, jika dijalankan dengan benar, prinsip-prinsip dasar jurnalisme tak seluruhnya lepas dari nilai-nilai Islam.

Saya pernah mengikuti beberapa pelatihan jurnalisme yang katanya Islami itu. Berkaca dari apa yang disampaikan dalam pelatihan tersebut, jurnalisme Islami dianggap sebagai bentuk pewartaan yang sesuai dengan nilai-nilai dan kaidah-kaidah keislaman. Sebagai contoh, dalam media-media “Islami” (untuk merujuk produk yang dihasilkan oleh jurnalisme Islami) kita tidak akan menemukan satupun gambar wanita telanjang. Bahkan wanita berpakaian sopan namun tidak berjilbab pun akan sangat jarang atau mungkin tidak akan pernah ditemukan. Produk-produk jurnalisme Islami dibanjiri dengan beragam hadis dan ayat Alquran, cerita Nabi, para sahabat, dan tokoh-tokoh muslim.

Kehadiran jurnalisme Islami juga dimotori oleh sebagian pihak yang merasa adanya ketidakberimbangan pemberitaan dari media-media mainstream yang dianggap terlalu berkiblat pada Barat. Dalam kasus Palestina misalnya, banyak media Barat cenderung menunjukkan keberpihakan kepada Israel, sementara kaum Muslim tentu saja akan berpihak pada Palestina. Walau kini keberpihakan bangsa Barat kepada Palestina semakin tampak atas dasar kemanusiaan, ini tak menyurutkan semangat ‘barisan pendakwah’ untuk membangun jurnalisme Islami.

Dengan gagasan ini, kita boleh berharap dalam lima hingga sepuluh tahun kemudian, artinya saat ini, bermunculan media-media Islam yang menyejukkan. Akan ada media-media yang mengajak orang melakukan kebaikan, menyerukan kegiatan positif umat Islam, menghapus stigma-stigma negatif yang berkembang, dan sebagainya.

Sayangnya, makna Islami ini nampaknya belum meresap hingga ke akar pemikiran. Pelaku-pelaku jurnalisme Islami masih dibingungkan oleh dikotomi Islami dan tidak Islami. Pertanyaan yang muncul masih seputar boleh tidaknya memasang foto dan kartun atau cukup menggunakan ornamen, atau yang sejenisnya. Jurnalisme Islami masih sekadar mengabarkan kegiatan-kegiatan lembaga dakwah dan menyampaikan cerita-cerita tokoh Islam, sementara jurnalisme umum (jika memang perlu ada dikotomi) sudah beranjak pada berbagai wacana.

Ide memunculkan gagasan jurnalisme Islami juga belum diikuti dengan pencetakan generasi pendakwah yang total terjun dalam dunia jurnalistik. Para tokoh yang akhirnya terjun ke dunia jurnalisme Islami kampus ketika itu umumnya adalah aktivis dakwah secara umum yang menjadi bagian dari divisi media. Mereka ‘nyambi’ dengan berbagai tugas dan mempelajari dunia media hanya sebagai passion atau hobby. Mereka lebih cocok disebut penulis ketimbang jurnalis yang memahami dan memegang kode etik.

Tak berniat membandingkan, tapi ini mungkin menjadi sebuah gambaran perlunya dedikasi dalam menekuni dunia jurnalistik. Saya masih ingat, suatu hari seorang jurnalis kampus kami mengadakan janji temu dengan seorang wakil dekan. Di sela kuliah yang padat, ia menunggu sang wakil dekan tepat di depan ruangan kantornya. Kami sedang menelisik pembangunan fasilitas kampus yang dirasa kurang representatif.

Perempuan yang ditunggu asik mengobrol di telpon dan tampak menyibukkan diri. Ada dilema antara tetap menunggu atau mengerjakan shalat terlebih dahulu. Beruntung, satu mata kuliah kosong. Personil kami mendapat bala bantuan sehingga ia dapat beribadah. Hingga ibadah selesai, sang wakil dekan belum juga nampak keluar dari ruangan. Padahal, di tengah menunggu itu, tepat ketika hendak beribadah, si jurnalis kehilangan perangkat selularnya. Dedikasi sebagai jurnalis kampus yang total memaksa dia menekan kegalauan akibat di perangkat itu ada pulsa amanah dari organisasi senilai beberapa ratus ribu rupiah. Ia tak beranjak hingga si ibu keluar dan mengatakan tak dapat melayani wawancara, menepati janji wawancara, sebab sudah terlambat mengikuti rapat. Barulah, ketika si ibu ngacir, teman kami berusaha mencari kembali perangkat tersebut.

Di lain waktu, salah seorang personil kami pernah membuat janji wawancara dengan salah satu jurnalis lembaga dakwah kampus. Dia diminta menjadi salah satu narasumber. Seusai kuliah, dia sudah menunggu di tempat yang dijanjikan 30 menit lebih awal. Katanya menunggu itu lebih baik daripada ditunggu yak an? Hingga waktu janjian berlalu, sang jurnalis tak jua datang dengan alasan shalat terlebih dahulu. Personil kami masih menunggu hingga satu jam berlalu.

Dia akhirnya memutuskan pulang setelah menunggu sekitar 1,5 jam. Di tengah perjalanan, tiba-tiba si jurnalis kembali menghubungi dia. Dia akhirnya berhenti di tengah perjalanan, masuk ke sebuah toko buku, dan meminta si jurnalis menemuinya di situ.

Personil kami kembali menunggu. Setelah 1,5 jam berikutnya (jadi total sekitar 3 jam), si jurnalis akhirnya mengatakan tidak jadi melakukan wawancara dengan alasan yang sangat tidak masuk akal bagi seorang jurnalis kampus, yaitu: mengerjakan projek katering.

Cerita di atas bukan pembandingan antara jurnalis umum dan jurnalis ‘Islami’. Ini hanya penggambaran bagaimana dua orang yang sama-sama bergerak di bidang jurnalistik, namun diproses secara berbeda menghasilkan perbedaan yang sangat signifikan. Dedikasi, semangat mendapatkan informasi, disertai etika jurnalistik yang baik inilah yang tidak ditemukan dari kader-kader jurnalis ‘Islami’ yang saya temui ketika itu.

Jurnalisme Islami masih menjadi sempilan di antara agenda-agenda dakwah yang menumpuk. Ia belum diperhitungkan sebagai salah satu bagian vital yang harus digarap secara serius.

Penambahan huruf –i pada kata Islam menunjukkan suatu sifat yang sesuai dengan ajaran agama tersebut. Maka, jurnalisme Islami hendaknya bermakna jurnalisme yang secara prinsip sesuai dengan ajaran Islam. Jurnalisme Islami hendaknya jujur, berkata benar, memihak yang benar, mengutamakan klarifikasi (tabayun), tidak menuduh, tidak menghasut, disertai niat dan tata cara yang baik, dan sebagainya. Inilah yang seharusnya tampak dari media-media Islam saat ini sebagai buah gagasan jurnalisme Islami bertahun-tahun yang lalu.

Sayangnya, dapat kita lihat di masa ini agama menjadi satu alat propaganda yang empuk. Budaya menuduh, menghasut, dan bergosip tumbuh subur di media-media yang mengatasnamakan Islam. Dalam jurnalisme (umum), haram hukumnya menyebut seorang terduga sebagai tersangka, apalagi terdakwa. Ada kode etik yang mengikat, yang bisa menyebabkan seorang jurnalis masuk penjara hanya karena salah dalam menyebut atau lupa menyertakan kata ‘diduga’.

Namun, banyak media bernafaskan (atau mengatasnamakan) Islam justru dengan mudah mencampuradukkan dugaan dengan dakwaan, mencampurkan isu atau gossip dan asumsi dengan fakta. Banyak media berkonten ‘Islam’ juga tak mampu membedakan mana berita mana opini. Ada pula kasus di mana pernyataan seorang tokoh hanya diambil secuplik dengan lead yang sudah sangat berbeda dengan apa yang dimaksudkan narasumber. Ini ditambah lagi dengan pernyataan dari tokoh lain yang seakan sengaja asal ditempelkan begitu saja.

Tidak jelas diketahui apa motif dibalik pengembangan media-media seperti ini. Namun, anehnya, media-media ini menjadi favorit dan seringkali dijadikan acuan di tengah surutnya kepercayaan terhadap media mainstream. Padahal, media membawa tanggung jawab edukasi bagi mereka yang membacanya. Dengan edukasi dari media-media seperti ini, tak aneh jika masyarakat Islam yang berkembang di kemudian hari menjadi mudah panas, mudah terprovokasi, seringkali lupa tabayyun, seringkali percaya bahkan andil dalam menyebarkan hoax, dan sejenisnya.

Media-media mainstream (dengan prinsip jurnalisme umum) tak luput dari kesalahan. Namun, media Islami telah sampai pada suatu tahap untuk berbenah diri. Peran media hendaknya tak hanya dipandang sebagai fungsi sempilan semata. Ia ibarat pisau yang dapat memotong dengan rapi, membunuh dengan keji, bahkan menggores tangan sendiri. Jurnalisme Islami, jika memang perlu dikembangkan, hendaknya lebih baik daripada jurnalisme yang telah berkembang secara umum. Ia hendaknya membersihkan cacat-cacat yang menyebabkan media mainstream kehilangan kepercayaan padanya. Ia semestinya lebih mencerahkan. Dan, ia tak lepas dari kode etik yang berfungsi menjaga perilaku dan melindungi jurnalis serta mewadahi kebutuhan pembaca akan muatan yang mencerahkan.

Jurnalistik tak cukup dipelajari sepintas lalu. Idealisme-idealisme dalam jurnalistik tak cukup ditanamkan sekali dua kali hunusan. Pengembangan media Islam hendaknya digarap dengan lebih serius dengan mencetak orang-orang yang memang berdedikasi dalam bidang jurnalisme Islam. Jika ini telah diterapkan, boleh kita bersabar sebentar dan memundurkan target untuk mendapatkan media-media Islam yang mencerahkan pada 10 atau 20 tahun mendatang.

Jakarta 07 Februari 2016

 

Membuat Nyaman Diri Sendiri

Bekerja sebagai wartawan memaksa kita untuk berinteraksi dengan orang lain sebanyak mungkin. Kita juga dipaksa memasuki lingkungan yang seringkali tidak sesuai dengan karakter atau minat pribadi. Wajar jika seringkali kita harus merasa tidak nyaman baik dengan orang, tempat, maupun situasi yang kita hadapi.

Sebagian orang yang cenderung extrovert akan lebih mudah menghadapi situasi ini. Saya sendiri pada dasarnya seorang dengan kepribadian introvert. Perlu kedekatan dan rasa nyaman tersendiri untuk bisa benar-benar bisa menyatu dengan kondisi di sekitar.

Beberapa contoh suasana yang kadang membuat saya tidak nyaman, misalnya ketika menghadapi suasana sangat formal. Contohnya riilnya ketika harus meliput acara serah terima jabatan yang hanya dihadiri oleh pejabat tingkat atas suatu perusahaan. Mereka akan berpakaian sangat resmi dengan balutan jas atau batik dan berbincang dengan etika bisnis yang kental. Rasa segan, males (kadang saya merasa terlalu banyak basa-basi dalam situasi seperti itu), dan sebagainya berbaur menjadi satu.

Contoh lainnya adalah ketika harus berbincang dengan pejabat setingkat kasat. Seorang kasat yang saya temui ketika itu sangat terbuka, namun tak lepas mengatakan “Kalau soal itu kita tidak bisa ungkap, karena terkait dengan aturan bla bla bla…”Pejabat lain cenderung becanda sembari mengelak-elak. Suasana ini menjadi tidak nyaman ketika saya baru pertama kalinya menginjakkan kantor polisi selain urusan tilang dan mengurus pajak kendaraan.

Contoh lainnya? Misalnya ketika saya harus duduk di antara beberapa waria yang sedang ‘bekerja’ menjajakan diri. Saya punya rasa hormat tersendiri kepada waria atas pilihan hidup mereka. Tapi berada di antara mereka ketika sedang bekerja, melihat tingkah mereka, membuat saya (dan mungkin juga Anda) canggung.

Contoh lain lagi yang baru tadi saya alami adalah menonton futsal. Saya datang sendirian, di dalam ada hampir 100 pria bermain dan menonton pertandingan. Tidak ada seorang pun yang saya kenal. Setelah beberapa menit berada di dalam, saya melihat beberapa perempuan juga ada di dalam. Bedanya, mereka umumnya sudah punya kenalan entah suami, pacar, atau rekan kerja, saya tidak.

Banyak sekali situasi awkward yang harus dihadapi seorang wartawan, apalagi jika pada dasarnya dia seorang introvert. Solusi termudah adalah berubah menjadi seorang ekstrovert. Namun, kondisi ini tidak selalu mudah. Kondisi-kondisi baru akan selalu ditemui dan membuat kita harus keluar dari comfort zone.

Hal mendasar yang perlu dipahami mungkin bisa saya berikan contoh di bawah ini:

  1. Pastikan kita mengetahui konteks acara dan siapa yang datang. Bila kita benar-benar belum mendapatkan informasi, amati. Kita juga bisa bertanya kepada panitia atau peserta yang hadir. Ini sekaligus membantu kita ‘mencari kawan’ dalam situasi serba baru.
  2. Pastikan kita tahu narasumber yang akan kita temui. Orang atau orang-orang inilah sumber dari segala informasi yang kita perlukan.
  3. Temui sumber dan lakukan wawancara.
  4. Ambil foto jika perlu.
  5. Tugas selesai. Selebihnya adalah bumbu-bumbu liputan, misalnya mengikuti seminar acara sampai selesai (mungkin kita menghadiri seminar yang dapat menambah pengetahuan kita), mencoba produk atau layanan yang ditawarkan di acara tersebut, kenalan dengan orang baru, makan-makan, dan sebagainya.

Salah satu unsur penting dari upaya membuat nyaman diri sendiri adalah menghilangkan penghalang yang membuat kita merasa canggung. Ini bisa dilakukan dengan –menurut hemat saya- melebur atau memisahkan diri. Teknik melebur biasanya saya pakai ketika lingkungan itu memungkinkan kita untuk terlibat, misalnya ikut menjadi peserta, menjadi bagian dari panitia, dsb. Sementara, teknik memisahkan diri biasanya saya pakai ketika saya sulit terlibat dalam situasi yang ada. Saya akan membuat diri sendiri nyaman dengan berbagai cara, misalnya menganggap orang-orang di sekitar saya tidak ada (seakan hanya ada saya dan narasumber, atau dalam konteks pertandingan saya seakan menonton acara itu sendirian), menganggap semua orang juga sibuk dengan urusan masing-masing, begitu juga saya, dsb.

Soal Alat Liputan (2): Alat Mencatat

Nah, masih soal alat liputan, kemarin kita sudah membahas tentang alat rekam baik yang konvensional maupun modern, yang khusus alat rekam maupun yang smartphone. Apalagi yang perlu kita siapkan kalau liputan? Masih banyak. Yang pasti persiapan diri #ehhh

Di tulisan ini saya akan membahas soal catatan. Fungsi catatan hampir sama dengan rekaman, untuk membantu ingatan dan menjadi barang bukti (barbuk). Menurut saya, catatan itu less autentic karena kadang kita mencatat tidak sepenuhnya sama dengan ucapan narasumber. Kita tidak mendapatkan gambaran mimik wajah, nada bicara, dan sebagainya. Nah kalau rekaman suara, kita bisa mendengar nada bicara. Kalau rekaman video kita bisa melihat mimik wajah. Biar apa? Untuk mendukung interpretasi dari pernyataan yang dikeluarkan.

Catatan yang saya maksud di sini adalah catatan tangan atau ketikan kita sendiri ya, bukan data yang diberikan narasumber dalam bentuk tulisan. Nah, catatan ini ada macam-macam. Ada yang mencatat detail perkataan, ada yang mencatat poin-poin saja, ada juga mencatat detail perkataan inti.

Orang dulu notabene diberi kemampuan mencatat tingkat dewa. Mereka biasanya menggunakan teknik menulis cepat yang disebut stenografi. Bentuk tulisannya hanya garis-garis saja. Ada pakem-pakem untuk membuat tulisan yang sudah singkat itu menjadi lebih singkat lagi, misalnya huruf tertentu akan dihilangkan ketika bertemu huruf lain. Kalau dengan steno, saya yakin deh wartawan dulu bisa mencatat detail perkataan narasumber walau dengan tulisan tangan.

Nah wartawan sekarang banyak yang tidak bisa steno, contohnya saya, hehe. Saya pernah diajari stenografi tapi sampai sekarang belum bisa. Dulu belum bisa, sekarang lupa, hehehe.. Keahlian orang zaman sekarang itu mengetik. Karena itu banyak wartawan memilik metode ketik cepet alias tikpet, seperti pernah saya tulis sebelumnya.

Ada yang bisa tikpet kuenceng, sehingga bisa mencatat detail perkataan. Ada juga yang tikpetnya agak lama, sehingga mencatat detail perkataan inti. Ada juga yang tikpetnya berantakan sehingga banyak yang disingkat atau pernyataan yang hilang (biasanya karena kurang konsentrasi atau narasumber bicara terlalu cepat). Dalam mencatat perlu kehati-hatian untuk mendapatkan detail yang benar. Perlu konsentrasi sehingga bisa mencatat dengan benar. Perlu pendengaran yang tajam juga agar tidak banyak tertinggal.

Dengan apa biasanya kita mencatat? Di zaman serba digital banyak wartawan pilih memanfaatkan smartphone. Mencatat dengan smartphone perlu kehati-hatian, terutama dalam memilih aplikasi dan keypad. Jika menggunakan keypad digital, berdasarkan pengalaman saya, layar yang agak lebar penting agar keypad tidak terlalu rapat dan jari tidak terkesan kegedean. Kalau kondisi ini terjadi, kadang ketikan jadi salah-salah. Selain itu, aplikasi catatan juga penting. Ada aplikasi catatan yang memakan memori dan energi. Kalau kita mengetik dengan aplikasi seperti ini, baterai smartphone akan cepat habis.

Banyak wartawan susah lepas dari Blackberry walaupun gadget ini mahal (jika dibandingkan dengan spek yang ditawarkan) dan hardwarenya rapuh. (((rapuh))). Kenapa? Ini zaman serba cepat. Selain mengetik cepat, wartawan juga perlu mengirim berita dengan cepat. Smartphone satu ini masih menguasai kedua fungsi di atas. Beberapa hp lain dengan keypad fisik qwerty kurang bagus performa koneksi internetnya. Saya termasuk yang masih menyukai keypad fisik qwerty. Beberapa teman merasa nyaman dengan keypad digital dari Android.

Pilihan alat mengetik lain adalah tablet. Kelebihan tablet adalah menggabungkan laptop dan smartphone. Bentuknya yang cenderung lebih kecil dari laptop menjadikannya lebih portable, apalagi kalau mengingat pekerjaan yang mobilitasnya tinggi. Membawa laptop ke mana-mana bikin punggung dan bahu pegel juga. Nggak kebayang videografer dan fotografer yang nenteng kamera dan laptop ke mana-mana.

Ada satu lagi yang menentukan alat mencatat yang perlu dibawa, yaitu kondisi liputan. Ketika di jalan atau tempat umum, kadang orang tidak nyaman dengan adanya alat rekam atau buku catatan. Yah, kalau masih bisa diingat-ingat, cukup mengandalkan ingatan. Kalau di pasar, misal ada data tertentu yang perlu dicatat, notebook bisa dijadikan alternatif. Pada kondisi doorstop, kita butuh alat yang bisa dipegang. Hp dan smartphone bisa dijadikan pilihan. Kalau di acara seminar yang memungkinkan kita duduk di kursi dan ada meja, kita bisa menggunakan smartphone, buku catatan, atau tablet. Nah, kalau di acara besar yang ada press roomnya, kita bisa bawa laptop dan semua alat lengkap.

Laptop seperti apa? Kalau saya suka yang layarnya lebar karena lebih nyaman untuk mata. Tapi kalau untuk dibawa-bawa tentu layar kecil lebih ringan. Buku catatan yang seperti apa? Saya lebih suka memakai buku catatan yang kecil, tapi tidak terlalu kecil sekali. Ukuran A5 buat saya sudah terlalu besar. lebih enak lagi kalau notebook itu bisa digenggam, sehingga kita bisa mencatat sembari berdiri.

Apakah kalau sudah mencatat tidak perlu merekam?

Seperti saya tulis sebelumnya, bagusnya sih mencatat dan merekam. Semakin banyak sumber yang bisa pakai. Kelemahan mencatat ada pada kelengkapannya, terutama ketika kita kurang bisa mengimbangi kecepatan bicara narasumber. Nah, kelemahan merekam adalah kita harus memutar ulang dan mendengarkan kembali. Sepertinya simpel, tapi kadang membosankan dan bikin ngantuk, hehe. Nah kalau kita merekam sembari mencatat, kita bisa menggabungkan keduanya.

Kalau tidak punya alat rekam apa cukup mencatat?

Wartawan-wartawan senior banyak yang hanya berbekal buku catatan. Sebagai alat bantu ini sudah cukup. Tapi kalau mau lebih valid, pakailah alat rekam.

Nah sekian dulu tulisan saya yang rada sok tahu, hehe. Semoga bermanfaat.

Liputan: Antara Pers Kampus dan Realita

Zaman kuliah dulu, yang namanya liputan di benak saya adalah menemui Dekan, pejabat fakultas, pengurus ormawa atau mahasiswa, lalu wawancara dan membuat tulisan. Kadang saya juga datang ke suatu acara.

Beberapa tahun setelahnya, saya mendaftar di media profesional (maksud saya sudah bukan di pers mahasiswa lagi). Salah satu pertanyaan yang diajukan oleh tim redaksi ketika itu adalah, “Saya tahu kamu sudah punya pengalaman di dunia jurnalistik kampus. Tapi dunia jurnalistik kampus dengan kenyataannya di lapangan kan berbeda,” kata salah satu di antaranya.

“Sangat berbeda,” kata yang lain.

“Apakah kamu siap?”

Dulu, ketika menjawab pertanyaan itu, tentu saja saya bilang saya siap. Saya katakan bahwa saya tahu resiko menjadi jurnalis dan saya siap menghadapinya (padahal tidak yakin sepenuhnya hahaha). Dalam hati, saya penasaran yang dimaksud berbeda, bahkan sangat berbeda itu seperti apa?

Ketika akhirnya diterima dan menjalani liputan, saya akhirnya sedikit tahu bedanya. Sedikit ya, karena saya juga baru setahun menjalani pekerjaan ini. Di kampus yang notabene ruang lingkupnya kecil, apalagi hanya di fakultas, ruang untuk bertemu menjadi lebih banyak. Apalagi semuanya masih menjadi akademisi. Maka, wawancara via telpon sebisa mungkin dihindari. Dihindari, bukan haram. Untuk kondisi-kondisi tertentu tentu saja hal ini masih bisa di tempuh.

Sementara, di dunia jurnalistik sebenarnya, ruang lingkup yang ada sangat luas. Dalam sehari kita bisa diminta untuk menghubungi lebih dari 10 orang atau datang ke lebih dari dua acara. Karena itu, wawancara by phone adalah hal yang sangat wajar.

Apakah wawancara by phone itu sopan? Menurut saya, tergantung. Dari sisi jangkauan, kalau Anda bisa menjangkau narasumber dalam waktu singkat, kenapa harus wawancara by phone? Dengan bertemu langsung, narasumber akan lebih mengenali kita dan pembicaraan dapat berkembang tidak hanya pada satu titik yang kita rencanakan. Nah, jika narasumber sulit dijangkau, entah karena jarak atau waktu atau tumpukan tugas masing-masing, wawancara by phone menjadi sesuatu yang wajar. Tokoh-tokoh yang sudah biasa bertemu wartawan akan sangat biasa mendapati telpon dari orang yang belum dikenal dan mengaku sebagai wartawan. Bahkan, ketika kita langsung menodong dengan pertanyaan, ia biasanya akan langsung menjawab.

Sopan atau tidak juga terkait dengan banyak hal, misalnya pertanyaan yang diajukan dan bahasa yang digunakan. Ini sih aturan umum tidak hanya dalam wawancara by phone, tapi juga wawancara secara umum. Kalau pertanyaan kita cenderung menuduh, memojokkan, menempatkan narasumber pada posisi bersalah, tentu namanya tidak sopan karena kita menunjukkan keberpihakan. Apalagi kalau status seseorang masih terduga, kemudian kita beri perlakukan sebagai tersangka.

Selain wawancara by phone, perbedaan lain yang ditemui ketika liputan pers umum adalah seringnya doorstop. Ini banyak terjadi ketika kita bekerja menjadi wartawan berita, terutama harian. Kalau kita bekerja di Majalah, terkadang kita akan lebih banyak melakukan wawancara eksklusif.

Apa itu doorstop? Jujur, awal masuk di perusahaan pers saya tidak tahu apa itu doorstop. Tapi ya dikira-kira saja, door = pintu. stop = berhenti. Berhenti/memberhentikan di pintu, alias menghadang. Suasananya persis yang tampak di tivi-tivi. Para wartawan memberhentikan narasumber dan mengerumuninya, melakukan wawancara bersama-sama. Doorstop memang biasa dilakukan di pintu masuk atau keluar. Ketika narasumber baru datang misalnya, ia akan langsung dikerumuni wartawan dan diberondong berbagai pertanyaan. Begitu juga ketika acara telah selesai. Tak jarang wawancara dilakukan sambil berjalan, hingga narasumber masuk ke mobil. Bukan tidak mungkin juga narasumber meminta kita masuk ke mobil dan melakukan wawancara di tengah perjalanan.

Apalagi ya yang berbeda? Banyak sih tapi mendadak hilang (apa sih). Skip-skip. Salah satu hal yang berbeda dalam dunia pers kampus dan realita adalah materi yang harus kita pelajari. Terutama ketika bekerja di media harian yang menyangkut berbagai bidang, apalagi kalau perusahaan tidak menerapkan spesifikasi bidang untuk wartawan, kita harus berjuang untuk memahami materi di berbagai desk. Dalam sebulan, Anda bisa saja berganti desk dua kali. Ini pernah saya dan beberapa teman alami ketika bulan puasa tahun lalu.

Ketika itu, saya ditempatkan di divisi online. Beritanya bebas sih, tergantung perintah redaktur. Kadang saya me-running berita politik nasional, sosial, internasional, gaya hidup, dan sebagainya. Dua minggu kemudian, memasuki bulan Ramadhan, saya “dipinjam” untuk membantu di desk agama. Di sini saya disuguhi Sirah Nabawiyah dan sebagian kumpulan hadits. Tugasnya sederhana, hanya menyarikan materi dari buku-buku yang ada dan menuliskannya dalam cerita. Saya juga mendapat tugas lebih ringan untuk membuat cerita nabi dan sahabat, yang segmennya anak-anak. Namun, beban moralnya luar biasa apalagi terkait dengan firman Tuhan dan sabda Rasul.

Ada juga seorang teman yang setelah di desk hukum ditempatkan di ekonomi, setelah politik lalu olahraga, dan sebagainya. Yah, siap-siap saja. “Rolling” can be like a roller coaster. It can be a fun news, but it can be full of tears. Hahaha, mulai lebai.

Narasumber yang berbeda, lingkungan yang berbeda, ruang lingkup tugas yang berbeda juga memaksa kita melakukan persiapan yang berbeda dengan alat yang mungkin berbeda. Nah, untuk persiapan dan alat, nanti akan saya tuliskan di artikel selanjutnya. Hanya berbagi, bukan menggurui. Hanya cerita, bukan teori. Tabik!